Ceramah Master Cheng Yen: Membangun Keteladanan dengan Menjalankan Enam Paramita
“Ada relawan lansia juga sangat baik. Mereka dapat berhimpun di Aula Jing Si untuk menjaga rumah kita. Selain itu, kami juga akan terjun ke tengah masyarakat untuk menginspirasi orang-orang. Mohon Master tenang. Saya dan Dong-xian mengemban tanggung jawab untuk melakukan persiapan bagi peresmian Aula Jing Si kita,” kata Huang Li-xiang, relawan Tzu Chi.
“Kami akan menghargai ruang yang ada, menjaga ladang pelatihan, menjalin jodoh baik secara luas dengan budaya humanis yang penuh kehangatan, menginspirasi masyarakat dengan aktivitas yang beragam, mewariskan silsilah Dharma, dan giat menjalankan Tzu Chi.”
Saya berharap kalian dapat mulai mendatangi tempat itu. Yang terpenting ialah menyatukan dan menginspirasi orang-orang. Kalian semua adalah tuan rumah. Para hadirin di sini adalah relawan yang sangat senior. Kalian semua adalah tuan rumah. Tempat itu adalah rumah kita. Hendaklah kalian berusaha agar di masa mendatang, tempat itu menjadi ramai. Ini sangatlah penting.
Selain itu, kalian juga hendaknya menyelami semangat Tzu Chi dan memahami tujuan saya mendirikan Tzu Chi dahulu. Saya ingin memberi tahu kalian bahwa yang ada dalam pikiran saya ialah dunia yang luas ini serta bagaimana menyucikan masyarakat dan dunia. Sebagai umat Buddha, kita terlebih dahulu belajar untuk berdana atau memberi kepada orang lain. Kita bukan mengambil bagian sendiri terlebih dahulu, baru memberi kepada orang lain.
Umat Buddha mempraktikkan dana. Kita menjalankan Enam Paramita. Yang pertama dari Enam Paramita ialah dana. Kemudian, ada disiplin moral, kesabaran, semangat ... (Konsentrasi dan kebijaksanaan.) Benar, kebijaksanaan. Dengan adanya kebijaksanaan dan konsentrasi, hati kita akan tenang. Kemudian, ada sila, benar? Kita harus menaati sila.

Sebagai umat Buddha, apa lagi yang ingin kita kejar? Dengan menaati sila dan menginventarisasi kehidupan sendiri, kita akan menyadari bahwa kita sangat beruntung. Kita tidak mengejar kenikmatan hidup. Dapat makan kenyang tiga kali dalam sehari dan memiliki tempat tinggal, kita sudah merasa puas.
Setiap kali saya melihat insan Tzu Chi, kalian selalu mengenakan seragam relawan. Kalian tidak pernah menemui saya tanpa mengenakan seragam relawan. Karena itu, saya merasa sangat puas. Para insan Tzu Chi selalu seperti ini. Demikianlah murid-murid saya. Saya merasa sangat puas dan bersyukur.
Saya bersyukur kepada Buddha yang datang ke dunia untuk membuka Jalan Bodhisatwa sehingga kita dapat memahami apa yang dibutuhkan di Jalan Bodhisatwa. Enam Paramita adalah enam metode untuk membimbing diri sendiri dan orang lain. Dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan, jika dapat mempraktikkan enam poin ini, saya sudah merasa sangat puas.
Jumlah murid saya, para insan Tzu Chi, sangatlah banyak. Setidaknya, setiap orang telah mempraktikkan dana. Salah satu syarat terpenting untuk menjadi insan Tzu Chi ialah berdana atau memberi. Kemudian, mereka juga harus mengggalang donatur. Kita memiliki anggota komite dan ada aturan yang harus ditaati oleh mereka. Setelah menaati aturan sebagai anggota komite, barulah mereka bisa menggalang donatur.
Kita harus menjadi teladan bagi para donatur agar mereka tahu bagaimana kita bersumbangsih, tersentuh, dan bersedia untuk bersumbangsih bersama. Jika tidak, mereka mungkin akan berpikir, "Kalian berkata bahwa kalian berbuat baik dan harus menaati aturan ini dan itu, tetapi perilaku kalian sendiri seperti ini. Meski kalian mengeklaim melakukan banyak kebaikan, saya tetap tidak percaya."
Karena itu, saya sungguh berharap setiap orang di Tzu Chi dapat memandang penting sila. Kita mengenal delapan sila dan sepuluh sila. Sebelum kalian dilantik, saya sudah terlebih dahulu mengajarkan sila pada kalian. Harap kalian dapat senantiasa mengingatnya dan bersungguh hati.

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Usia saya pun telah mendekati seratus tahun. Jadi, kalian hendaknya senantiasa mengingat konsep ketidakkekalan. Entah kapan saya akan pergi, lalu kembali lagi. Ingatlah untuk meneruskan semangat dan filosofi saya serta bersumbangsih bagi orang-orang yang menderita.
Kita harus bersumbangsih bagi dunia hingga orang-orang dari berbagai kalangan dapat melihat moralitas kita. Tidak peduli kaya ataupun miskin, asalkan kita berpegang pada aturan sebagai manusia, berarti kita memiliki kehidupan yang baik. Jadi, kita mempraktikkan dana dan disiplin moral.
Berdana berarti mencurahkan cinta kasih. Cinta kasih adalah prioritas. Orang yang memiliki cinta kasih yang tulus pasti akan menaati sila dan menjadi orang baik. Selain dana dan disiplin moral, kita juga harus mempraktikkan kesabaran.
Dalam hidup ini, kita berinteraksi dengan orang-orang. Saat terjun ke tengah masyarakat, kita menghadapi berbagai jenis orang. Kita harus melapangkan hati kita hingga bisa merangkul semua orang dalam segala kondisi. Lapangkanlah hati kita. Dengan demikian, bagaimanapun kondisi orang yang kita hadapi, kita dapat membimbing mereka untuk menaati aturan.
Jadi, saya berharap setiap orang dapat bersungguh hati membimbing orang-orang. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab kita. Sebagai umat Buddha, kita harus menjalankan praktik nyata dan memberi keteladanan. Inilah harapan saya terhadap kalian.
Pingtung sungguh sangat jauh. Namun, datang ke Hualien cukup sederhana. Kini, kalian bisa naik kereta api. Kalian bisa naik kereta api ke Taitung, lalu berganti kereta ke sini. Sesungguhnya, juga ada kereta yang langsung sampai Hualien. Perjalanan hanya butuh waktu empat jam.
Dahulu, jika saya hendak pergi ke Pingtung, perjalanan memakan waktu sepanjang hari. Kini, hanya butuh empat jam. Jadi, jarak kita terasa makin dekat. Kalian makin dekat dengan saya, hati kalian juga makin dekat dengan hati saya.


“Pada tanggal 23 Agustus 2025, kami pindah ke kantor baru di Jiadong dan para relawan daur ulang lansia berkata bahwa mereka sangat senang dan nyaman. Kami bersyukur kepada Master yang memberi kami sebuah depo daur ulang yang begitu luar biasa. Tempat ini sangat bersih dan luas,” kata Hong Xiu-hui, relawan Tzu Chi.
“Seusai melakukan pemilahan, kami segera meminta pengepul untuk datang mengangkut barang daur ulang, Kami juga membersihkan depo daur ulang. Kami benar-benar menjaga kebersihan dari sumbernya. Setelah pindah ke depo daur ulang baru, relawan yang datang bersumbangsih makin banyak,” pungkas Hong Xiu-hui.
Jalan Tzu Chi harus ditapaki dan dibuka oleh insan Tzu Chi. Insan Tzu Chi jugalah yang harus menanam pohon di sepanjang jalan ini. Ini sangatlah penting. Saya bersyukur kepada kalian yang telah mengikuti langkah saya.
Belakangan ini, saya sering mendengar insan Tzu Chi berkata bahwa mereka akan mengikuti langkah saya. Untuk mengikuti langkah saya, setiap orang harus menaati aturan. Saat menginventarisasi kehidupan sendiri, saya sungguh merasa dipenuhi berkah dan sukacita. Kalian harus menjaga ajaran saya.
Hendaklah kalian mewariskan apa yang saya katakan. Apa yang saya ajarkan pada kalian sekarang juga harus kalian wariskan kepada generasi berikutnya. Saya berharap ajaran saya dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Wariskanlah ajaran Tzu Chi agar Tzu Chi dapat bertahan hingga selamanya. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baik, terima kasih.
Menjaga ladang pelatihan dan mewariskan silsilah Dharma
Menjadikan diri sendiri sebagai teladan dengan menjalankan Enam Paramita
Berpegang teguh pada sila dan membangun keteladanan
Terjun ke tengah masyarakat dengan hati yang lapang dan pikiran yang murni
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 24 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 26 September 2026







Sitemap