Ceramah Master Cheng Yen: Melanjutkan Pelestarian Lingkungan dan Hidup Berdampingan
“Depo Daur Ulang Tzu Chi Jiude sangatlah kecil, tidak besar. Namun, setiap ruang yang ada kami manfaatkan sebaik mungkin. Terkadang, ketika barang yang terkumpul banyak, kami datang untuk melakukan daur ulang. Jika ada waktu luang, kami juga menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk,” kata Hong Su-yang, relawan Tzu Chi.
“Kami berpikir bahwa jiwa kebijaksanaan juga harus terus bertumbuh. Jadi, setiap minggu, kami pun mengadakan kegiatan bedah buku. Di depo pelestarian lingkungan, kami bukan hanya melakukan daur ulang, melainkan juga menjaga jiwa kebijaksanaan para relawan. Oleh karena relawan pelestarian lingkungan begitu tekun, tim konsumsi pun makin berkembang,” lanjut Hong Su-yang.
“Setiap hari, kami menyediakan makanan hangat. Kegiatan daur ulang dilakukan setiap hari. Setiap hari, ada sekitar 30 hingga 40 orang yang datang. Jadi, kami menyediakan makanan hangat setiap hari,” pungkas Hong Su-yang.
“Saya berasal dari wilayah Wufeng. Saya berterima kasih karena Master telah membukakan jalan yang begitu agung bagi kami sehingga kami memiliki jalinan jodoh untuk mengikuti langkah Master dan menapaki Jalan Bodhisatwa,” kata Dai Xue-li, relawan Tzu Chi.
Bodhisatwa sekalian, lewat pelestarian lingkungan, kalian memahami prinsip kebenaran tentang Bumi dan alam. Prinsip kebenaran ini berkaitan dengan konsep daur ulang. Oleh karena kita menjaga lingkungan, kita tidak sampai hati melihat Bumi dirusak dan melihat barang-barang yang masih dapat didaur ulang berubah menjadi sampah. Ketika lingkungan tercemar, udara yang kita hirup pun tidak baik bagi tubuh. Jadi, kita harus memahami bahwa melakukan pelestarian lingkungan berarti menjaga kesehatan manusia.
Sesungguhnya, yang kita jaga bukan hanya Bumi, tetapi juga kehidupan. Saya sering mengatakan bahwa melakukan pelestarian lingkungan berarti menjaga kehidupan yang besar dan kehidupan kita sendiri juga ada di dalamnya. Setiap orang di sini adalah kerabat dan sahabat kita, para Bodhisatwa pelestarian lingkungan.
Setiap orang adalah satu individu. Ketika banyak orang bersatu, terbentuklah masyarakat. Ketika masyarakat ini menyatu dengan Bumi, itulah yang disebut kehidupan besar. Jadi, kita semua menjaga Bumi, masyarakat, dan kesehatan diri sendiri. Apa yang kalian lakukan dalam pelestarian lingkungan benar-benar menghasilkan pahala yang tak terhingga.
Selain itu, melalui pelestarian lingkungan, kita juga membangun hubungan dengan banyak orang. Ketika orang-orang datang untuk berkontribusi, Anda bisa melihat saya dan mengenal saya, saya pun bisa melihat Anda dan banyak orang lainnya. Dengan begitu, kita bisa saling mengenal serta menjalin jodoh baik dengan Bumi dan semua orang.

Dalam ajaran Buddha, kita diajarkan bahwa sebelum mencapai kebuddhaan, kita harus terlebih dahulu menjalin jodoh baik. Artinya, kita harus meneladan Buddha dan Bodhisatwa. Bodhisatwa dapat menjalin jodoh baik dengan semua makhluk. Jadi, sebelum mencapai kebuddhaan, kita harus terlebih dahulu menjalin jodoh baik.
Dalam proses ini, kalian disebut Bodhisatwa. Bahkan, ketika melakukan pelestarian lingkungan pun, kalian juga adalah Bodhisatwa. Oleh karena itu, saya selalu menyebut semua orang yang melakukan pelestarian lingkungan sebagai Bodhisatwa. Kalian benar-benar menciptakan pahala tak terhingga.
Hendaknya kita mencintai Bumi, ekosistem, dan semua orang. Dengan kekuatan cinta kasih, kita dapat menjaga lingkungan dengan baik. Secara alami, lingkungan akan menjadi lebih baik, udara menjadi lebih bersih, dan semua orang memiliki tubuh yang sehat. Ini sungguh merupakan pahala yang tak terhingga. Saya merasa sangat bersyukur.
“Saya adalah relawan pelestarian lingkungan di Chang'an, Taiping. Setelah mendengar ceramah Master di Sekolah Menengah Kejuruan Shin min, saya lalu mendirikan depo pelestarian lingkungan di rumah saya. Tahun ini, saya berusia 74 tahun,” kata Zhan Zhang Yue-jiao, relawan Tzu Chi.
“Saya juga mendengar ceramah Master di Sekolah Menengah Kejuruan Shin min. Setelah pulang, saya langsung melakukan pelestarian lingkungan hingga sekarang,” kata Lin Li-xu, relawan Tzu Chi.
“Dia dan suaminya adalah relawan pelestarian lingkungan yang telah dilantik. Mereka juga sudah melakukan pelestarian lingkungan selama 36 tahun. Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Taiping sudah berdiri selama 23 tahun. Orang-orang bertanya kepada mereka, ‘Mengapa saat Tahun Baru Imlek kalian tidak pergi jalan-jalan?’ kata Gan Wan-cheng, relawan Tzu Chi.
“Macet,” ucap Lin Li-xu.
“Katanya, kalau keluar rumah saat Tahun Baru Imlek pasti macet. Daripada begitu, lebih baik berada di depo pelestarian lingkungan,” lanjut Gan Wan-cheng.
“Betul, di sana tidak macet. Naik sepeda motor hanya 10 menit sudah sampai,” pungkas Lin Li-xu.

Dalam sebuah pidato di Taichung, saya menyampaikan bahwa kita harus menggunakan kedua tangan yang bertepuk untuk melakukan pelestarian lingkungan. Saat ini, kita dapat melihat bagaimana para Bodhisatwa pelestarian lingkungan di Taichung terus melakukan daur ulang hingga saat ini.
Sampai saat ini, mereka terus berkata, "Master ingin kita melakukan pelestarian lingkungan." Ribuan tangan bergerak untuk menjalankannya. Ketika satu orang membangkitkan tekad, jutaan tangan ikut bergerak. Lima ratus orang memiliki seribu tangan. Jadi, ketika lima ratus Bodhisatwa daur ulang bersatu, mereka menjadi satu Bodhisatwa Avalokitesvara.
Bodhisatwa Avalokitesvara hadir di setiap rumah. Jika setiap keluarga memiliki Bodhisatwa pelestarian lingkungan, orang itu merupakan perwujudan dari Bodhisatwa Avalokitesvara. Cinta kasih Bodhisatwa Avalokitesvara diwujudkan oleh mereka. Jadi, kita semua adalah perwujudan dari Bodhisatwa Avalokitesvara. Itulah Bodhisatwa Avalokitesvara yang memiliki seribu tangan dan seribu mata.
Hendaknya kita terus berusaha. Kita memiliki dua tangan. Jika mengajak satu orang lagi, akan bertambah dua tangan; jika mengajak dua orang, akan bertambah empat tangan. Dengan cara seperti ini, melakukan pelestarian lingkungan bukanlah hal yang sulit. Kita bisa mengajak orang lain untuk bergabung dan menjelaskan prinsip kebenaran tentang pelestarian lingkungan. Inilah yang disebut menyebarkan Dharma.
Hendaknya kalian perlahan-lahan memikirkan prinsip-prinsip tersebut dan menjelaskannya kepada mereka. Jika berhasil mengajak seseorang, kalian bisa datang dan berkata kepada saya, "Master, saya sudah menjelaskan seperti ini dan dia ikut bergabung." Ketika kalian membagikan kisah itu kepada saya, saya akan berkata, "Kalian telah menginspirasi satu orang lagi." Jadi, jika ada 500 orang, mereka akan menjadi satu Bodhisatwa Avalokitesvara.

Di Taiwan, kita memiliki kegiatan pelestarian lingkungan dan memiliki banyak teman. Ada juga yang telah dilantik sebagai komite Tzu Chi dan menjalankan Tzu Chi. Bagi yang belum dilantik, kami menyambut kalian untuk dilantik. Namun, untuk dilantik tentu ada syaratnya. Syaratnya bukan harus berpendidikan tinggi, bukan pula harus memiliki uang atau kualifikasi tertentu.Yang diperlukan hanyalah tekad. Selama memiliki tekad dan bersedia melakukannya, kalian adalah Bodhisatwa.
Di tempat pelestarian lingkungan pun, kalian adalah Bodhisatwa. Kalian telah mencurahkan segenap hati dan cinta kasih. Hendaknya kalian mendedikasikan diri dengan sepenuh hati. Kita hanya perlu menaati aturan Tzu Chi. Aturan Tzu Chi secara sederhana dapat dirangkum dalam satu kata, yaitu cinta kasih. Ini berarti mengasihi manusia dan segala sesuatu. Jika kita mengasihi manusia dan segala sesuatu, kita akan memahami bahwa kita harus menaati aturan dan melindungi kehidupan. Inilah cinta kasih yang paling agung.
Bukan hanya kehidupan manusia yang harus kita hargai, melainkan juga segala sesuatu yang ada di Bumi. Pelestarian lingkungan berarti menghargai segala sesuatu. Cinta kasih agung berarti mengasihi segala sesuatu. Menghargai waktu berarti menghargai ruang; menghargai ruang berarti menghargai dunia; menghargai dunia berarti menghargai segala sesuatu yang digunakan dalam kehidupan.
Kalian mengumpulkan kertas dan berusaha untuk memilahnya. Kertas yang masih sangat putih dapat kita jaga agar tetap bersih sehingga dapat digunakan untuk menulis. Untuk kertas yang sudah ada tulisan kecilnya, saya biasanya tetap menulis di atasnya dengan pensil, pena, lalu dengan mopit. Sekarang, karena usia sudah lanjut, saya jarang menulis.
Kalau dahulu, saya selalu menulis seperti itu. Jadi, sekarang, selama masih bisa digunakan dan tulisannya masih dapat terlihat, itu sudah cukup. Kita harus menghargainya. Dalam keseharian, begitulah seharusnya kita menghargai barang-barang. Jadi, saya sangat berterima kasih kepada kalian semua karena telah melakukannya dengan sepenuh hati.
Menghormati langit, mencintai Bumi, dan memahami prinsip kebenaran
Menghargai segala sesuatu dan menjalin jodoh baik
Bodhisatwa Avalokitesvara memiliki seribu tangan dan mata
Melanjutkan pelestarian lingkungan dan hidup berdampingan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 23 Agustus 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 25 Agustus 2026







Sitemap