Ceramah Master Cheng Yen: Melenyapkan Noda Batin dengan Tahu Berpuas Diri


Di Griya Jing Si, setiap pagi semuanya selalu berkumpul untuk menjalankan kebaktian pagi dengan khidmat. Kebaktian ini dimulai sejak dini hari. "Ketika mendengar suara lonceng, noda batin berkurang dan Bodhi pun tumbuh." Setiap kali mendengar suara lonceng di pagi hari, kita diajak untuk menyingkirkan segala noda batin dan menumbuhkan kesadaran menuju Jalan Bodhi.

Semua orang berkumpul dalam barisan yang tertib. Dari depan terlihat semuanya lurus dan sejajar. Dua barisan membentuk satu jalan tengah yang lurus. Semua orang menghadap arah yang sama. Inilah suasana pelatihan diri kita. Dalam melatih diri, kita harus mengikuti keteraturan seperti ini.

Saat melangkah masuk, kita juga harus mengikuti pola yang sama dan melewati lorong tengah ini dengan tertib. Setiap orang berdiri di posisinya masing-masing sesuai dengan urutan. Ketika jumlah orangnya banyak, barisan itu akan memanjang dengan megah dan tetap terlihat teratur. Kerapian ini mencerminkan keadaan batin kita.


Dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu banyak jalan di dunia ini. Kita harus menempatkan diri dengan tepat, memahami arah, dan melangkah dengan benar. Kita perlu tahu siapa diri kita, berada di lingkungan seperti apa, dan di mana posisi kita, lalu berjalan lurus ke arah yang benar. Dengan demikian, semua orang akan berada di posisinya masing-masing.

Jika seseorang tidak tepat waktu dan membiarkan posisinya kosong, keseluruhan susunan akan tampak tidak rapi. Keindahan justru terletak pada keteraturan. Untuk melatih diri dengan sungguh-sungguh bukanlah hal yang mudah. Kita telah memiliki jalinan jodoh yang baik sehingga dapat memasuki ladang pelatihan ini. Jadi, hendaknya semuanya datang tepat waktu. Dengan demikian, barisan dapat tersusun rapi dan selaras.

Saat masuk, setiap orang mengikuti posisi dan duduk sesuai urutan. Inilah wujud ketulusan hati. Dengan hati yang tulus, kita menjaga waktu dengan baik, masuk dengan tertib, lalu duduk pada saat yang tepat. Dari situ, kita dapat melihat bahwa kebaktian pagi ini sangat indah. Memang benar, dengan ketulusan hati, setiap gerakan menunjukkan keindahan. Inilah upaya kita dalam mencari Dharma. Ketika kita melangkah maju, Dharma selalu ada di dalam hati kita.


Dalam dua hingga tiga tahun terakhir ini, saya memiliki satu harapan, yaitu ingin membawa ajaran Buddha kembali ke kampung halaman Buddha. Sejak kecil hingga dewasa, Pangeran Siddhartha hidup dalam kehidupan yang teratur setiap harinya dan selalu mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari ayah dan ibunya, serta hidup di lingkungan istana yang sangat berkecukupan. Beliau tidak kekurangan apa pun.

Namun, ketika jalinan jodoh tiba, Ia keluar dari istana melalui empat gerbang. Dari keempat arah itu, apa yang dilihat dapat dirangkum dengan satu kata, yaitu penderitaan. Namun, kesulitan dan penderitaan memang bagian dari kehidupan. Hendaknya kita merenungkan kembali kehidupan masing-masing. Kalian semua telah mendengarkan Dharma dan sering mendengar tentang derita kemiskinan serta derita kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.

Baik yang miskin maupun kaya, semuanya memiliki penderitaan masing-masing. Orang yang kaya masih memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Kekayaan seperti ini tidak pernah benar-benar memuaskan. Ketika ditanya, "Sudah cukup atau belum?" jawabannya pasti belum. Ketika ditanya, "Apakah sudah puas?" pasti masih ada sedikit kekurangan dan masih ada ketidakpuasan. Pada akhirnya, tidak pernah ada kata cukup. Sama halnya dengan nafsu keinginan manusia.

Saat melihat sesuatu, kita merasa sudah mendapatkannya dan merasa puas. Namun, setelah beberapa waktu, ketika muncul hal baru yang sedang menjadi tren, meski sebelumnya sudah merasa cukup, kita akan merasa yang baru lebih baik dari yang lama dan kembali menginginkannya. Seperti inilah keinginan manusia yang tidak pernah ada habisnya.


Bodhisatwa sekalian, terus-menerus mengejar keinginan seperti ini sangatlah melelahkan. Kita sudah mendengar banyak ajaran Buddha. Hendaknya kita senantiasa menginventarisasi nilai kehidupan. Masa lalu sudah berlalu. Mungkin dahulu kita pernah mengalami penderitaan, tetapi semuanya sudah lewat dan sekarang sudah lebih baik. Bukankah ini adalah sesuatu yang patut disyukuri? Sekarang sudah jauh lebih baik daripada dahulu.

Saat ini, kita harus mulai berkata, "Saya sudah puas." Kita harus menjaga rasa puas ini. Hidup seperti ini adalah hidup yang penuh berkah. Dengan mengenal rasa puas, hati kita akan dipenuhi kebahagiaan. Orang yang mengenal rasa puas akan selalu hidup dalam kebahagiaan dan kepuasan.

Melenyapkan noda batin dengan ketulusan dan kesadaran
Melatih diri dengan sungguh-sungguh dan melangkah lurus ke arah yang benar
Mewujudkan ikrar agung untuk membawa Dharma ke kampung halaman Buddha
Mengenal rasa puas akan membawa berkah

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 25 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 27 April 2026
Kerisauan dalam kehidupan manusia disebabkan dan bersumber pada tiga racun dunia, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -