Ceramah Master Cheng Yen: Membangun Ikrar Bajik dalam Perbuatan, Perkataan, dan Pikiran


Saat ini, dunia sungguh dipenuhi penderitaan. Perubahan iklim menyebabkan hujan deras dan angin kencang yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bencana besar. Penderitaan terjadi di mana-mana. Hendaknya semuanya bersungguh hati untuk menghimpun kekuatan cinta kasih. Meski sedikit, jika dilakukan secara berkelanjutan, akan membentuk kebajikan besar.

“Saya berterima kasih kepada relawan Tzu Chi Filipina. Kehadiran kalian menjadi kekuatan bagi kami untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan,” kata Alberto, Warga.

“Sebagai kepala desa, saya sangat bahagia atas kedatangan relawan Tzu Chi. Bantuan yang diberikan sangat berarti bagi warga karena mereka sedang berada dalam masa pemulihan,” kata Rosinie, Kepala desa.

“Saya hanya memasukkan 5 peso ke dalam celengan bambu, tetapi apa yang saya terima dari Tzu Chi jauh lebih besar. Lihatlah, saya mendapatkan satu karung beras, berbagai bahan makanan dan kebutuhan pokok, bahkan ada bantuan dana untuk memperbaiki rumah. Saya hanya berdonasi 5 peso, tetapi memperoleh banyak,” kata Cerenia, Warga.

Tanpa membeda-bedakan agama, selama ada orang yang mengalami kesulitan, kita harus bersama-sama membantu. Inilah cinta kasih. Cinta kasih itu bagaikan air. Belakangan ini, banyak orang merasa cemas karena sumber air makin mengering. Saya sering berkata kepada semuanya untuk menghargai air dan menyayangi air bagaikan emas. Saat menggunakan air pun, kita harus hemat.

Ketika keran dibuka, segera tampung air dengan ember. Setelah mencuci tangan, airnya jangan langsung dibuang, biarkan agar bisa digunakan oleh orang berikutnya. Setelah selesai, barulah air itu diganti dan digunakan secukupnya untuk membilas agar kebersihan tetap terjaga. Kebersihan tidak harus dicapai dengan membiarkan air mengalir dan terbuang sia-sia. Dengan tahu cara menggunakan air, kita menunjukkan rasa menghargai air.


Hendaknya insan Tzu Chi terus menyerukan cinta kasih. Menghargai air juga merupakan wujud cinta kasih. Tetes demi tetes yang terkumpul untuk membantu orang lain juga merupakan wujud cinta kasih. Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, kita juga perlu hidup hemat. Dari penghematan kecil yang terus dilakukan, akan terkumpul dana yang bisa digunakan untuk menolong banyak orang.

Terkadang, ada orang yang bertanya, "Mengapa Anda tidak memberi bantuan kepada saya, tetapi justru mengajak saya untuk membantu orang lain?" Jika mendengar pertanyaan itu, saya merasa sangat khawatir. Janganlah kita berharap menjadi orang yang selalu menerima bantuan. Itu bukan harapan yang baik. Kita harus membangun ikrar yang baik dan percaya pada diri sendiri bahwa kita bisa membantu orang lain. Inilah harapan dan ikrar yang baik. Kalaupun bukan sekarang, kelak ketika ada jalinan jodoh, itu juga merupakan ikrar yang baik.

Jangan pernah berkata, "Mengapa tidak membantu saya?" Kalimat itu sebaiknya tidak diucapkan. Singkat kata, setiap orang harus membangun ikrar yang baik dan mempraktikkannya secara nyata. Kita bisa melihat bahwa selama orang yang menderita memiliki jalinan jodoh, kita bisa mendengar penderitaan mereka dan segera bersumbangsih.

“Ketika saya melihat dengan sungguh-sungguh setiap orang yang datang ke sini, saya menjadi paham apa yang bisa saya lakukan untuk mereka. Pasien di sini banyak yang lansia. Jadi, saya bersedia untuk bersumbangsih,” kata Magtar, Pengungsi Somalia.

“Dalam kehidupan sehari-hari, sangat sulit bagi saya untuk memiliki kesempatan terlibat langsung dalam membantu para pengungsi, terutama karena keterbatasan kondisi ekonomi. Namun, melalui Tzu Chi, saya dapat menjadi bagian dari mereka yang bersumbangsih. Tidak hanya terlibat secara nyata, saya juga dapat memberikan cinta kasih dan perhatian,” kata Petake Sudjai, relawan.


Inilah yang disebut melihat berkah, menciptakan berkah, dan memperoleh berkah. Berkah itu diciptakan oleh diri kita sendiri, bukan dengan meminta dari orang lain. Meski orang lain mendoakan Anda, jika Anda tidak menciptakan berkah, tetap saja tidak akan membuahkan hasil. Ketika kita sendiri menciptakan berkah, meski tidak ada orang yang mendoakan, kita tetap memiliki berkah. Singkat kata, berkah harus diciptakan oleh diri sendiri.

Tentu saja, kita perlu memiliki keyakinan dan rasa hormat terhadap Tiga Permata. Ajaran Buddha yang hadir di dunia mampu menumbuhkan tata krama dan cinta kasih dalam diri setiap orang. Ketika melihat rupang Buddha di vihara, mengapa orang-orang akan memberi hormat dan bersujud? Semua itu adalah proses membina keyakinan dan melatih tata krama. Ketika bertemu dengan anggota Sangha, kita juga harus memberi hormat karena mereka adalah representasi dari Tiga Permata, yaitu Sangha.

Tiga Permata terdiri atas Buddha, Dharma, dan Sangha. Tentu saja, insan Tzu Chi selalu menjunjung tinggi tata krama dan terus mewariskannya kepada anak cucu. Alangkah baiknya jika anak cucu kita dapat memuji orang tua mereka dengan berkata, "Ibu, apa yang Ibu lakukan membuat kami bahagia," atau, "Ayah, Kakek, Nenek, kami sangat mengagumi kalian."

Anak-anak yang memuji kebajikan orang tuanya adalah anak-anak yang dipenuhi berkah karena benih kebajikan telah tertanam di hati mereka. Ketika mereka tidak menentang dan justru memuji apa yang kalian lakukan, kelak mereka akan terdorong untuk ikut berbuat baik. Pendidikan kebajikan sangatlah penting. Ada begitu banyak hal yang patut disyukuri.

Bagaimana cara kita menyebarkan ajaran Buddha? Kita memulainya dari misi amal. Saya memikirkan bagaimana cara menyebarkannya. Setelah misi amal dijalankan secara matang, kita memulai misi budaya humanis dengan mendirikan Da Ai TV. Saat itu, satu jam dalam sehari, UTV membantu kita menyebarkan kebajikan. Bertahun-tahun kemudian, Da Ai TV resmi berdiri. Saya merasa sangat bersyukur.


Kebajikan berawal dari satu niat baik. Jangan menunggu sampai merasa memiliki banyak atau merasa cukup, baru mulai berbuat baik. Mulailah dari sedikit kebajikan yang akan berkembang menjadi lebih luas dan besar. Inilah semangat awal berdirinya Tzu Chi. Kini, melalui Da Ai TV, kita bisa memahami berbagai peristiwa internasional.

Sejak berdiri, program Da Ai TV selalu bersifat edukatif. Orang-orang sering berkata, "Wariskanlah kebajikan kepada anak cucu." Kini, kita telah membangunnya dan mulai mewariskannya secara nyata. Apa yang kita dan Tzu Chi lakukan, semuanya berawal dari kisah 50 sen di Hualien yang kemudian tersebar hingga ke berbagai negara dan menolong banyak orang. Semua ini dimungkinkan berkat semangat praktik 50 sen.

Saudara sekalian, janganlah kita meremehkan jumlah yang kecil. Hendaknya semuanya bersungguh hati dan tidak meremehkan cinta kasih yang kecil. Himpunan cinta kasih kecil akan mewujudkan cinta kasih agung. Masih banyak pembelajaran yang bisa dibagikan. Intinya, hal yang benar harus terus dilakukan.

Jagalah semangat "Toko Cinta Kasih". Ceritakan dan perkenalkan Tzu Chi setiap kali bertemu orang. Ajaklah mereka menonton Da Ai TV agar memahami jalan hidup yang seharusnya ditempuh. Ini sangatlah penting. Hendaknya kita menyebarkan ajaran Buddha dan menceritakan kebajikan di dunia. Inilah yang disebut menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk.

Membangun ikrar bajik melalui perbuatan, perkataan, dan pikiran
Tergerak membantu saat mendengar dan melihat penderitaan
Menghormati Tiga Permata dan menyebarkan ajaran bajik
Menghimpun tetes demi tetes kebajikan demi membawa manfaat bagi semua makhluk 

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 31 Desember 2025
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 02 Januari 2026
Kekuatan akan menjadi besar bila kebajikan dilakukan bersama-sama; berkah yang diperoleh akan menjadi besar pula.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -