Ceramah Master Cheng Yen: Ladang Pelatihan Ada di Mana-Mana


“Kini, saya mengalami spondilosistesis dan masalah di kedua kaki saya sehingga tidak bisa berjalan,” kata Bapak Tu, penerima bantuan.

“Sebelumnya, saat keluar dari rumah, beliau hanya bisa merangkak di atas tanah,” kata Luo Shi-fen, relawan Tzu Chi.

“Dalam proses berlatih, kita bisa melihat senyuman di wajahnya. Saya sendiri pun sangat terharu. Senyuman orang-orang adalah pemandangan terindah. Itulah yang paling ingin dilihat oleh kami para relawan,” kata Chen Ru-yi, relawan Tzu Chi.

“Kursi roda ini dapat menggantikan kedua kakinya untuk membawanya ke berbagai tempat dan melihat pemandangan di luar sehingga dirinya tidak terjebak di dalam tempat tinggalnya,” kata Liu Kai-xin, relawan Tzu Chi.

Saat menyaksikan rekaman video tentang alat bantu, saya selalu sangat bersyukur. Dengan kebijaksanaan, kalian membawa manfaat bagi masyarakat. Dahulu, saya sama sekali tidak tahu bahwa alat-alat bantu ini bisa didaur ulang.

Para anggota komite dan Tzu Cheng penuh dengan semangat untuk membawa manfaat bagi umat manusia dan mengembangkan kebijaksanaan untuk mengumpulkan alat bantu, mencucinya hingga bersih, mengencangkan sekrup yang longgar, dan memperbaiki setiap bagian yang perlu diperbaiki. Kita membersihkan, merapikan, dan menyimpannya dengan baik sehingga saat ada yang membutuhkan, kita dapat mengirimkannya ke rumah mereka.

“Platform Alat Bantu Tzu Chi menjangkau berbagai wilayah terpencil. Hari ini, kami berada di wilayah pegunungan,” kata Fang Miao-fei, relawan Tzu Chi.

“Ibu saya telah berusia 86 tahun. Beliau semula agak sulit untuk bangun dari ranjang. Mungkin karena memaksakan diri untuk bangun, beliau mengalami cedera pada tulang punggung bawah. Saat dibawa ke rumah sakit, dokter berkata bahwa beliau mengalami osteoporosis yang sangat serius sehingga harus mengenakan penyangga punggung,” kata Shang Hui-fen, keluarga pasien.

“Kini, pinggangnya sangat sakit. Bangun untuk berjalan saja sangat sulit. Karena itu, kami meminta bantuan kepala desa untuk mengajukan permohonan ranjang elektrik ke Tzu Chi agar beliau lebih mudah untuk bangun,” kata Shang Hui-fen.

“Saat ini, sudah ada lima keluarga di Desa Laiji yang menerima bantuan berupa alat bantu dari Tzu Chi. Saya sangat berterima kasih atas bantuan Tzu Chi,” kata Wu Zheng-qing, Kepala Desa Laiji, Alishan.


Kita menyediakan alat bantu bagi yang membutuhkan. Sebagian warga lansia dirawat oleh keluarga mereka karena sakit. Menggendong mereka, membantu mereka duduk, dan memapah mereka, semua itu tidaklah mudah. Dengan adanya alat bantu, baik yang elektrik maupun manual, mereka dapat hidup lebih nyaman. Tidak semua orang bisa berbuat demikian.

Orang-orang yang menderita itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan kita, tetapi kita berinisiatif untuk mengunjungi mereka dan memberikan penghiburan. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang menerima bantuan. Tanpa mereka katakan, kita pun bisa membayangkannya.

Setelah kita merapikan rumah mereka dan menaruh alat bantu di tempat yang seharusnya, rumah mereka pun terlihat cemerlang. Apakah penerima bantuan merasa sukacita? Kita hendaknya bisa merasakannya dengan hati kita. Penerima bantuan mungkin tidak pandai berbicara atau tidak terpikir untuk berterima kasih kepada kita, tetapi jika mereka terlihat sukacita, kita pun akan merasa tenang. Jadi, kita hendaknya bersyukur kepada diri sendiri.

Saya sering berkata bahwa kita harus menginventarisasi nilai kehidupan. Setelah menuntaskan satu kebajikan, kita akan menyadari bahwa melakukan kebajikan membuat hati kita sangat nyaman. Yang melakukannya bukan hanya satu orang, melainkan beberapa orang. Butuh tiga hingga empat orang untuk memindahkan alat bantu dari lantai atas ataupun lorong-lorong. Beberapa orang ini hendaknya saling bersyukur. Misi kita bisa dijalankan dengan baik berkat adanya Anda, dia, dan saya.

Hendaklah kita menginventarisasi perbuatan diri sendiri dan bersyukur kepada orang lain. Bersyukurlah kepada diri sendiri dan orang-orang yang telah bekerja sama dengan kita. Mari kita saling bersyukur. Kita bersyukur dapat bersumbangsih hingga dipenuhi sukacita dalam Dharma. Ini bukanlah sukacita biasa, melainkan sukacita dalam Dharma. Inilah praktik Bodhisatwa.

Meski orang-orang yang membutuhkan tidak memiliki hubungan apa pun dengan kita dan yang merasakan penderitaan adalah mereka sendiri, tetapi kita selalu memandang penderitaan semua makhluk sebagai penderitaan sendiri. Kita tidak tega melihat makhluk lain menderita. Karena itulah, kita berinisiatif untuk melenyapkan penderitaan mereka. Mereka pasti merasa sukacita. Setidaknya, mereka bisa beraktivitas dengan lebih leluasa tanpa kebentok sesuatu. Terlebih pegangan yang kalian pasang bagi orang-orang. Itu sangatlah baik. Itu sungguh sangat bermanfaat bagi kaum lansia.


“Kami menerima 37 kasus di Fengbin, yakni 10 kasus di Haciliwan dan 27 kasus di Jiqi,” kata Jiang Yong-fa, relawan Tzu Chi.

“Komunitas Haciliwan di Fengbin berjarak hampir 80 kilometer dari Kota Hualien. Hari ini, kami memasang pegangan sejak pagi hingga sekarang. Setelah pegangan dipasang, setiap warga lansia sangat sukacita,” kata Cai Lin-gong, relawan Tzu Chi.

“Dengan adanya pegangan, saya bisa menariknya. Saat hendak berjongkok, saya juga bisa bertumpu pada pegangan itu. Sangat praktis,” kata Li Wen-zhi, warga lansia.

“Karena kaki saya kurang kuat, saya pernah terjatuh. Saat berdiri, kaki saya tidak bertenaga dan tidak bisa menahan badan saya. Dengan pegangan ini, saya bisa berdiri,” kata Lin Rui-mei, warga lansia.

“Saya sangat berterima kasih kepada Tzu Chi. Terima kasih. Kalian membuat kami merasa tenang saat menggunakan toilet dan kamar mandi,” kata Li Wen-quan, warga lansia.

Saya sendiri pun demikian. Saat masuk ke kamar mandi, saya juga menggunakan pegangan. Saat kita hendak berdiri ataupun duduk, pegangan sangat membantu. Setiap kali menggunakan pegangan, saya selalu teringat akan para Bodhisatwa kita.

Para relawan kita berinisiatif mengunjungi rumah warga dan memeriksa kondisi tempat tinggal mereka. Jika perlu dibersihkan, relawan kita akan membantu membersihkannya. Setelah itu, kita juga menjaga keselamatan mereka dengan memasang pegangan di sepanjang tempat yang dilalui saat berjalan.

“Sebelumnya, saat mandi, saya terjatuh ke belakang. Kepala saya benjol dan siku saya berdarah. Saya sangat berterima kasih kepada Tzu Chi yang memasang pegangan untuk saya,” kata Nenek Lü, warga lansia.

“Yang Tzu Chi lakukan sangatlah baik. Kalian memasang pegangan untuk menjaga keselamatan saya,” kata Nenek Wang, warga lansia.


Bodhisatwa sekalian, apakah kalian bersyukur? Saya sering mengingatkan untuk senantiasa bersyukur. Singkat kata, kita bersumbangsih tanpa pamrih, bahkan dipenuhi rasa syukur. Kita bersyukur satu sama lain.

Pikirkanlah, betapa berharganya Dharma seperti ini, Inilah Dharma. Jika saya hanya membahas tentang Empat Kebenaran Mulia dan Enam Paramita ... Empat Kebenaran Mulia mengajarkan tentang penderitaan, sebab penderitaan, akhir penderitaan, dan jalan mengakhiri penderitaan. Jika saya berkata demikian, kalian akan berkata, "Saya tahu, saya tahu." Apa gunanya?

Bagaimana dengan Enam Paramita? Di Jalan Bodhisatwa, kita mempraktikkan dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Kalian semua telah mendengar ajaran ini, tetapi bisakah kalian menjalankannya?

Sesungguhnya, asalkan arah kita benar, kita pasti bisa menjalankannya. Arah ini, jika menyimpang sedikit saja, kita bisa jauh tersesat. Meski hanya menyimpang sedikit saja seperti ini, kita akan jauh tersesat. Jika arah kita benar, jalan kita pun akan benar. Namun, jika menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat. Jadi, menyimpang sedikit saja bisa membuat kita jauh tersesat. Jagalah hati dan pikiran kita dengan baik agar kita tidak menyimpang dari jalan yang benar.

Bodhisatwa sekalian, kita hendaknya senantiasa menjaga hati dan pikiran kita dengan baik. Jalan Bodhisatwa harus dipraktikkan secara nyata. Yang ada di hadapan saya sekarang ialah Bodhisatwa yang selalu melakukan praktik nyata. Karena itu, saya ingin bersyukur kepada kalian. Asalkan kita berfokus, semuanya merupakan pelatihan diri. Baik pembabaran Dharma maupun pelatihan diri, semuanya ada dalam pikiran dan tindakan kita. Inilah ladang pelatihan kita.

Mengembangkan kebijaksanaan untuk membawa manfaat bagi masyarakat
Memberikan bantuan sesuai kebutuhan dengan cinta kasih agung tanpa syarat
Asalkan bersungguh hati, setiap tempat adalah ladang pelatihan
Senantiasa mempraktikkan Dharma yang benar dan Jalan Bodhisatwa

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 16 Agustus 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 18 Agustus 2026
Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -