Ceramah Master Cheng Yen: Keselarasan Empat Unsur Adalah Berkah bagi Dunia

“Master berkata bahwa reboisasi harus dilakukan agar gunung tidak mudah longsor. Jadi, kita harus berusaha agar gunung dan tanah tidak mudah longsor. Untuk itu, kita berusaha menanam pohon. Saya menanam pohon di sini sebagai wujud rasa terima kasih terhadap tanah ini yang telah mengizinkan saya selama ini dapat membesarkan anak dan membayar utang suami saya. Kini saya tak akan menanam tanaman pangan lagi. Saya akan menanam pohon untuk memulihkan alam sebagai tanda terima kasih kepadanya yang telah memberi saya panen yang baik. Benar, saya sangat bersyukur,” ujar Zhuo Bu-die, relawan Tzu Chi.

Kita melihat orang yang menjalankan kebenaran. Relawan itu berada di Taimali, Taitung. Dia telah membentuk sebuah hutan di sana. Dahulu, orang-orang menebangi pohon dan membuka lahan di gunung untuk bercocok tanam demi keuntungan ekonomi. Akibatnya, banyak pohon ditebangi demi membuka lahan untuk menanam sayuran. Hal ini sering kita dengar.


Begitu pula kondisinya saat saya berkunjung ke Nantou. Karena itu, banjir yang terjadi puluhan tahun ini selalu menyebabkan bencana besar. Namun, sosialisasi juga terus dilakukan agar reboisasi dapat dijalankan. Perlahan-lahan, orang-orang pun sadar dan memahami bahwa penebangan pohon demi manfaat ekonomis semata adalah konsep yang salah. Mereka hanya menikmati keuntungan jangka pendek, tetapi kerusakan hutan yang terjadi membuat fungsi konservasi tanah dan air ikut rusak sehingga menyebabkan bencana.

Setelah menyadari kesalahan ini, mereka mulai melakukan reboisasi. Yang membuat saya terhibur ialah selama sepuluh sampai dua puluh tahun ini, kita mendengar reboisasi perlahan-lahan dijalankan. Jadi, ini juga mengharukan.

“Pohon di daerah ini adalah pohon aras dupa, baru ditanam tahun ini sehingga masih kecil. Saya merawatnya dengan sepenuh hati. Sekarang saya memberinya pupuk tiga kali sehingga bisa tumbuh sebesar ini. Jika tidak, ia hanya segini. Jika di sini basah, saya akan memberinya sedikit pupuk. Ia tumbuh menjadi lebih besar. Ini seperti membesarkan anak. Mereka bertumbuh. Kami ingin memulihkan kondisi alam. Menanam pohon lebih baik bagi tanah. Begitu saja. Kami juga tidak ingin menebanginya lagi atau memperoleh panen darinya. Tidak ada pemikiran seperti itu. Saya menanam pohon pinang sebagai pembatas. Di dalamnya, saya ingin menanam pohon lain. Pohon pinangnya sudah saya tebang. Yang tersisa hanya yang ada di pinggir saja. Master berkata bahwa pinang tidak baik bagi kesehatan. Jadi, saya menebangnya dan menanam pohon lain. Saya juga ingin menjadi murid Master yang baik,” tutur Zhuo Bu-die.

 

Kita mendengar relawan ini berkata bahwa dia ingin menanam pohon lain dan tidak menanam pohon pinang lagi. Dia melakukannya dengan sukarela dan tidak takut akan kesulitan. Ibu ini dan putrinya memiliki hati yang sama. Sebelum berangkat ke luar negeri, putrinya khawatir akan bersalah kepada saya karena tidak dapat terus melakukan daur ulang.

“Saat akan berangkat ke Amerika Serikat, dia terus berkata, "Bu, saya bersalah pada Master karena akan pergi ke AS." Dia belum pernah pergi ke sana sebelumnya, juga tidak tahu di mana bisa melakukan daur ulang. Dia berkata, "Jika berangkat, saya tak bisa melakukan daur ulang. Saya sungguh bersalah pada Master." Saya berkata, "Jika ada kesempatan, Ibu yang lakukan. Kamu tidak perlu khawatir." Saat itu saya sudah punya mobil. Saya berkata, "Ibu akan mengangkut barang daur ulang." Saya terus melakukannya hingga sepuluh sampai dua puluh tahun seperti sekarang,” kata Zhuo Bu-die.

Ibu dan anak ini memiliki hati yang sama. Ibunya juga memikul tanggung jawab ini. Di Amerika Serikat, putrinya juga tidak berhenti melakukan daur ulang. Di Amerka Serikat, dia juga menemukan orang-orang yang semisi dengannya. Mereka menyayangi alam. Mendengar perkataan saya, mereka merasa sangat masuk akal. Orang-orang yang bijaksana mengetahui jalan yang benar. Dia mengetahui jalan yang benar. Dia memandang jalan ini sebagai arah kehidupannya.

 

“Ini adalah cucu saya. Saat pulang pada hari Sabtu, dia bertanya, "Nek, besok ada mengangkut barang daur ulang?" Setiap kali selalu begitu. Saya sudah tua sehingga tangan saya tidak begitu bertenaga. Jika cucu saya tidak pulang, para tetanggalah yang membantu saya. Terima kasih, terima kasih. Saya sepertinya tidak ingin mengaku tua. Saya bilang saya menitipkan 50 tahun kepada Master sehingga saya baru berusia 25 tahun. Jika tidak melakukan ini sejak muda, mau tunggu sampai kapan? Semoga Bodhisatwa memberi saya kekuatan dan tubuh yang sehat. Saya telah bertekad untuk melakukannya. Saya melakukannya dengan sukarela dan sukacita,” kata Hong Shuhui, relawan Tzu Chi di Quanzhou.

Hidup di bumi ini, kita dapat membungkukkan badan untuk memungut barang daur ulang yang dibuang orang lain, entah itu kantong plastik, botol, atau kaleng. Kita mendaur ulang barang-barang itu agar bumi menjadi lebih bersih. Dengan mengumpulkan botol dan kaleng, hasil dari kegiatan daur ulang ini juga bisa membantu orang.

Terlebih lagi, para nenek dan ibu ini melakukannya dengan gembira. Jika hidup sendirian, mereka akan merasa bosan. Saat berkumpul dengan orang-orang yang semisi dalam melindungi dan menolong bumi, mereka akan merasakan pencapaian. Mereka semua memiliki tekad yang sama. Mereka juga bertutur kata baik. Mereka dapat berbagi cerita saat memiliki kerisauan dan akan ada orang yang memberi nasihat sehingga mereka dapat berpikiran terbuka.

 

Sepulangnya ke rumah, mereka merasa bahagia. Mertua bisa berterima kasih kepada menantu. Menantu merasa mertuanya penuh kehangatan. Dengan begitu, keluarga juga akan harmonis. Jadi, kegiatan ini membawa kerukunan bagi keluarga dan menguraikan kerisauan banyak orang. Mereka dapat membersihkan sampah batin mereka serta membuang noda dan kegelapan batin sendiri. Mereka dapat berpikiran terbuka sehingga keluarga mereka kembali penuh canda tawa.

Kisah keluarga yang berubah seperti ini banyak kita dengar. Keluarga yang tadinya sering cekcok, kini menjadi sangat rukun dan penuh kehangatan. Belakangan ini saya sering mendengar relawan kita menceritakan kisah seperti ini. Ini adalah hal yang membahagiakan. Di dunia ini, perubahan iklim sudah sangat besar. Jadi, manusia harus hidup berdampingan dengan damai. Ini akan membawa kehangatan.

Kehangatan dunia seperti ini akan membuat alam lebih selaras. Ketenteraman seperti ini adalah berkah. Mengenai keselarasan alam, saya sering berkata bahwa keselarasan empat unsur adalah berkah bagi dunia. Bodhisatwa sekalian, kita harus berdoa dengan tulus semoga dunia kita harmonis dan empat unsur selaras. Dengan demikian, barulah manusia benar-benar merasakan berkah.

Jangan hanya memikirkan keuntungan jangka pendek yang mendatangkan bencana
Memulihkan hutan dan mengembalikan potensi kehidupan
Berlatih ke dalam dan ke luar diri demi menyucikan dunia
Keselarasan empat unsur adalah berkah bagi dunia

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 06 Maret 2021    
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 08 Maret 2021
Setiap manusia pada dasarnya berhati Bodhisatwa, juga memiliki semangat dan kekuatan yang sama dengan Bodhisatwa.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -