Ceramah Master Cheng Yen: Melatih Diri di Tengah Dunia dengan Menjalin Jodoh Baik
“Kakak Ye Xiu-feng adalah benih pertama di wilayah Hemei. Beliau telah menginspirasi banyak relawan dokumentasi. Saat terjadi bencana Gempa 921 dan Topan Morakot, beliau juga terjun langsung untuk mendokumentasikannya. Beliau sangat tekun dan bersemangat. Beliau adalah seorang guru seni merangkai bunga yang telah membimbing banyak relawan, anggota komite Tzu Chi, dan komisaris kehormatan,” kata Lin Xiang-jie, relawan Tzu Chi.
“Saya pernah bertanya kepadanya, ‘Mengapa Anda begitu bersungguh-sungguh?’ Beliau menjawab, ‘Ini semua berlandaskan hati Buddha dan tekad Guru.’ Jawaban itu sangat menyentuh saya. Saya merasa bahwa kita pun seharusnya mengikuti keteladanannya,” pungkas Lin Xiang-jie.
“Saya hanya lulusan SMP. Setelah mengenal Tzu Chi, hal pertama yang saya lakukan ialah menjadi relawan survei kasus amal. Kemudian, saya bergabung dalam tim dokumentasi. Saat terlibat dalam kegiatan tersebut, terutama selama ‘Proyek Harapan’ Tzu Chi pascagempa 921, saya hampir setiap minggu, dua hingga tiga kali pergi ke lokasi dengan membawa cucu saya. Saat kembali ke Aula Jing Si Changhua, saya tetap membawa cucu saya sambil melakukan kegiatan,” kata Ye Xiu-feng Relawan Tzu Chi.
“Kelas seni merangkai bunga adalah ladang saya untuk menggalang Bodhisatwa. Saya menggunakan Kata Renungan Jing Si untuk menginspirasi banyak orang. Saya juga menceritakan apa yang telah kita lakukan dan mempraktikkan apa yang kita ucapkan. Saya melangkah di Jalan Tzu Chi tanpa penyesalan. Saya juga sering berkata kepada anak-anak bahwa saya tengah belajar di ‘universitas kehidupan’ Tzu Chi. Apa yang saya pelajari bahkan lebih bermakna daripada yang mereka pelajari,” pungkas Ye Xiu-feng.

Saya bersyukur karena setiap orang memiliki nilai kehidupan yang indah. Nilai kehidupan bukanlah sekadar merasa bahagia. Sesungguhnya, ketika kita mampu bertahan dalam kesulitan dan mengatasi berbagai tantangan dengan tetap berdiri tegak dan terus melangkah maju, itulah yang disebut sebagai kehidupan yang berani. Singkat kata, sebagai Bodhisatwa dunia, kita harus melatih diri sendiri. Tanpa kesulitan, tidak ada kesempatan untuk melatih kekuatan.
Saya percaya bahwa setiap orang pasti pernah melalui masa-masa sulit. Ini bukan hanya soal kondisi keluarga. Kalian telah bertekad menjadi Bodhisatwa dan bergabung dalam Tzu Chi. Berbicara dengan orang yang sudah akrab memang mudah, tetapi berbicara dengan orang yang belum mengenal kita bukanlah hal yang mudah. Justru dalam hal yang tidak mudah itulah, kita harus bersabar untuk memperkenalkan Tzu Chi dan mempraktikkan nilai-nilai Tzu Chi secara nyata agar orang lain dapat melihatnya.
Ketika melihat dan mendengarnya, mereka akan merasa tersentuh dan mengikuti langkah kita. Inilah cara Bodhisatwa dunia membimbing semua makhluk serta menuntun orang lain untuk bergabung, memperkenalkan kekuatan cinta kasih Tzu Chi, dan menyebarkan ajaran Buddha. Ketika membicarakan Tzu Chi, secara tidak langsung, mereka tengah menyebarkan ajaran Buddha dan menuntun orang lain menuju jalan yang baik. Inilah yang dilakukan oleh relawan Tzu Chi. Saya telah mengembangkan Tzu Chi hingga dapat menjangkau masyarakat luas. Saya berharap semua orang dapat membimbing semua makhluk secara luas.
Tzu Chi telah berjalan selama 60 tahun. Saat ini, saya ingin memberi tahu semuanya bahwa inilah metode untuk membimbing orang. Kita tidak pernah membeda-bedakan agama. Kita harus menghormati dan memuji semua agama agar tidak menimbulkan penolakan, melainkan saling mendekat dan menjalin jodoh baik. Dengan demikian, tanpa disadari, orang lain juga akan menumbuhkan rasa cinta dan hormat terhadap Tzu Chi. Inilah tujuan utama kita ketika terjun ke tengah masyarakat.

Berbicara tentang melatih diri, tidak ada yang dapat dikatakan selain terjun ke tengah masyarakat dan menjalin jodoh baik. Bukan berarti setiap bertemu orang kita meminta sumbangan. Bukan. Saya ingin ketika orang lain melihat kalian, mereka tahu bahwa kalian adalah insan Tzu Chi dan tahu apa yang Tzu Chi lakukan. Saya ingin kalian bisa membicarakan tentang ajaran Buddha dan semangat Bodhisatwa dunia. Inilah yang saya harapkan dari kalian.
Tzu Chi telah berjalan selama 60 tahun dan usia saya pun sudah lanjut. Saya tidak memiliki ajaran khusus yang istimewa. Apa yang telah saya sampaikan selama ini, kalian bukan hanya mendengarnya, tetapi juga telah melakukannya. Oleh karena itu, saya merasa tenang terhadap kalian. Ketika saya berkata bahwa kalian telah melakukan banyak hal, mungkin kalian berpikir bahwa itu sudah cukup. Saya ingin memberi tahu bahwa dari kehidupan ke kehidupan, kita tidak perlu takut melakukan terlalu banyak hal.
Jalan Bodhisatwa yang harus kita tapaki itu sangat panjang dan membutuhkan kehidupan demi kehidupan. Nilai kehidupan yang paling berharga ialah terjun ke tengah masyarakat. Dengan begitu, kita bisa benar-benar belajar untuk menjadi Bodhisatwa dan membimbing semua makhluk. Jangan berpikir bahwa kita sudah banyak berbuat lalu merasa cukup. Apakah dengan begitu kita tidak belajar? Tentu kita belajar. Namun, mempelajari Jalan Bodhisatwa adalah proses yang berlangsung dari kehidupan ke kehidupan.
Saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa mempelajari Jalan Bodhisatwa itu perlu kehidupan demi kehidupan. Belajar itu tidak ada batasnya. Aktivitas misi amal dan upaya membimbing semua makhluk juga tidak ada batas waktunya. Jika kalian membaca Sutra, kalian akan melihat bahwa Buddha datang ke dunia dari kehidupan ke kehidupan. Berapa lama Beliau melatih diri? Berkalpa-kalpa yang tak terhitung. Kalpa adalah satuan waktu yang sangat panjang hingga tidak dapat ditentukan awalnya. Kita harus memahami bahwa dalam perjalanan waktu yang panjang ini, kita dapat menjalin banyak jodoh baik.

Banyak hal di dunia ini yang membutuhkan kebaikan dari setiap orang. Bodhisatwa Ksitigarbha bertekad untuk tidak mencapai pencerahan sebelum membimbing semua makhluk. Sejak benih Bodhi ditanam, kita harus terus menumbuhkannya. Jika belum mencapai Bodhi, kita tidak akan mampu membimbing semua makhluk. Saya ingin meluruskan pemahaman kalian. Bukan berarti kita sudah mencapai pencerahan, lalu selesai.
Saya ingin memberi tahu kalian bahwa menjalin jodoh dengan semua makhluk itu tidak mudah. Ketika Anda berhasil menjalin jodoh baik dan mereka menerima kita, bahkan mau ikut untuk berbuat baik, barulah kita benar-benar sedang membimbing orang lain. Dengan begitu, barulah kita bisa berkata, "Marilah kita bersama-sama melangkah ke depan." Jika hanya diri sendiri yang melatih diri tanpa menjalin jodoh baik, apa arti dari melatih diri itu? Jadi, kita harus benar-benar menjalin jodoh baik dan menginspirasi orang lain untuk bergabung. Inilah yang disebut dengan membimbing makhluk hidup.
Saudara sekalian, saya selalu berkata bahwa Changhua memiliki nilai budaya humanis yang kuat. Ini berarti semua orang di sini memiliki kesatuan dan keharmonisan. Interaksi satu sama lain pun penuh dengan kesopanan. Kesopanan itu harus berasal dari ketulusan hati, bukan hanya tampak di permukaan. Hendaknya interaksi kita dengan orang lain menunjukkan ketulusan dari dalam hati. Inilah cara melatih diri di tengah kehidupan dunia, yaitu menjalin jodoh baik dengan semua makhluk.
Berani melampaui kesulitan untuk melatih diri
Menjalin jodoh baik dengan bertutur kata baik dan lembut
Mendekatkan diri untuk melangkah bersama, saling mengasihi, dan saling menghormati
Menolong semua makhluk tanpa batas waktu
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 23 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 25 Maret 2026







Sitemap