Ceramah Master Cheng Yen: Membangun Keteladanan dan Tradisi Sekolah
“Setelah pensiun, Profesor Lee Ming-liang dan Guru Liao Ya-hui lebih sering tinggal di Taipei. Para alumni kita di Taipei dari berbagai jurusan sering mengunjungi mereka. Setelah Profesor Lee terkena strok, fungsi tubuhnya memang menurun. Teman kami di Taipei, Dokter Chen Li-wei dan Dokter Lin Guan-hong, segera pergi untuk merawatnya. Kami juga pergi untuk menjenguknya. Beruntung, penurunan fungsi tubuhnya masih terkendali. Namun, saat beberapa masalah perlahan-lahan muncul, kami merasa bahwa kami harus melakukan sesuatu,” kata Jiang Guo-xian, Dokter spesialis radiologi RS Ren'ai, Yilan.
“Guan-hong menyarankan untuk membawa mereka kembali ke Hualien dan kami juga setuju. Kami tahu bahwa sebelumnya, Profesor Lee juga memiliki pemikiran seperti ini. Lalu, kami mulai melakukan persiapan. Hingga malam sebelum pindah, saya telah menulis rencana yang panjang dan berulang kali memperbaikinya. Yang agak menantang ialah kami tidak bisa melakukan uji coba terlebih dahulu,” lanjut Jiang Guo-xian.
Jiang Guo-xian menlajutkan “Foto ini menunjukkan hasil akhir yang bisa kalian lihat. Foto ini mengandung makna yang mendalam. Kami berhasil menyalin semua data di Taipei ke dalam DVD, lalu menyimpannya di dalam sistem RS Tzu Chi Hualien. Pada hari itu, kami juga memindai semua data ini ke dalam sistem. Dengan demikian, pelayanan medis untuk mereka bisa dilanjutkan dengan baik.”
“Anggota keluarga mereka dari AS datang menjenguk, para relawan dan alumni kita di Hualien juga datang untuk membantu. Selain membantu merawat mereka di rumah sakit, banyak juga yang datang untuk menjenguk mereka. Meski kita semua tahu bahwa setengah bagian pertama diakhiri dengan kepergian Guru Liao, tetapi kami akan tetap berusaha untuk setengah bagian kedua dari kisah ini,” pungkas.
Saya merasa sangat sedih. Beliau kembali ke Taiwan karena Tzu Chi. Saat itu, sayalah yang melakukan wawancara dengannya. Beliau sangat tulus dan memahami ajaran Buddha. Beliau juga membulatkan tekad untuk mengelola sekolah kita agar selaras dengan filosofi Tzu Chi. Sebelum kembali, beliau mencari informasi terlebih dahulu. Saat beliau mencari tahu tentang Tzu Chi Taiwan, ada insan Tzu Chi setempat yang berbagi dengannya. Beliau pun yakin bahwa Tzu Chi berpegang pada cinta kasih agung tanpa pamrih. Jadi, beliau sangat yakin terhadap Tzu Chi.


Dalam hidup ini, memiliki keyakinan mendalam seperti ini sungguh tidak mudah. Sungguh, dengan tulus, beliau yakin terhadap Tzu Chi. Sebelum kembali ke Taiwan, beliau sudah begitu yakin. Keyakinannya terhadap Tzu Chi sangat mendalam dan tulus. Karena itulah, beliau kembali ke Taiwan.
Saat saya melakukan wawancara dengannya, beliau mengemukakan banyak pemikirannya. Saat membahas tentang vegetarisme, saya berkata, "Menggalakkan vegetarisme sangat sulit. Kami berharap para guru dan murid dapat bervegetaris. Inilah harapan saya terhadap sekolah kita." Beliau langsung menjawab, "Tidak masalah. Istri saya sendiri adalah seorang vegetarian. Saya yakin bahwa makanan vegetaris sangat sehat dan bergizi. Selain itu, makanan vegetaris juga dapat memperbaiki pembawaan diri seseorang."
Berhubung istrinya sangat lembut, beliau merasa bahwa itu karena istrinya bervegetaris. Istrinya sangat bijaksana, lembut, dan sehat. Karena itulah, beliau berkata bahwa itu tidak masalah. Saya sangat bersyukur. Saya menanyakan syarat beliau bekerja di sekolah kita dan beliau tidak mengajukan syarat apa pun. Asalkan sekolah kita selalu selaras dengan filosofi Tzu Chi, beliau akan mendukung kita seumur hidup. Jadi, saya sangat bersyukur.
Ekspresi beliau yang tulus saat itu masih terbayang jelas dalam benak saya sekarang. Namun, kehidupan tidaklah kekal. Waktu terus berlalu. Seiring berlalunya waktu, tubuh manusia pun mengalami penuaan. Melihat kondisi kesehatannya, saya sungguh merasa tidak tega.


“Dokter Jiang membawa Profesor Lee dan Guru Liao kembali ke Hualien pada 25 Oktober tahun lalu. Saat para alumni dari Taipei membawa mereka kembali, mereka berkata, ‘Kakak Hui-min, misi kami telah rampung. Selanjutnya, tongkat estafet akan diserahkan kepada para alumni di Hualien.’ Namun, Dokter Jiang tidak pernah keluar dari tim. Hingga kini, dia masih ada dalam tim ini. Setiap dokter di sini sangat perhatian. Ada pula sebagian yang tidak bisa hadir hari ini. Para alumni ini sungguh membuat saya sangat tersentuh,” kata Xiao Hui-min, Anggota tim sekretariat Universitas Tzu Chi.
“Dalam setahun terakhir, kami sering berkunjung ke rumah Profesor Lee saat pulang kerja. Beberapa minggu lalu, Guru Liao berkata, ‘Hui-min, saat mengajar, saya tidak menyangka bahwa pada bagian akhir perjalanan hidup saya, akan ada begitu banyak alumni yang memperhatikan saya.’ Orang-orang dari sekolah, rumah sakit, dan yayasan kita, semua menjaganya dengan baik. Beliau tidak menyangka bahwa pada akhir hayatnya, beliau bisa mendapat perhatian dari begitu banyak orang. Karena itu, beliau sangat tersentuh,” pungkas Xiao Hui-min.
Para alumni kita pasti memperhatikan Profesor Lee dengan tulus. Terlebih lagi, kini Ya-hui sudah tiada. Kasih sayang di antara mereka sangatlah mendalam. Saya langsung terpikir akan Profesor Lee. Bagaimana beliau menghadapi hal ini? Bagaimana kita memberi penghiburan untuk meredakan kepiluannya? Kita harus menjaganya dengan tulus.
Sesungguhnya, beliau bisa kembali dari AS ke Taiwan, itu merupakan berkah bagi kita. Beliau memiliki banyak teman dan murid yang baik. Selain itu, pada akhir perjalanan hidupnya, beliau bisa kembali ke sini. Saya terus berkata bahwa beliau hendaknya kembali ke sini. Setidaknya, di sini lebih ramai dan lebih banyak orang yang bisa mendampinginya. Sungguh, dengan dirawat di rumah sakit kita sendiri, saya juga merasa lebih tenang. Demikianlah perjalanan hidup.
Saya harus lebih mawas diri. Yang terpenting dalam hidup ini ialah melakukan segalanya dengan baik saat masih hidup. Dengan demikian, kita tidak akan memiliki penyesalan ataupun rasa bersalah terhadap orang lain. Jika bisa demikian, kita akan merasa lega.


Hari ini, saya sangat bersyukur melihat badan misi kesehatan kita. Para guru dan murid kita telah memperoleh pencapaian yang gemilang. Pencapaian kalian hari ini berkat bimbingan guru kalian dahulu. Mereka telah membimbing dan membina kalian. Berkat didikan sepenuh hati para guru, barulah kalian bisa menyerap begitu banyak pengetahuan. Jadi, kita harus selamanya bersyukur.
Dalam hidup ini, saya tidak memandang penting apa pun selain rasa syukur. Apakah orang ini memiliki rasa syukur? Jika orang tersebut memilikinya, saya akan sangat menghormatinya. Sungguh, rasa syukur sangatlah penting.
Saya bersyukur kepada semua guru kita. Saya juga bersyukur kepada para dosen yang kembali untuk pertama kalinya. Profesor Lee mengundang kalian untuk mengajar di sini dan kalian bersedia sehingga kalian pun dapat saling mendampingi dan mengelola sekolah kita dengan begitu baik. Saya sungguh sangat bersyukur.
Kenangan masa lalu tetap jelas meski waktu terus berlalu
Membangun keteladanan dan tradisi sekolah
Menabur benih kebajikan dengan tulus dan tanpa pamrih
Membina rasa syukur dan memberikan bimbingan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 15 Juni 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 17 Juni 2026







Sitemap