Ceramah Master Cheng Yen: Membangkitkan Ikrar dan Praktik Tanpa Penyesalan serta Menjalin Jodoh Baik


“Saya sangat bersyukur karena melalui penyakit inilah saya tersadarkan bahwa kehidupan ini sungguh tidak kekal. Oleh karena itu, saya harus benar-benar menggenggam dan menghargai waktu untuk terus tekun dan bersemangat,”
kata Zheng Qiu-qin, relawan Tzu Chi.

“Selama di rumah sakit, saya tetap bangun pukul 4 pagi dan terhubung secara daring dengan Griya Jing Si untuk mengikuti kebaktian pagi dan menghirup keharuman Dharma. Saya memotivasi diri sendiri untuk makin tekun dan bersemangat dalam mendengarkan Dharma serta mempraktikkannya melalui Tzu Chi,” lanjut Zheng Qiu-qin.

“Suami saya juga menderita penyakit langka. Namun, dalam perjalanan ini, ketika menyaksikan bagaimana berkat ajaran Master, saya dapat menghadapi penyakit dengan pikiran benar, memusatkan hati dan tenaga pada Empat Misi Tzu Chi dan Delapan Jejak Dharma, serta tekun menggarap ladang berkah di Jalan Bodhisatwa, dia merasa sangat tersentuh. Saat ini, dia telah dilantik dan bergabung dalam keluarga besar Tzu Chi,” pungkas Zheng Qiu-qin.

Bodhisatwa sekalian, saya merasa sangat bersukacita. Saya sangat senang mendengar kisah kalian. Namun, ingatlah bahwa kisah yang diceritakan harus kisah nyata. Saya telah membabarkan Dharma selama 50 hingga 60 tahun. Saat ini, tenaga saya untuk berbicara memang tidak sekuat dulu. Jadi, saya berharap bahwa selagi saya masih ada dan masih bisa mendengar, saya ingin mendengar bagaimana awalnya kalian mengenal saya, memilih untuk mengikuti saya, hingga bersama-sama mendukung Tzu Chi dan menjadi pelindung Dharma.

Saya selalu berharap kalian tidak pernah menyesal bergabung dengan Tzu Chi. Apakah kalian menyesal? (Tidak.) Saya merasa tenang. Kalian bukan hanya tidak menyesal, tetapi juga telah menabur benih kebajikan. Di mana pun ada ladang batin yang berjodoh, di situlah kita menabur. Benih yang kalian tanam di dalam kehidupan orang lain disebut dengan jalinan jodoh berkah. Seperti kalimat ini, "Sebelum mencapai kebuddhaan, kita harus terlebih dahulu menjalin jodoh baik," melatih diri dan menapaki Jalan Bodhisatwa berarti menjalin jodoh baik dengan banyak orang.


Ketika kalian meletakkan celengan bambu di toko-toko, saya merasa sangat bersukacita. Inilah melatih diri yang sesungguhnya. Kalian menurunkan ego dan melepaskan status diri untuk turun ke jalan dan menyerukan kepada semua orang tentang praktik 50 sen agar setiap orang tahu tentang keberadaan organisasi kita yang memiliki misi untuk berbuat baik. Hendaknya kita mengetuk hati setiap orang melalui perbuatan baik.

Di mana pun ada yang membutuhkan, kita harus segera pergi untuk membawa bantuan. Itulah sebabnya saya selalu mengatakan bahwa kebaikan kecil yang terhimpun dapat mewujudkan hal besar. Misi besar memang dijalankan dengan cara demikian. Selama ini, kita selalu berbicara tentang membangkitkan cinta kasih. Ketika cinta kasih itu bangkit, batin secara alami akan menginspirasi diri sendiri. Saat kita membangkitkan cinta kasih, di dalam hati akan muncul perasaan bahwa membantu orang lain adalah hal yang paling membahagiakan.

Ketika pergi ke toko-toko, kalian juga harus menceritakan kisah-kisah agar mereka tahu bagaimana Tzu Chi dimulai 60 tahun yang lalu, bagaimana kita menangani banyak kasus di Hualien, dan bagaimana saat ini kita menjalankan bantuan internasional di tengah dunia yang penuh bencana. Semua itu berdiri di atas fondasi yang telah dibangun sejak dahulu sehingga kita bisa langsung bergerak ketika ada kebutuhan.


Bagi saya sendiri, ketika menginventarisasi kehidupan, saya merasa terhibur karena teringat 60 tahun yang lalu, muncul sebersit niat untuk mengetuk hati setiap orang untuk membantu sesama. Berkat niat yang telah dijalankan selama 60 tahun, begitu banyak orang bersatu dan terhubung dalam jalinan jodoh agung. Jadi, hendaknya kita memahami bahwa perbuatan baik tidak boleh terhenti. Ini bukan demi uang, melainkan demi menabur benih kebajikan di dalam hati semua orang.

Jika kita sebagai insan Tzu Chi sudah merasa stabil dalam menjalankan misi, saya justru merasa khawatir. Saya khawatir jika kita menjadi terlalu tenang dan tidak lagi menggarap ladang pahala. Setiap orang memiliki sebidang ladang berkah. Jika bukan diri kita sendiri, siapa yang akan menggarapnya? Ladang berkah itu harus digarap sendiri. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)

Hendaknya kita menggarap ladang berkah kita sendiri dan membangkitkan cinta kasih. Inilah yang disebut dengan menapaki Jalan Bodhisatwa. Inilah tujuan Buddha datang ke dunia, yaitu mengajarkan semua orang untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Inilah harapan Buddha. Semua makhluk membutuhkan ajaran Buddha agar tidak tersesat. Sedikit saja penyimpangan, akan membuat kita tersesat jauh. Jadi, Buddha datang ke dunia untuk menunjukkan arah kehidupan yang benar. Arah hidup yang jelas ialah menapaki Jalan Bodhisatwa. Bagaimana kita menapaki Jalan Bodhisatwa?


Dahulu, ketika ada bencana, kita mengajak semua orang untuk membantu. Saat ini, dengan cuaca dan iklim yang bersahabat, dunia ini sangatlah aman dan damai. Namun, jika tidak ada perbuatan baik yang dilakukan, bagaimana kita menapaki Jalan Bodhisatwa? Seolah-olah jalan itu belum terbuka. Justru pada saat seperti ini, kita harus menanam berkah untuk kehidupan mendatang serta membentangkan Jalan Bodhisatwa untuk kehidupan saat ini.

Dalam keadaan aman dan damai, kita tetap harus membangkitkan cinta kasih di toko-toko dan turun ke jalan untuk menggalang dana. Kekuatan cinta kasih tidak boleh diremehkan. Jangan karena kecil lalu enggan melakukannya. Justru kita harus memulai dari hal-hal kecil. Hendaknya kita membagikan prinsip dan semangat ini kepada banyak orang. Jika kalian memiliki tekad, sering-seringlah mengikuti informasi tentang apa yang tengah saya serukan. Kita juga memiliki Da Ai TV yang kerap menyampaikan berbagai informasi. Hendaknya kalian menyimaknya.

Tetesan air dapat membentuk sungai dan butiran beras dapat memenuhi bakul. Ketika semua orang berhimpun, kita dapat mewujudkan pahala yang besar. Inilah yang harus kita lakukan. Waktu berlalu begitu cepat. Terima kasih atas kekuatan cinta kasih kalian semua. Jangan pernah berhenti dalam menapaki Jalan Bodhisatwa. Hendaknya kalian berjalan langkah demi langkah dengan tekun dan bersemangat. Terima kasih.

Mengikuti Guru untuk menjadi pelindung Dharma tanpa adanya penyesalan
Menghargai jalinan jodoh, menabur benih kebajikan, dan menjalin jodoh baik
Terjun ke tengah masyarakat dengan menurunkan ego
Mengajak insan berhati mulia untuk bersama-sama menggarap berkah

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 02 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 04 Maret 2026
Apa yang kita lakukan hari ini adalah sejarah untuk hari esok.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -