Ceramah Master Cheng Yen: Memahami Hukum Sebab Akibat dan Belajar Menuju Kesadaran


“Saya telah menjadi ketua Heqi Pitou selama 23 tahun. Saat diundang oleh komunitas lain, saya selalu menggenggam jalinan jodoh untuk berbagi pengalaman. Lalu, saya mewariskan tanggung jawab ini kepada Kakak Wen-hong. Kakak Luo Wen-hong sangat tekun dan bersemangat,”
kata Zhang Shun-liang, relawan Tzu Chi.

“Beberapa tahun lalu, putranya meninggal dunia dalam perjalanan mengangkut barang daur ulang, tetapi beliau tidak putus asa, malah makin tekun. Saya berkata padanya, ‘Sebagai ketua, kamu harus pantang menyerah. Kita semua adalah murid Master. Hendaklah kita lebih sering berbagi pengalaman serta saling memotivasi dan membantu’," pungkas Zhang Shun-liang.

“Setiap hari Sabtu, kedua anak saya akan mengangkut botol plastik ke Depo Daur Ulang Tzu Chi Puyan. Pada Sabtu sore itu, dalam perjalanan ke Depo Daur Ulang Tzu Chi Tianwei untuk mengangkut botol plastik, sebuah kendaraan melaju kencang di persimpangan dan menabrak kendaraan yang dibawa anak-anak saya. Salah satu anak saya meninggal dalam kecelakaan itu. Dia menunjukkan ketidakkekalan dan membabarkan Dharma bagi kita,” kata Luo Wen-hong, relawan Tzu Chi.

“Saya tahu bahwa segala sesuatu tidaklah kekal. Kecelakaan ini tidak membuat tekad pelatihan saya mundur. Saya akan terus tekun dan bersemangat menggenggam jalinan jodoh untuk mengikuti langkah Master,” pungkas Luo Wen-hong.


Kita bisa mendengar kebijaksanaannya. Meski anaknya meninggal karena kecelakaan di jalan, dia tetap tekun dan bersemangat. Meski merasa sedih, dia bisa memahami kebenaran dengan bijaksana. Demikianlah jalinan jodoh. Berhubung paham bahwa kehidupan tidak kekal, dia pun tekun dan bersemangat melatih diri. Inilah kebijaksanaan. Dia tidak berpikir, "Saya sangat tekun dan bersemangat. Anak saya juga melakukan kebaikan. Mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Apa gunanya menapaki Jalan Bodhisatwa?" Jika berpikir demikian, dia akan menyerah. Inilah yang disebut kegelapan batin.

Kita sering mendengar tentang sebab dan kondisi. Sebelum terlahir di dunia ini, kita sudah memiliki kehidupan lampau yang tak terhitung. Benih dan sebab dari kehidupan lampau pasti akan mendatangkan buah dan akibat. Manusia mengalami kelahiran dan kematian terfragmen. Kita semua mengalaminya. Saat datang ke dunia, Buddha juga mengalaminya. Setelah mencapai kebuddhaan, mengapa Beliau wafat pada usia 80 tahun? Ini juga karena sebab dan kondisi. Beliau juga mengalami kelahiran dan kematian terfragmen.

Selama 49 tahun, Beliau membabarkan Dharma. Beliau bertapa selama 6 tahun dan mencari guru selama 5 tahun. Jadi, setelah 5 tahun mencari guru dan 6 tahun bertapa, Beliau akhirnya mencapai pencerahan. Setelah mencapai pencerahan, Beliau membabarkan Dharma selama 49 tahun. Ada beberapa tahapan dalam hidup-Nya.

Saat muda, Beliau hidup di istana. Hakikat kesadaran-Nya dan matangnya jalinan jodoh membuat-Nya melepas segalanya untuk melatih diri. Setelah mencapai pencerahan, Beliau pun terjun ke tengah masyarakat untuk membabarkan Dharma. Dalam 80 tahun usia kehidupan-Nya, Beliau mengukuhkan ajaran Buddha di dunia. Beliau berharap ajaran-Nya dapat terus diwariskan.


Pada era Buddha mencapai pencerahan, Beliau harus memikirkan ajaran seperti apakah yang bisa diterima di tengah masyarakat dan dapat membimbing semua makhluk. Setelah memahami kebenaran alam semesta secara menyeluruh, Beliau pun membabarkannya. Setelah memahami pemikiran semua makhluk, Beliau pun terjun ke tengah masyarakat dan mulai membabarkan Empat Kebenaran Mulia.

Kalian mungkin sering mendengar saya mengulas tentang berbagai jenis cara untuk menghapus noda dan kegelapan batin. Ada berbagai jenis noda dan kegelapan batin yang sangat rumit jika dibahas. Prinsip kebenaran sangatlah banyak, tetapi yang bisa diingat sangat sedikit, apalagi yang dipraktikkan. Karena itulah, Buddha terjun ke tengah masyarakat untuk membimbing orang-orang menjalin jodoh dengan orang lain.

Asalkan memiliki jalinan jodoh dengan saya dan kapasitas yang sesuai, kalian pasti bisa menerima kata-kata saya karena setiap ucapan saya adalah ajaran baik. Setiap kata dan ajaran saya bisa membawa manfaat bagi kalian. Ini berkat adanya jalinan jodoh baik. Berkat adanya jalinan jodoh baik, kalian bisa menyerap ajaran saya ke dalam hati.

Saat mendengar ajaran yang sesuai kapasitas kalian, kalian dapat mentransformasi noda dan kegelapan batin menjadi kebijaksanaan. Saudara sekalian, bukankah kalian juga mentransformasi noda batin menjadi kebijaksanaan?


Sebagai makhluk awam, memahami begitu banyak kebenaran dan mentransformasi semua noda batin menjadi kebijaksanaan sekaligus memang agak mustahil. Namun, kita bisa mentransformasinya sedikit demi sedikit. Saat mendengar Dharma, kita harus mengubah pola pikir dan menggenggam jalinan jodoh untuk melakukan hal yang benar.

Kita hendaknya saling membantu untuk melenyapkan noda dan kegelapan batin. Saat seseorang diliputi kegelapan batin, kita hendaknya memperhatikannya. Dia mungkin akan berkata, "Tadi, sikap dan kata-kata seseorang telah melukai hati saya. "Lalu, kita dapat membantu membersihkan kabut yang menutupi cermin batinnya. Setelah itu, kita bisa berkata, "Lihatlah baik-baik. Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Kita hendaknya menjalin jodoh baik dengan semua orang."

Kita harus menggunakan berbagai cara untuk menghapus noda dan kegelapan batin. Inilah Dharma. Kita meneladan Buddha dengan mempelajari ajaran-Nya. Buddha telah mencapai pencerahan. Saya sering berkata bahwa di antara "belajar" dan "sadar", terdapat sebuah jalan, yaitu Jalan Bodhisatwa.

Saat saya berkunjung ke sini, kalian sering meminta saya untuk membabarkan Dharma. Saya merasa bahwa saya telah membabarkan banyak Dharma dan tak ada lagi yang bisa disampaikan. Sesungguhnya, yang terpenting ialah belajar. Dengan belajar, barulah kita bisa tersadarkan. Apakah yang harus kita pelajari? Praktik Bodhisatwa.

Memahami ketidakkekalan dan mendengar ajaran kebajikan
Memahami hukum sebab akibat dengan bijaksana
Memberikan bimbingan di tengah orang banyak sesuai kapasitas masing-masing
Mempelajari praktik Bodhisatwa dengan cermin batin yang jernih

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 03 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 05 April 2026
Apa yang kita lakukan hari ini adalah sejarah untuk hari esok.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -