Ceramah Master Cheng Yen: Melindungi Semua Makhluk dan Membimbing Mereka yang Berjodoh


“Saya mengikuti pelatihan relawan dan dilantik pada tahun 2022. Saat ini, saya mengemban tugas sebagai ketua tim. Saya akan terus mengikuti jejak langkah Master dalam menjalankan misi Tzu Chi serta memegang prinsip bekerja demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk,” kata Lai Jun-li, relawan Tzu Chi.

“Saya telah bekerja selama 35 tahun. Setelah pensiun, saya mendedikasikan diri untuk menjalankan misi Tzu Chi. Saya sangat bersyukur atas keberadaan ladang berkah yang besar di Tzu Chi sehingga saya dapat mempraktikkan kebajikan, menciptakan berkah, dan menjalin jodoh baik secara luas. Saya akan menjalankan Tzu Chi dari kehidupan ke kehidupan hingga akhir napas saya,” kata Liu Xiu-mei, relawan Tzu Chi.

Beberapa hari ini, saya telah melihat bagaimana kesatuan dan keharmonisan para relawan serta mendengar kisah tentang bagaimana kalian menapaki Jalan Bodhisatwa bersama-sama. Saya merasa sangat tersentuh. Inilah harapan dalam hidup saya.

Menjadi seorang monastik bukanlah untuk mengejar pencapaian pribadi. Hal yang terpenting ialah mengemban misi Tathagata. Meski sepanjang hidup ini saya merasa belum memperoleh pencapaian yang besar, setidaknya saya telah melakukan sedikit hal yang bermakna, yaitu menginspirasi para Bodhisatwa untuk bersumbangsih dengan kesungguhan hati dan cinta kasih.


Keluarga besar Tzu Chi telah membangun tekad dan ikrar agung untuk membawa manfaat bagi Taiwan. Saya telah melihat dan mendengar bagaimana kalian melayani tanpa membeda-bedakan. Begitu ada pengumuman, semua orang langsung bersedia menjalankan tugas tanpa ragu. Ada yang langsung terjun ke lokasi bencana untuk memberikan pertolongan, ada pula yang tetap berjaga di daerah masing-masing untuk menerima telepon dan mengoordinasikan kebutuhan.

Ketika ada kebutuhan, tim pendukung segera menyiapkan berbagai perlengkapan yang diperlukan, terutama tim konsumsi. Di mana pun bantuan makanan dibutuhkan, mereka langsung menyiapkannya. Tugas ini sungguh tidak mudah. Dalam sekali memasak, mereka sering kali tidak mengetahui berapa banyak porsi yang sebenarnya dibutuhkan. Meski jumlahnya belum pasti, mereka tetap bersiaga dan selalu siap memenuhi kebutuhan.

Para Bodhisatwa yang bertugas di bagian konsumsi sangatlah luar biasa. Tentu saja, selain ada relawan yang menyiapkan makanan, ada pula relawan yang terjun ke lokasi untuk melihat kondisi bencana dan memikirkan cara untuk menolong para korban bencana. Ketika para korban bencana bertemu dengan insan Tzu Chi, mereka selalu merasa sangat sukacita. Saya juga sering mendengar bagaimana orang-orang yang menderita langsung bersukacita ketika melihat insan Tzu Chi.

Memang benar, ketika insan Tzu Chi hadir bersama sebagai sebuah tim, orang-orang akan merasa tenang dan damai. Melihat insan Tzu Chi bagaikan melihat Bodhisatwa. Saya merasa bahwa bukan hanya saya yang memandang insan Tzu Chi sebagai Bodhisatwa, para korban bencana pun sering mengucapkannya. Ini menunjukkan bahwa di dalam hati masyarakat telah tumbuh keyakinan bahwa insan Tzu Chi adalah Bodhisatwa. Bodhisatwa adalah sosok yang dihormati oleh setiap orang.


Bodhisatwa sekalian, kita patut merasa bersyukur karena dapat menjadi bagian dari Tzu Chi. Di Taiwan, jumlah insan Tzu Chi sangat banyak. Bahkan, orang-orang yang belum menjadi relawan pun, ketika mendengar ajaran Tzu Chi, turut merasa sukacita dan memberikan dukungan. Mereka adalah para calon Bodhisatwa. Hanya dengan mendengar saja, mereka merasa sukacita dan langsung mendoakan kita. Ini berarti di dalam hati mereka telah tumbuh rasa hormat.

Jika ada jalinan jodoh, hendaknya kita menuntun dan menyemangati mereka. Ketika jalinan jodoh matang, mereka pun akan bergabung bersama kita. Inilah calon Bodhisatwa. Saya selalu menaruh harapan kepada mereka. Mereka menghormati kita dan kita hendak menginspirasi semua makhluk. Inilah yang menghubungkan kita. Jadi, setiap kali bertemu orang lain, hendaknya kita membangkitkan rasa syukur.

Ketika mereka membantu kita, tentu kita harus berterima kasih. Namun, rasa syukur itu bukan hanya ditujukan kepada mereka yang bersama-sama mendedikasikan diri dalam menjalankan misi, melainkan juga kepada orang-orang yang menerima bantuan kita. Jadi, memberi dengan rasa hormat dan menerima dengan rasa syukur. Kita bersumbangsih dengan penuh hormat; mereka menerima dengan penuh rasa syukur.

Sesungguhnya, selain menghormati, kita juga berterima kasih kepada mereka. Meski mereka berada dalam kesulitan, ketika bertemu dengan kita, mereka tetap menunjukkan rasa hormat. Hendaknya kita berterima kasih karena mereka penuh dengan sukacita dan rasa syukur saat menerima bantuan kita.


Dalam penyaluran bantuan tahun ini, semua orang mendedikasikan diri dengan kesatuan hati dan tekad. Dari situlah lahir kekuatan yang menjadi pencapaian kita dalam menciptakan pahala. Kita bukan melakukan semua ini demi mengejar pahala, tetapi inilah hasil dari usaha kita. Bersumbangsih berarti usaha; ketika orang lain menerima bantuan, itulah pahala kita. Begitulah kita melayani sebagai Bodhisatwa yang menciptakan pahala.

Kita bersumbangsih dengan berusaha semaksimal mungkin. Seperti Bapak Fang. Di mana pun ada yang membutuhkan bantuan, beliau segera mengumpulkan roti agar dapat secepat mungkin disalurkan ke tangan para korban bencana. Inilah tindakan yang benar.

Sutra Buddha juga mengajarkan bahwa semua makhluk adalah keluarga Bodhisatwa. Jadi, kita harus memandang mereka seperti keluarga sendiri. Kita tidak sampai hati sehingga berusaha untuk melenyapkan penderitaan dan memenuhi kebutuhan mereka. Jika mereka kekurangan kebutuhan pokok, bantuan harus segera sampai kepada mereka.

Seorang Bodhisatwa memandang semua makhluk sebagai anggota keluarganya sendiri. Mereka yang lebih tua harus kita anggap sebagai orang tua kita; mereka yang seusia adalah saudara kita; mereka yang lebih muda harus kita anggap sebagai anak cucu kita. Inilah keluarga besar Bodhisatwa. Jadi, kita patut bersukacita karena dapat menjadi bagian dari keluarga Bodhisatwa.

Hendaknya kita tekun dan bersemangat. Para Bodhisatwa adalah saudara dan saudari kita. Mereka yang terkena bencana adalah keluarga dan sahabat kita. Kapan pun dan di mana pun, kita harus senantiasa membangkitkan cinta kasih.

Bersumbangsih dengan cinta kasih tanpa membeda-bedakan
Menghimpun kekuatan dan membagi pekerjaan dalam penyaluran bantuan bencana
Melindungi semua makhluk bagaikan keluarga sendiri
Menginspirasi mereka yang berjodoh untuk mempraktikkan kebajikan Bersama

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 02 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 04 Juli 2026
Mendedikasikan jiwa, waktu, tenaga, dan kebijaksanaan semuanya disebut berdana.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -