Ceramah Master Cheng Yen: Membangun Tekad untuk Melenyapkan Belenggu


Kita sering mendengar orang-orang berkata, "Kekuatan manusia dapat menaklukkan alam." Apakah benar? Itu sangatlah sulit. Banyak hal dalam hidup yang ada di luar kendali kita. Dalam ajaran Buddha, kita berbicara tentang sebab, kondisi, buah, dan akibat. Inilah hukum sebab akibat.

Meski kita semua hidup di Bumi, jika kita melihat betapa luasnya Bumi ini, Taiwan hanyalah sebuah pulau kecil di tengah lautan. Luas Taiwan tidaklah besar. Ternyata, di sinilah saya tinggal. Saya merasa bahwa diri saya sangatlah kecil. Saya telah belajar untuk mengatur diri sendiri. Kita bagaikan semut kecil yang mendaki Gunung Sumeru.

Di sudut bawah jam meja saya, ada seekor semut mainan yang ditempelkan. Dengan menaruh semut kecil itu di sana, saya selalu menganggap bahwa semut itu tengah berpacu dengan waktu. Semut itu sama seperti saya yang terus berpacu dengan waktu setiap hari. Hendaknya kita menggenggam waktu dan ruang yang ada. Hal terpenting ialah terjun ke tengah-tengah dunia.

Hendaknya semua orang menyemangati satu sama lain. Saya juga berharap semuanya tetap menggenggam jalinan jodoh dengan saya. Arah hidup adalah hal yang paling penting. Percayalah bahwa mengikuti arah saya adalah hal yang benar.

Ketika melakukan perjalanan, saya menyadari bahwa para relawan telah berbeda. Ketika saya bertemu mereka pada tahun lalu, rambut mereka masih hitam. Ada juga relawan senior yang masih berdiri tegak tahun lalu, tetapi tahun ini terlihat lebih pendek karena sudah mulai membungkuk.

Ketika saya berjalan dan teringat akan relawan yang seperti itu, saya akan segera mengangkat kepala dan menegakkan bahu saya. Saya tidak boleh membiarkan tubuh saya memendek dan bungkuk. Saya berusaha untuk berpacu dengan waktu dan melayani seumur hidup saya. Tidak peduli berapa pun usia saya, saya tidak menyerah terhadap usia tua.


Setelah mempelajari Dharma, hendaknya kita meningkatkan potensi diri untuk berpegang teguh pada tekad. Janganlah kita terbawa oleh nafsu keinginan dan terus mengikuti hal-hal duniawi. Hendaknya kita memiliki hati Buddha yang penuh dengan cinta kasih untuk mencintai semua makhluk di dunia. Saya merasa bahwa hati saya sama dengan hati Buddha.

Hendaknya kalian terus bersama saya mengembangkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin Buddha. Setiap orang hendaknya membangun ikrar ini. Dengan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin, kita bersedia untuk bersumbangsih bagi semua makhluk di dunia. Jadi, kita harus memiliki hati yang tulus.

Sulit untuk bertemu ajaran Buddha. Terlebih lagi, kita tidak dapat melihat Buddha secara langsung. Namun, selama kita memiliki hati, kita dapat bertemu dengan Tiga Permata, yaitu permata Buddha, permata Dharma, dan permata Sangha. Tiga Permata ada di hadapan kita. Sangha membangun tekad dan ikrar untuk meninggalkan kehidupan awam dan melatih diri hingga mencapai kebuddhaan. Mereka adalah Buddha masa depan.

Selama kita mengikuti aturan Buddha dalam melatih diri, kita dapat mencapai kebuddhaan, sama halnya dengan semut kecil yang ada di bawah jam meja saya atau di kaki Gunung Sumeru. Selama semut itu terus mendaki, pada akhirnya ia akan mencapai puncak Gunung Sumeru. Jika semut itu bisa melakukannya, mengapa kita tidak?


“Pada tahun 2014, Bo-yuan mengalami kecelakaan yang dahsyat. Setelah bertahun-tahun menjalani rehabilitasi, ayahnya tidak bisa menerima situasi tersebut dan memiliki untuk pergi. Yang tersisa hanyalah ibunya yang bekerja keras merawat Bo-yuan tanpa mengeluh. Melihat kerja keras ibunya, Bo-yuan bertekad untuk memiliki pendapatan yang stabil. Satu-satunya cara ialah dia harus menyelesaikan pendidikannya,”
kata Chen Jia-ling relawan Tzu Chi.

“Ketika mengetahui bahwa Bo-yuan ingin kembali bersekolah, kami merasa sangat senang. Dengan inisiatif, kami berkata kepada Bo-yuan, ‘Bo-yuan, jangan khawatir. Kami akan membantu semua biaya pendidikanmu. Kamu hanya perlu menyelesaikan pendidikan dengan baik’,” pungkas Chen Jia-ling.

“Ketika saya tak berdaya, ada sebuah kekuatan yang terus membimbing saya, yaitu pendampingan dari para relawan Tzu Chi. Saya telah berikrar untuk membagikan kisah hidup saya ke setiap sudut dalam masyarakat demi menyebarkan kebajikan dan cinta kasih. Jadi, saya menyelesaikan pelatihan sebagai pembicara pendidikan kehidupan dengan lancar,” kata Chen Bo-yuan penerima beasiswa.

“Saya mulai pergi ke sekolah-sekolah dan membagikan kisah hidup saya untuk membantu para anak muda yang tersesat. Saya berharap hidup saya dapat memengaruhi kehidupan orang lain. Saya juga berharap satu hari nanti, saya dapat memberikan manfaat pada Tzu Chi dengan pergi ke setiap sudut masyarakat untuk menyebarkan cinta kasih dan kebajikan,” pungkas Chen Bo-yuan.


Kehidupan ini memang penuh dengan penderitaan dan setiap keluarga memiliki masalah masing-masing. Bagi saya, semua orang di dunia adalah keluarga saya. Jadi, saya tahu bahwa setiap keluarga pada dasarnya memiliki tantangan masing-masing. Saya ingin mengumpulkan semua tantangan ini dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bersih tanpa noda. Meski kita memiliki noda dan kegelapan batin, ketika kita mendengarkan ajaran Buddha, semua noda itu akan dapat kita lenyapkan. Hendaknya kalian percaya dengan perkataan saya.

Dalam kehidupan yang singkat ini, noda dan kegelapan batin dapat kita lenyapkan. Jika saat ini kita meyakini ajaran Buddha, dalam setiap kehidupan, kita dapat bertemu ajaran Buddha yang dapat menyucikan hati kita sehingga kita dapat melepaskan keluarga kita dari segala kesulitan yang menjerat. Jadi, kita harus yakin akan masa depan kita.

Saat ini, hendaknya kita menerima segala sesuatu dengan kerelaan hati dan sukacita. Oleh karena kita telah menciptakan karma buruk di masa lalu, hendaknya saat ini kita berkata, "Saya rela." Dengan demikian, kita dapat hidup dengan damai. Sebaliknya, jika kita tidak ikhlas menerima kondisi, kita hanya akan terus berkutat di sana dan makin terluka karena memperpanjang karma buruk kita.

Jika karma buruk masa lalu masih mengikuti kita, janganlah kita memperpanjang urusan dengannya. Jangan. Janganlah kita berkutat dengan masa lalu. Saat ini, hendaknya kita menjalin jodoh baik. Inilah cara kita menjalankan Dharma. 

Manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta yang luas
Berpegang teguh pada tekad tanpa tergoyahkan
Memiliki hati Bodhisatwa dan menjadi sama seperti Buddha
Melenyapkan belenggu dengan kerelaan hati dan sukacita

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 15 Maret 2024
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet
Ditayangkan Tanggal 17 Maret 2024
Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -