Ceramah Master Cheng Yen: Membangkitkan Cinta Kasih Agung dan Ketulusan untuk Saling Mencurahkan Perhatian


“Dahulu, saya bekerja di industri teknologi yang semuanya berorientasi pada target. Apa pun yang dikatakan atasan, bagaimanapun caranya harus bisa dilakukan. Namun, Tzu Chi adalah sebuah organisasi yang menjunjung nilai cinta kasih dan kasih sayang. Sesuatu yang benar belum tentu tepat dalam penerapannya. Semuanya tetap perlu dipertimbangkan dengan harmonis dan berlapang hati. Kita perlu memikirkan apa yang paling baik bagi para relawan. Semua ini harus dipelajari dan dipahami secara perlahan oleh diri sendiri,”
kata Lin Mei-miao, Ketua Tim Urusan Tzu Chi Kaohsiung dan Pingtung.

“Dari proses tersebut, saya juga menyadari bahwa sebagai staf, kami hendaknya tak hanya bekerja di kantor, tetapi juga perlu turun langsung ke tengah komunitas untuk mendampingi para relawan. Dalam setiap kegiatan, sesungguhnya yang turut bertumbuh juga ialah diri kita sendiri,” pungkas Lin Mei-miao.

“Ada relawan yang berkata kepada saya, ‘Saya melihat kalian yang ada di Divisi Kerohanian itu bekerja sangat keras. Kalian sering mengorbankan waktu libur demi mengurus kegiatan maupun urusan organisasi ini.’ Saya berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya, kami tidak merasa lelah. Saya justru merasa bersyukur karena bisa menjalankan Tzu Chi setiap hari. Selain itu, setiap kali tugas selesai, melihat wajah relawan yang penuh sukacita dan senyum merupakan hiburan terbesar bagi kami. Itulah bekal semangat terbesar bagi kami. Hal ini juga sangat menyentuh kami.’ Saya berharap dapat mengubah rasa haru menjadi tindakan nyata sehingga saya dapat terus belajar di jalan Tzu Chi dengan tekun dan bersemangat,” kata Wang Yi-wen, Staf Urusan Tzu Chi Taiwan Utara.

Interaksi dan kepedulian antarmanusia adalah sesuatu yang wajar dilakukan di dalam keluarga. Terhadap orang lain, kita juga harus memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri. Inilah yang disebut dengan keluarga besar. Jadi, manusia perlu adanya rasa peduli satu sama lain. Buddha datang ke dunia dengan satu tujuan utama, yaitu membimbing semua makhluk di dunia membangkitkan cinta kasih agung dengan hati yang lapang. Inilah Dharma menakjubkan tertinggi yang ingin diajarkan Buddha di dunia.


Dharma sangatlah banyak sehingga tidak mungkin dijelaskan semuanya. Dharma juga sangat mendalam sehingga tidak dapat dijelaskan sampai benar-benar dipahami secara menyeluruh. Hanya satu yang dapat mewakili semuanya, yaitu "cinta kasih". Cinta kasih ini bukan sekadar diucapkan karena diucapkan saja belum tentu dapat dipahami. Cinta kasih harus dipraktikkan lewat tindakan nyata.

Selama 60 tahun ini, saya menjalankan semuanya atas dasar cinta kasih. Cinta kasih haruslah tulus dan sungguh-sungguh. Cinta kasih yang tulus adalah yang paling luhur. Saya masih ingat ketika Tzu Chi mulai melangkah keluar dari Hualien dan menjangkau seluruh Taiwan. Wilayah pertama yang menjadi tujuan ialah Taipei. Semuanya dimulai dari Jing Ming.

Kalian yang masih muda sekarang mungkin tidak mengenalnya. Beliau adalah anggota komite Tzu Chi pertama di Taipei. Beliau sangat tulus dan ramah. Di Taipei, Jing Ming juga mengajak 3 sahabat lainnya sehingga total ada 4 anggota komite Tzu Chi. Mereka sering datang ke Hualien dan bersungguh hati mempraktikkan cinta kasih Tzu Chi. Setiap 3 bulan sekali, mereka melakukan kunjungan ke keluarga kurang mampu.

Saya juga menaruh harapan besar kepada kalian sebagai Bodhisatwa dunia. Kalian memiliki jalinan jodoh yang baik dengan Tzu Chi sehingga dapat bergabung di sini. Kalian bukan hanya staf, melainkan juga relawan. Hendaknya kalian memiliki semangat misi tanpa memperhitungkan waktu dan seberapa banyak pekerjaan yang telah dilakukan. Sesungguhnya, saya sering mengatakan bahwa apa yang kita lakukan, itulah yang benar-benar menjadi milik kita.

Baik staf maupun relawan, kita harus terus menginventarisasi kehidupan. Jika ada orang yang melaporkan suatu kasus, hendaknya kita segera meminta seseorang untuk melakukan survei. Jika komite Tzu Chi tidak memiliki waktu, saya harap para staf juga dapat meluangkan waktu untuk melakukan survei. Jika terlambat beberapa hari aja, mungkin kita tidak sempat lagi menolong mereka. Jadi, selain cinta kasih, ada 2 hal lainnya yang harus kita perhatikan, yaitu kesungguhan dan ketulusan. Gunakanlah hati yang tulus dan benar untuk membantu mereka yang hidup dalam kesulitan.


Saya sangat bersyukur karena hingga saat ini, masih ada begitu banyak anggota komite Tzu Chi dan Tzu Cheng. Kegiatan besar kita tidak akan bisa diadakan tanpa para anggota komite Tzu Chi dan Tzu Cheng. Kita bukan sekadar memberikan bantuan bulanan saja, melainkan benar-benar memperhatikan kondisi keluarga mereka.

Di setiap wilayah, kita perlu mengunjungi lurah setempat dan berkomunikasi dengan mereka. Para anggota komite Tzu Chi setempat juga bisa diajak untuk berkomunikasi dengan mereka. Jika di kelurahan mereka ada warga yang hidup dalam kesulitan, sakit, atau membutuhkan pertolongan, mereka dapat memberi tahu kita.

Tiga puluhan tahun yang lalu, saya berkata, "Jika kita tidak segera bersumbangsih, suatu saat nanti mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk bersumbangsih." Sekarang, kita harus berinisiatif menjangkau orang yang membutuhkan karena saat ini, mungkin sangat sulit bagi mereka untuk meminta bantuan sendiri. Kini, kita harus berinisiatif mencari mereka.

Dalam lingkup tugas kita masing-masing, kita harus berusaha sebaik mungkin. Jika anggota komite Tzu Chi tidak sempat pergi, apakah kita bisa meluangkan sedikit waktu untuk berkunjung melihat kondisi sekitar? Jika jaraknya tidak jauh, kalian dapat mengunjungi komunitas setempat, bertemu dengan lurah, dan memohon bantuan mereka untuk melaporkan kasus kepada kita. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)

Jadi, dalam menjalankan misi amal, kita harus benar-benar membangkitkan cinta kasih, welas asih, dan pikiran baik. Kita pasti bisa melakukannya.


Di Taiwan Tengah, kami senantiasa mencurahkan perhatian kepada saudara se-Dharma, baik melalui kunjungan rutin, pemasangan alat pegangan tangan, maupun kunjungan pada hari-hari raya. Semua saudara se-Dharma yang sudah lansia benar-benar kami anggap seperti orang tua sendiri,” kata Ji Yi-lun, Staf Divisi Kerohanian Tzu Chi.

“Nenek saya sudah terbaring di tempat tidur selama beberapa tahun. Saat saya mengajukan permohonan alat bantu, seorang relawan langsung membantu mengirimkannya di keesokan harinya. Sumbangsih tanpa pamrih dari Bibi dan Paman Tzu Chi  sangat memengaruhi saya dan membuat saya makin bertekad untuk memberikan pelayanan kepada saudara se-Dharma dan para relawan. Master, tenanglah. Kami akan menjaga para Bodhisatwa lansia dengan baik,” pungkas Ji Yi-lun.

Jika kalian dapat melakukannya, saya merasa tenang. Hal-hal yang memang perlu dilakukan, kita tetap harus bersiteguh melakukannya. Misalnya, alat pegangan tangan itu harus dipasang.

Tahun ini, untuk berbicara dengan semua orang saja terasa makin sulit. Kesempatan untuk saya bepergian keluar juga makin sedikit. Saya berharap kalian dapat saling menjaga hubungan. Meski berada di tempat yang berbeda-beda, tetaplah sering menjalin kebersamaan dan saling berinteraksi. Hendaknya kita memperpanjang jalinan kasih sayang dan saling menyemangati.

“Kami akan menyatukan profesi dan misi untuk mewariskan silsilah Dharma. Kami tidak akan melupakan tekad awal dan akan terus melayani dengan tekun serta bersemangat. Setelah 60 tahun menjalani semangat celengan bambu, kami akan terus berjalan di mazhab Tzu Chi untuk melindungi semua makhluk di segala penjuru. Master, tenanglah.”

Mempraktikkan Dharma yang menakjubkan secara nyata
Saling mencurahkan perhatian dengan hati yang lapang dan cinta kasih yang luas
Menyatukan profesi dan misi serta menginventarisasi kehidupan
Bersumbangsih dengan tulus kepada semua makhluk di segala penjuru.

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 12 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 14 April 2026
Saat membantu orang lain, yang paling banyak memperoleh keuntungan abadi adalah diri kita sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -