Ceramah Master Cheng Yen: Membangun Ikrar untuk Berpegang Teguh pada Tekad Awal


“Murid Jing Si Taiwan Utara berikrar untuk mewariskan silsilah Dharma dan menyebarkan mazhab Tzu Chi. Kami tidak akan melupakan tekad awal dan akan terus berpegang teguh pada tekad. Berjalan bersama Master, kami bersedia.”

Bodhisatwa senior sekalian, saya merasa sangat bersyukur. Sejak puluhan tahun yang lalu, setelah semuanya pertama kali membangkitkan satu niat, kalian tetap teguh dan tidak pernah mundur. Cinta kasih kita terus diwariskan tanpa henti, baik kepada generasi pertengahan maupun generasi muda sehingga mereka dapat melangkah dan melayani dengan hati yang mantap. Keteguhan hati inilah yang telah membentangkan jalan Tzu Chi dengan begitu rata dan luas.

Sejak awal kita membangkitkan niat hingga sekarang, kita terus-menerus memperhatikan setiap misi yang ada. Seperti saya sendiri, pada masa awal mendirikan Tzu Chi juga sangat sulit. Namun, ada begitu banyak orang yang terus memberikan dukungan kepada saya. Saya pun menggandeng mereka erat-erat dan tidak rela melepaskan mereka. Jadi, saya berharap kita dapat terus bergandengan dengan erat agar semangat ini dapat diwariskan dari generasi ke generasi tanpa pernah mengendur.

Semoga di masa depan, ketika terlahir kembali, kita masih dapat meneruskan semangat ini sampai dunia berubah menjadi Tanah Suci. Inilah ikrar yang saya bangun. Saya berharap kalian memiliki kesatuan hati, tekad, dan ikrar dengan saya. Tidak peduli berapa kali kita terlahir kembali, hendaknya kita terus melanjutkan misi Tzu Chi hingga dunia yang penuh dengan Lima Kekeruhan ini berubah menjadi Tanah Suci. Inilah ikrar agung yang sesungguhnya.


Kita bukan hanya bertekad untuk satu kehidupan saja, melainkan kehidupan ke kehidupan. Kita harus bertekad untuk membimbing semua makhluk. Selama semua makhluk belum semuanya terselamatkan, kita tidak akan mencapai kebuddhaan. Bodhisatwa Ksitigarbha berkata bahwa selama neraka belum kosong, ia tidak akan mencapai kebuddhaan.

Hendaknya kita berikrar untuk tidak membiarkan siapa pun jatuh ke neraka. Di dunia ini, kita harus membimbing setiap orang agar menjadi Bodhisatwa dan tidak membiarkan mereka melangkah ke pintu neraka. Kita selalu berharap dapat membangun tekad dan ikrar untuk menapaki Jalan Bodhisatwa serta membimbing semua makhluk untuk turut menapakinya. Jadi, kita tidak boleh berhenti.

Saya sering berkata bahwa saya akan terus membabarkan Dharma hingga tak mampu lagi berbicara. Belakangan ini, berbicara pun terasa sangat berat bagi saya. Saya harus menarik napas untuk dapat berbicara. Sekalipun suatu saat batas usia saya tiba, saya berharap pada embusan napas terakhir, masih dapat berpesan kepada kalian untuk tidak melupakan tekad awal. Saya tidak perlu berkata terlalu banyak. Yang terpenting ialah jangan lupakan tekad awal. Jika tekad awal itu selalu dijaga di dalam hati, langkah kita di Jalan Bodhisatwa tidak akan pernah berhenti hingga akhir.


Lihatlah, belakangan ini, ada sebutir kubis diletakkan di meja saya. Jika kita memperhatikannya lebih saksama, kubis ini begitu indah. Daunnya berlapis-lapis tersusun dengan rapi dan saling membungkus. Bukankah saya sering berkata tentang rasa syukur, toleransi, dan cinta kasih? Dalam melatih diri, kita harus belajar dari kubis ini.

Ketika seseorang menanam benih ke dalam tanah, benih itu harus berjuang untuk bertunas. Di dalam tanah, ketika ingin bertumbuh, ia harus memunculkan tunasnya dengan mengerahkan seluruh kekuatan. Jika tidak, benih itu akan tetap terbungkus di dalam kulitnya yang sangat keras. Ia harus memecahkan dan menembusnya. Betapa besar kekuatan yang dibutuhkan. Ia bahkan masih harus menerobos tanah untuk muncul ke permukaan. Jadi, membangkitkan tekad itu bukanlah hal yang sederhana. Kita harus melewati begitu banyak ujian, barulah tekad itu menjadi sungguh-sungguh dan dapat bertahan lama.

Di dalam sebutir kubis saja, terkandung prinsip kebenaran. Setiap hal di dunia ini pun demikian. Sebuah rumah berasal dari tanah. Tanah itu harus melalui proses pencampuran dengan air dan bahan perekat. Setelah melalui berbagai tahapan, barulah sebuah rumah bisa terbentuk. Ini juga memerlukan keterampilan tangan dan kecermatan batin untuk mendesainnya.

Apakah ukurannya kecil, besar, atau hanya satu bangunan tersendiri? Apakah memiliki taman atau tidak? Jika ingin berbentuk segi empat, bangunan itu memerlukan dinding di sekelilingnya dan ruang tengah sebagai jalur masuk. Semua itu berasal dari pikiran manusia. Oleh karena itu, dikatakan bahwa pikiran itu bagaikan pelukis. Tiada gambar yang tak dapat dilukisnya. Segala rupa dan pola berasal dari pikirannya. Bagi seorang pelukis, selama sesuatu ada di dunia ini, ia dapat melukisnya. Kebijaksanaan kita pun sama seperti itu.


Begitu pula dengan toko-toko cinta kasih. Berkat adanya jalinan jodoh, ketika kita menyerukan tentang "Toko Cinta Kasih", mereka pun tergerak. Banyak dari mereka yang tergerak. Relawan mengenalkan Tzu Chi kepada pemilik toko dan membuat mereka merasa sukacita. Ketika ada orang datang ke toko, mereka pun menceritakan tentang kisah celengan bambu. Dengan cara itulah, program kita berhasil dijalankan dan cinta kasih benar-benar ada di sana.

Setiap pemilik toko bersedia meletakkan celengan bambu di dalam toko dan menyampaikan kata-kata baik untuk menginspirasi para pelanggan. Sebelum mencapai kebuddhaan, hendaknya kita menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Bahkan, pemilik toko pun bisa menjadi Bodhisatwa. Jadi, selama kita mau bersungguh hati, kita bisa menginspirasi semua makhluk di dunia.

Menginspirasi semua makhluk dengan kebajikan dan cinta kasih di Jalan Bodhisatwa
Mengunjungi setiap toko untuk menjalin jodoh baik secara luas
Membangun ikrar untuk berpegang teguh pada tekad awal
Mewariskan semangat dari generasi ke generasi demi mewujudkan tanah suci di dunia

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 03 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 05 Maret 2026
Dengan keyakinan yang benar, perjalanan hidup seseorang tidak akan menyimpang.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -