Ceramah Master Cheng Yen: Membawa Manfaat bagi Dunia dengan Praktik dan Ikrar
“Terjangan Topan Ragasa di Guangfu yang menyebabkan Sungai Matai'an meluap pada tanggal 23 September, memicu tanah longsor yang sangat parah. Kali ini, yang sangat mengejutkan ialah banyak anak muda berinisiatif berkumpul di Guangfu untuk membantu pembersihan dari rumah ke rumah. Lebih dari 2 ribu rumah selesai dibersihkan hanya dalam waktu 10 hari. Keterlibatan generasi muda kali ini membuat saya sangat terkejut,” kata Yan Bo-wen, Ketua badan misi amal Tzu Chi.
“Zu-song membuat data orang yang mendaftar lewat internet. Dari data yang saya hitung, usia rata-ratanya sekitar 28 hingga 29 tahun, sementara relawan Tzu Chi yang saya lihat kebanyakan berusia sekitar 60 tahun. Perpaduan usia 30 dan 60 tahun ini kami sebut sebagai kolaborasi muda dan senior demi kebaikan Bersama,” lanjut Yan Bo-wen.
Yan Bo-wen melanjutkan “Saat begitu banyak relawan datang, kami mendapati bahwa mengarahkan mereka ke tempat yang benar-benar membutuhkan menjadi sebuah tantangan besar bagi kami. Ini adalah sebuah aplikasi yang kami kembangkan. Lihatlah, agar penugasan relawan lebih efektif, saya mengajak beberapa anak muda dan dalam waktu singkat, sistem ini langsung dibuat.
“Di peta ini, setiap rumah yang muncul berarti ada kebutuhan pembersihan. Warna merah menandakan adanya permohonan bantuan, tetapi belum didatangi; warna biru tua berarti sudah ada relawan yang ditugaskan; warna hijau menandakan bahwa pembersihan sudah selesai,” ujat Yan Bo-wen.
“Setelah 10 hari, kegiatan pembersihan pun selesai. Selanjutnya, kami memanfaatkan platform data ini untuk menyalurkan komputer layak pakai kepada keluarga kurang mampu agar anak-anak bisa belajar secara daring. Selain memberikan komputer, kami juga melakukan perbaikan rumah, seperti pintu, jendela, dan pintu besi yang rusak, serta perbaikan air dan listrik. Semua ini dilakukan bertahap dan didata,” pungkas Yan Bo-wen.


Bodhisatwa sekalian, semuanya benar-benar mencurahkan hati dan tenaga. Lihatlah, bagaimana sesungguhnya Tzu Chi bekerja? Saya selalu berkata bahwa hendaknya semua orang membangkitkan ketulusan hati untuk mendedikasikan diri. Dari bencana di Guangfu kali ini, saya melihat semuanya bergerak secara inisiatif dengan ketulusan yang begitu mendalam. Dari bencana ini, benar-benar terlihat cinta kasih Taiwan dan kerja sama yang harmonis antarwarga Taiwan.
Setiap hari, saya terus menyerukan tentang kesatuan dan keharmonisan. Kali ini, saya benar-benar melihat cinta kasih Taiwan. Ini bukan hanya cinta kasih biasa, melainkan cinta kasih yang tepat waktu. Dengan semangat kesatuan dan keharmonisan, semua orang berkumpul. Ada begitu banyak orang yang bisa bersumbangsih tanpa pamrih dan saling mengucapkan terima kasih, saya sangat tersentuh dan memuji semuanya.
Saya bahkan tidak tahu bagaimana harus menyampaikan perasaan saya kepada semuanya. Dengan cinta kasih dan inisiatif dari diri sendiri, warga Taiwan muncul secara bersamaan. Ini bukanlah hal yang mudah. Ini berkat cinta kasih semua orang. Kita semua merasakan bahwa menjaga kedamaian Taiwan dengan cinta kasih adalah tanggung jawab setiap orang. Jika semuanya memiliki kesadaran ini, saya sangat bersyukur.
Di usia Tzu Chi yang ke-60 tahun, saya merasa tanpa adanya silsilah Dharma Jing Si, tidak akan ada Tzu Chi. Silsilah Dharma Jing Si berawal dari ajaran Buddha. Jadi, hendaknya kita membawa manfaat bagi kampung halaman Buddha. Sesungguhnya, kita harus membalas kebaikan ajaran Buddha. Berkat adanya ajaran Buddha dan Buddha Sakyamuni yang hadir di dunia, barulah kita memiliki jalinan jodoh untuk berkata, "Saya adalah umat Buddha. Kita adalah organisasi Buddhis."

Hendaknya kita bersyukur atas semangat dan nilai-nilai yang diajarkan Buddha. Kita harus menerapkan semangat Buddha dan mewujudkannya di dunia. Saya selalu berbicara tentang kedatangan Buddha ke dunia. Dengan dua kaki, sejauh mana Buddha bisa melangkah? Dengan terus berhenti untuk menyebarkan ajaran, berapa banyak tempat yang bisa dijangkau? Jadi, Buddha hanyalah membuka jalan. Setelah itu, orang-orang harus merenungkannya sendiri.
Dengan membawa semangat Buddha, hendaknya kita kembali pada hakikat kebuddhaan. Buddha datang untuk membuka jalan bagi kita. Semua orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan dan kebijaksanaan yang setara dengan Buddha. Berdasarkan 2 kalimat ini, kita semua harus merenungkan bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Hati setiap orang, hati Buddha, dan hati semua makhluk itu setara.
Makhluk hidup bukan hanya manusia, kucing dan tikus pun termasuk makhluk hidup. Semua makhluk bernyawa memiliki hakikat kebuddhaan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Setiap jenis hewan memiliki nyawa. Saat ini, kita tengah menggalakkan vegetarisme dan harus terus melakukannya karena kita melihat pencemaran dan penebangan pohon di mana-mana.
Bumi terus disakiti. Sebagian besar penyebabnya berasal dari apa yang dikonsumsi oleh manusia. Demi memenuhi nafsu makan, dibukalah lahan peternakan. Hutan diubah menjadi peternakan untuk memelihara sapi dan hewan ternak lainnya. Bagaimana kita bisa memulihkan lahan peternakan agar kembali menjadi hutan demi konservasi air dan tanah? Kita harus menyerukan kepada semua orang untuk mencintai dan menghargai Bumi. Semua orang harus memiliki cinta kasih agung yang sangat luas.


Saudara sekalian, setiap minggu saya mengatakan hal yang sama. Saya percaya bahwa berbicara tentang cinta kasih setiap hari pun tidak akan cukup. Kita sangat membutuhkan cinta kasih dari semua orang. Bagaimana membangkitkan cinta kasih orang-orang, itu bergantung pada kebijaksanaan setiap orang. Kita bisa menggunakan perumpamaan untuk menginspirasi orang-orang mengasihi dan melindungi semua makhluk, hutan, bumi, dan iklim agar tidak terus tercemar.
Pencemaran alam terus terjadi seiring bertambahnya jumlah penduduk. Dengan jumlah manusia yang makin banyak, karma buruk lewat mulut pun bertambah berat karena banyak orang yang mengonsumsi daging hewan. Manusia juga menciptakan banyak karma buruk lewat mulut dengan mengucapkan banyak kata-kata yang melukai jiwa kebijaksanaan orang-orang yang murni.
Berhubung ucapan keluar lewat mulut, hendaknya kita terus mengimbau orang-orang untuk bertutur kata baik dan melakukan perbuatan yang baik. Hendaknya kita benar-benar melakukan sesuatu yang membawa manfaat bagi dunia. Inilah yang disebut dengan Bodhisatwa dunia.
Menghimpun kekuatan semua orang untuk melindungi Taiwan
Menjalankan ikrar dan menyatu dengan hati Buddha
Menggalakkan vegetarisme demi melindungi makhluk hidup dan Bumi
Membawa manfaat bagi dunia dengan ucapan dan pikiran yang baik
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 02 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 04 Februari 2026







Sitemap