Ceramah Master Cheng Yen: Membangun Cinta Kasih Berkesadaran dengan Welas Asih dan Kebijaksanaan
“Pada awalnya, jumlah alat bantu yang kami salurkan di Qishan tidak banyak. Hanya saya dan istri saya yang mengantarkan semuanya. Namun, seiring bertambahnya kebutuhan, tim Heqi mulai bergerak bersama,” kata Li Lian-fang, relawan Tzu Chi.
“Wilayah Qishan cukup luas. Kami memiliki dua tempat penyimpanan alat bantu, satu di Neimen, satu lagi di Meinong. Jika harus mengantarkan alat bantu dari Neimen ke Namaxia, perjalanan satu arah bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Untuk pergi ke Taoyuan, waktunya hampir dua jam; ke Maolin juga sangat jauh karena berada di pegunungan, biasanya memerlukan waktu lebih dari satu jam,” lanjut Li Lian-fang.
“Setiap kali mengantarkan alat bantu ke rumah penerima, saya juga membantu memasangnya, mengajarkan cara pemakaiannya, dan mencurahkan perhatian kepada mereka. Satu kunjungan menghabiskan waktu setengah hari,” pungkas Li Lian-fang.
Mendengar tentang wilayah Qishan, banyak daerah di sana harus ditempuh melalui jalan pegunungan. Saya ingin mengingatkan kalian bahwa saat turun hujan, jangan memaksakan diri mengemudi ke daerah pegunungan. Kalian harus saling menjaga dan saling mengingatkan. Keselamatan dan keamanan harus selalu menjadi yang utama.
Kalian harus tahu bahwa saya selalu memperhatikan setiap wilayah. Jika ingin berbakti kepada saya, kalian harus membuat saya merasa tenang dengan selalu mematuhi aturan. Dengan begitu, saya akan merasa tenang.
Dalam kehidupan, sangat jarang ada kesempatan untuk saling bertemu, apalagi memiliki jalinan jodoh seperti sekarang yang dapat membantu satu sama lain. Ini benar-benar sesuatu yang sangat berharga. Zaman sekarang, setiap wilayah memiliki banyak lansia. Jadi, kita perlu membangun kebajikan yang mendalam.
Kebajikan yang mendalam berarti memiliki cinta kasih yang lebih besar sehingga setiap orang dapat menumbuhkan keluhuran. Mereka yang luhur akan memperoleh pencapaian. Ketika kita membentangkan cinta kasih dan menggandeng orang untuk berjalan, sesungguhnya kita sedang membina keluhuran. Jika kita mampu mengajak orang lain menapaki Jalan Bodhisatwa dan terus bertumbuh, mereka akan memperoleh keluhuran dalam hidupnya. Mereka yang luhur akan memperoleh pencapaian.
Hendaknya kita menginspirasi semua orang agar mereka memahami prinsip-prinsip kebenaran. Jika mereka mendengar kata-kata yang baik dan mempraktikkan hal baik, ini akan bermanfaat bagi komunitas. Inilah yang disebut dengan menciptakan berkah.

“Saat pertama kali melihat Tzu Chi melakukan begitu banyak perbuatan baik di masyarakat, saya merasa sangat tersentuh. Saya juga merasa bahwa Tzu Chi adalah sebuah kelompok yang penuh cinta kasih. Sejak saat itu, seluruh keluarga kami perlahan-lahan mulai ikut berpartisipasi. Awalnya, kami mendukung dengan berdonasi setiap bulan. Kemudian, atas ajakan Kakak Yong-chang, keluarga kami mulai mengikuti berbagai kegiatan Tzu Chi,” kata Li Min-hua, relawan Tzu Chi.
“Setiap kali kami mengantarkan alat bantu kepada orang yang membutuhkan dan melihat senyum mereka setelah dapat menggunakannya, hati kami selalu dipenuhi dengan sukacita Dharma. Kami merasa bahwa ini adalah pekerjaan yang membawa pahala yang tak terhingga. Tahun depan, keluarga kami berjumlah 4 orang akan mengikuti pelatihan relawan. Kami berharap dapat terus melangkah di Jalan Bodhisatwa,” pungkas Li Min-hua.
Hendaknya kita menghormati Buddha, mendengarkan Dharma, dan menapaki Jalan Bodhisatwa dalam kehidupan sehari-hari, sama seperti yang sedang kita lakukan sekarang. Lihatlah tim kalian ini, betapa indahnya. Ketika masyarakat melihat kalian, mereka langsung tahu bahwa kalian adalah relawan Tzu Chi yang sedang melakukan kebaikan.
Ketika ada keluarga mengalami kesulitan, akan ada orang yang memberi tahu kalian dan meminta kalian untuk melihatnya. Melihat citra yang telah dibangun oleh Tzu Chi, mereka bersedia memberitahukan kepada kita siapa saja yang membutuhkan bantuan. Dengan cara itulah, kita dapat menemukan mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan. Inilah tujuan kita.
Untuk menapaki Jalan Bodhisatwa, kita harus bersumbangsih dan meringankan penderitaan manusia. Inilah tujuan utama kita hadir di dunia. Ini juga merupakan tujuan kita menjalankan Tzu Chi. Tujuan Buddha datang ke dunia ialah mengajarkan praktik Bodhisatwa dan menapaki Jalan Bodhisatwa.

Saudara sekalian, kalian semua telah dibimbing. Kalian memahami bahwa melakukan perbuatan baik berarti sedang menapaki Jalan Bodhisatwa. Di dunia ini ada begitu banyak orang. Berkat adanya organisasi seperti Tzu Chi, kita bisa memiliki jalinan jodoh untuk menjangkau berbagai kasus. Jadi, hendaknya kita bersungguh hati.
Ketika menerima sebuah kasus, kita perlu melakukan penilaian terlebih dahulu. Kita harus memahami kondisi kehidupan keluarga tersebut. Terlebih lagi, di zaman sekarang banyak orang yang masih dipengaruhi oleh kegelapan batin. Jadi, kita harus menilai terlebih dahulu kebenaran kondisi yang dilaporkan. Kita tidak boleh lengah dan harus meningkatkan kewaspadaan diri. Saat keluar masuk lingkungan tertentu pun, kita harus berhati-hati.
Ketika menerima laporan suatu kasus, kita perlu menyikapinya dengan penuh kehati-hatian. Semua ini adalah latihan untuk membangun kebijaksanaan kita. Kebijaksanaan tidak muncul begitu saja, melainkan harus dilatih di tengah masyarakat. Kesempatan untuk menciptakan berkah juga hanya dapat ditemukan di tengah kehidupan manusia karena di dunia inilah ada orang-orang menderita. Jadi, segala praktik Bodhisatwa dilakukan di tengah masyarakat.
Kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk menentukan pilihan yang tepat. Jadi, hendaknya semua orang saling menyemangati. Jika menghadapi pengalaman tertentu, bagikanlah kepada sesama relawan. Dengan begitu, semua orang dapat memahami bahwa memang ada berbagai situasi di masyarakat dan tahu cara menghadapinya. Pengetahuan seperti ini juga penting untuk kita miliki.

Pengetahuan bukan sekadar mengetahui, tetapi harus disertai pemahaman yang jelas. Inilah yang disebut kebijaksanaan. Aksara Tionghoa "bijaksana" terdiri atas aksara "tahu" dan "matahari". Artinya, apa yang kita ketahui itu harus jelas dan terang, bukan sekadar berkata, "Saya tahu," lalu membiarkannya begitu saja tanpa pemahaman. Ketika mengatakan tahu, kita harus benar-benar memahaminya.
Aksara Tionghoa "matahari" memiliki makna cerah, yaitu tidak dipenuhi kebingungan dan kegelapan batin, melainkan melihat segala sesuatu dengan terang seperti mata yang melihat jauh dengan jelas di siang hari. Itulah yang disebut kebijaksanaan. Selain kebijaksanaan, kita harus memiliki kearifan. Kebijaksanaan membuat kita melihat dengan jelas; kearifan membuat kita tetap tenang. Hakikat manusia pada dasarnya tenang dan tidak gegabah. Inilah yang disebut kearifan.
Dalam melakukan segala sesuatu, kita harus memiliki kebijaksanaan untuk mengambil keputusan dengan tepat. Jika dapat melakukannya, kita sedang menjalankan peran sebagai Bodhisatwa dunia. Ini disebut dengan makhluk dengan cinta kasih berkesadaran, yaitu Bodhisatwa. Hendaknya kalian bersungguh hati.
Membentangkan cinta kasih dengan kebajikan yang mendalam
Menolong dengan tindakan nyata dan menjalin jodoh berkah
Menapaki Jalan Bodhisatwa dengan welas asih dan kebijaksanaan
Menjadi makhluk dengan cinta kasih berkesadaran yang jernih
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 13 Juni 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 15 Juni 2026







Sitemap