Ceramah Master Cheng Yen: Melindungi Semua Makhluk dengan Kasih Sayang

“Meski ongkos satu yuan sehari tidak termasuk mahal, tetapi jika dikumpulkan juga akan menjadi banyak dan dapat membantu orang yang membutuhkan. Inilah yang saya pikirkan. Jadi, setiap kali datang kemari, saya tidak naik kendaraan umum. Saya selalu berjalan kaki,” kata Huang Liming relawan Tzu Chi.

Benar, dalam ceramah pagi setiap hari, saya membabarkan ajaran Buddha dengan harapan setiap orang bisa menapaki Jalan Bodhisatwa. Langkah kaki kita harus mantap dan arah kita harus benar. Inilah yang senantiasa saya ingatkan. Nasihat ini harus dijalankan. Saya terus mengingatkan ini setiap hari agar semua orang memetik pelajaran besar.

Pelajaran besar ini harus kita petik karena saat ini ketidakselarasan iklim sudah terjadi. Semuanya berpulang pada kerusakan yang dibuat oleh manusia. Luas hutan terus berkurang karena manusia terus menebanginya dan mengubahnya menjadi peternakan. Semua ini dilakukan demi nafsu makan manusia.


Bisa dikatakan bahwa nafsu makan membuat manusia menelan hutan-hutan alami. Kita juga melihat alam dieksploitasi. Berbagai sumber daya alam diambil terus-menerus. Akibat penggalian dan eksploitasi, alam pun menjadi rusak. Pegunungan menjadi rusak akibat berbagai penggalian yang dilakukan.

Udara juga tercemar. Bukankah semua ini adalah ulah manusia? Hidup di dunia ini, manusia telah mencemari udara dan merusak alam. Inilah yang manusia lakukan pada dunia ini. Ini dilakukan semata-mata karena nafsu keinginan. Nafsu keinginan yang terberat bagi manusia ialah nafsu makan. Manusia tamak akan cita rasa sehingga mengembangbiakkan hewan ternak untuk disembelih.

Pembunuhan hewan seperti ini membuat manusia kehilangan hati nurani. Ini berarti kita belum benar benar mengikuti prinsip kebenaran. Jadi, pelajaran besar dari pandemi kali ini hendaknya dapat mengingatkan umat manusia. Melihat ketidakselarasan iklim dan pandemi yang terjadi, kita hendaknya sadar. Mengapa dunia ini mengirimkan sinyal peringatan? Karena manusia tidak kunjung sadar.


Manusia masih terus mengejar lebih banyak, terus dipenuhi noda dan kegelapan batin serta ketamakan tanpa batas. Sebelum meninggal, banyak orang membuat surat wasiat yang berisi kepada siapa kekayaan mereka diwariskan. Semakin banyak harta kekayaannya, potensi konflik di dalam keluarga juga semakin besar. Anak cucu bisa berseteru akibat harta warisan. Mulanya mereka hidup rukun dan harmonis. Namun, demi harta warisan, sesama saudara ataupun generasi penerus bisa saling menanamkan rasa dendam. Kita sering mendengar cerita seperti ini.

Intinya, manusia menderita karena kehilangan sifat hakiki di dalam batin sehingga terus mengejar nafsu keinginan. Lambat laun, nafsu keinginan kita ini semakin terpupuk dan semakin banyak. Kita hanya terus menimbun harta kekayaan. Saat harta ini diwariskan kepada generasi penerus, rasa kekeluargaan malah semakin pudar. Rasa kekeluargaan berubah menjadi rasa dendam. Begitulah manusia yang terus terbelenggu. Belenggu ini harus dilepaskan. Jangan sampai tali persaudaraan terputus.

 

“Ibu saya mengajarkan kepada saya bahwa untuk berbuat baik tidak harus memberikan uang. Meski sumbangsih ini sepertinya tidak terlihat, tetapi sebenarnya apa maknanya? Maknanya ialah menyelamatkan Bumi,” kata Lew Sung Lung putra Ho Ming Chiu.

“Dia bilang semua barang yang dia kumpulkan akan diberikan kepada Tzu Chi. Di satu sisi Tzu Chi menerima barang daur ulang, di sisi lain kita pun dapat berbuat baik. Bukankah ini berarti sambil menyelam minum air?” kata kata Ho Sin Guan keponakan Ho Ming Chiu.

“Bersumbangsih bagi Bumi membuat saya gembira. Yang kita lakukan selama ini sudah benar. Setiap benih yang kita tanam pasti membuahkan hasil. Benih ini akan menghasilkan buah yang baik,” kata Ho Lay Swee kakak Ho Ming Chiu

Kita harus mengurai belenggu dan membuat tali hubungan antarmanusia menjadi lurus. Untuk itu, kita memerlukan ajaran Buddha. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Buddha membimbing kita untuk membangkitkan cinta kasih berkesadaran.

 

Saya sering mengatakan bahwa kita harus memperpanjang jalinan kasih dan memperluas cinta kasih. Kita harus terlebih dahulu memiliki jalinan perasaan, baru bisa memiliki cinta kasih. Namun, perasaan ini harus berkesadaran. Perasaan yang berkesadaran ini dapat mengembangkan cinta kasih untuk mengasihi semua makhluk dan mempraktikkan Jalan Bodhisatwa.

Saya berharap semua orang memetik pelajaran besar dan meningkatkan kewaspadaan. Agar masyarakat kita damai dan tenteram, manusia harus harmonis. Keharmonisan membawa ketenteraman dan kebahagiaan. Setiap orang hendaknya dapat mengenal rasa puas dan senantiasa bersyukur agar dapat hidup dengan tenteram dan harmonis.

Jangan terus mengumbar ketamakan yang tanpa batas. Jika setiap orang dapat merasa puas, barulah dunia ini akan terasa lebih lapang dan alam tidak akan tercemar oleh ulah manusia.

Kegelapan batin dan ketamakan membelenggu semua makhluk
Mengurai belenggu dengan menjernihkan batin dan memahami hakikat sejati
Melindungi semua makhluk dengan kasih sayang
Dunia damai, tenteram, harmonis, dan bahagia

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 05 Maret 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 07 Maret 2021 
Seulas senyuman mampu menenteramkan hati yang cemas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -