Ceramah Master Cheng Yen: Melatih Diri dengan Ketulusan, Kebenaran, Keyakinan, dan Kesungguhan
“Terkadang, rumah sakit juga seperti sebuah masyarakat kecil. Dalam berbagai interaksi, ada berbagai masalah antarmanusia. Namun, Master mengajarkan kepada kita untuk menjadikan pujian sebagai pengingat serta menjadikan masalah sebagai pembelajaran. Setiap orang memiliki kebiasaannya masing-masing. Ibarat sebuah cangkir yang memiliki celah, kita tidak seharusnya terus memandang kekurangannya. Sebaliknya, kita perlu melihat bahwa ia masih dapat digunakan,” kata Zhang Shu-juan, Ketua Komite Keperawatan Misi Kesehatan Tzu Chi.
“Jadi, saya selalu berpegang pada ajaran dan prinsip kebenaran tersebut ketika memimpin para staf. Ketika menghadapi perlakuan yang tidak adil, saya akan mengingat Kata Renungan Jing Si dari Master, ‘Orang yang mampu bersabar adalah orang yang paling kuat’," pungkas Zhang Shu-juan.
“Saya berterima kasih kepada Master karena telah menciptakan dunia Tzu Chi dan membuat orang tua saya mengenal Tzu Chi. Saya juga berterima kasih kepada orang tua saya yang telah menjadikan Tzu Chi sebagai warisan keluarga dan meneruskannya kepada saya sehingga saya dapat berada di sini,” kata Cao Qin-zhen, Staf ahli Divisi Kerohanian Tzu Chi.
“Kami ingin menyampaikan kepada Master bahwa masih ada banyak hal yang harus kami pelajari. Masih banyak hal yang belum mampu kami pelajari. Jadi, kami membutuhkan Master untuk terus membimbing dan mengajari kami agar dari kehidupan ke kehidupan, kami dapat terus mengikuti Master untuk menjalankan misi Tzu Chi,” pungkas Cao Qin-zhen.
Kehidupan ini tidak kekal. Terlebih lagi, kehidupan yang tidak kekal juga sangatlah singkat dan penuh penderitaan. Meski telah melewati 90 tahun, saya masih merasa bahwa hidup ini terlalu singkat. Hingga saat ini, ketidakkekalan mulai makin nyata untuk mengingatkan kita bahwa waktu kehidupan manusia sudah makin singkat, bahkan sudah mendekati akhir.


Dahulu, saya selalu merasa khawatir terhadap perjalanan Tzu Chi selama 60 tahun ini. Pada masa lalu, perjalanan ini benar-benar tidak mudah. Yang selalu ada dalam hati saya ialah keinginan untuk terus mencari sumber daya manusia dan kekuatan. Saya tahu bahwa dana harus dimulai dari 50 sen. Namun, saya tidak pernah khawatir apakah ada cukup dana untuk melakukan suatu pekerjaan.
Saya tidak pernah mengkhawatirkannya karena memiliki keyakinan yang kuat terhadap diri sendiri. Saya merasa bahwa keyakinan saya selalu cukup karena saya memahami diri sendiri. Sepanjang hidup ini, yang saya miliki hanyalah ketulusan tanpa pamrih. Selama hati saya senantiasa tulus dan tanpa pamrih, secara alami sepanjang hidup ini tidak akan kekurangan.
Hal yang paling kurang di dunia ini justru ialah keinginan terhadap materi. Mengenai kekuatan finansial, saya tidak pernah mengkhawatirkannya karena saya percaya pada ketulusan hati. Ketulusan berarti benar-benar tulus tanpa kepalsuan. Sepanjang hidup, saya menjalankan segala sesuatu tanpa kepalsuan.
Keyakinan inilah yang membuat saya mendapatkan kepercayaan besar dari semua orang. Saya memiliki kepercayaan dari banyak orang. Ketika mereka percaya pada apa yang ingin saya lakukan, setiap orang akan bersedia mencurahkan kekuatannya. Jadi, ketika sudah memiliki sumber daya manusia, kita tidak perlu takut kekurangan sumber daya finansial.
Ketika setiap orang memiliki tekad dan ikrar, mereka akan bersama-sama menggalang dana untuk mewujudkan apa yang ingin saya lakukan. Yang ingin saya lakukan ialah menciptakan cinta kasih agung tanpa pamrih. Dengan cinta kasih agung tanpa pamrih, kita dapat memberikan kebahagiaan yang tak terbatas kepada dunia. Inilah keyakinan yang saya miliki terhadap diri sendiri.


Saat ini, Empat Misi Tzu Chi sudah diwujudkan. Tentu saja, selanjutnya masih ada Delapan Jejak Dharma yang bergantung pada bagaimana kita menjalankannya. Apa yang kita lakukan harus mencerminkan ketulusan kita. Dengan demikian, kekuatan kita akan selalu lebih dari cukup.
Selama setiap orang memiliki keyakinan yang tulus dan memiliki tekad yang sama dengan saya, yaitu menciptakan kebahagiaan bagi semua umat manusia, kekuatan kita akan selalu cukup, bahkan selalu berlimpah. Hendaknya kita mengedepankan hati yang tulus dan benar, lalu mengerahkan kekuatan dari keyakinan dan kesungguhan.
Kita memiliki satu niat yang sama, yaitu menciptakan berkah bagi dunia. Bukankah menciptakan berkah bagi dunia berarti menciptakan kebahagiaan bagi manusia? Ketika saya menciptakan kebahagiaan bagi dunia, saya sendiri juga dapat merasakan kebahagiaan dan keindahan dunia ini. Demikianlah prinsipnya.
Bodhisatwa sekalian, ketika menyapa kalian, saya selalu menyebut kalian sebagai Bodhisatwa dunia. Bodhisatwa dunia berarti makhluk yang memiliki cinta kasih berkesadaran. Di dunia ini, setiap orang memiliki cinta kasih agung yang murni dan tanpa pamrih.
Ketika Buddha mencapai pencerahan, Beliau berkata, "Sungguh menakjubkan. Semua makhluk memiliki hakikat kebijaksanaan Tathagata." Ini berarti setiap orang memiliki hati Buddha. Saya pun ingin meneladan Buddha. Hendaknya kita membuka pintu hati dan melapangkan hati.

Kita harus memiliki hati yang percaya kepada setiap orang. Selama kita sendiri berusaha melakukan yang benar, kita dapat memperoleh kepercayaan dari semua orang. Jadi, jika kita percaya bahwa setiap orang memiliki keyakinan yang sama dengan kita, bukankah dunia ini menjadi penuh kebahagiaan?
Keyakinan adalah sumber jalan dan ibu dari segala pahala. Selama kita semua memiliki keyakinan ini dan bersumbangsih dengan tulus demi dunia, keyakinan tersebut akan menjadi pahala. Hendaknya setiap orang bersedia untuk mengasihi dan melindungi semua makhluk di dunia.
Ketika kita memiliki ketulusan dalam diri sendiri, kita akan mewujudkan pahala. Dengan sumbangsih seperti ini, semua orang akan tersentuh dan ikut melakukannya. Tidak akan ada sedikit pun penyimpangan. Di antara semua makhluk, tidak dapat dihindari bahwa ada sebagian kecil yang mungkin menyimpang dari jalan.
Namun, selama sebagian besar orang memiliki keyakinan yang tulus, secara alami kelompok kecil tersebut akan dipengaruhi oleh kelompok yang lebih besar. Saya tahu bahwa kita semua adalah mayoritas. Kita semua memiliki hati yang tulus, benar, penuh keyakinan, dan sungguh-sungguh. Inilah sifat yang dimiliki setiap orang sejak awal.
Buddha percaya kepada kita dan melihat bahwa kita setara dengan-Nya. Kita semua seharusnya memiliki keyakinan dan kesungguhan ini. Hendaknya kita menggunakan ketulusan dan kebenaran untuk membimbing semua orang, memimpin, dan menginspirasi mereka. Saya percaya dengan melakukan praktik nyata, kita juga membimbing dan membina setiap orang.
Yakin bahwa diri sendiri tanpa pamrih dan semua orang memiliki cinta kasih
Dengan hati yang tulus dan benar, kekuatan akan selalu cukup
Melatih diri dengan sungguh-sungguh dan mewariskan silsilah Dharma
Melatih diri dengan membimbing semua makhluk
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 19 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 21 September 2026







Sitemap