Ceramah Master Cheng Yen: Membawa Manfaat bagi Semua Makhluk dengan Cinta Kasih dan Welas Asih Agung


“Master, merupakan suatu kehormatan dan sukacita bagi kami untuk bertemu dengan Anda sore ini. Kami juga membawa salam hangat dan doa yang tulus dari Vatikan. Saya ingin menekankan bahwa welas asih bukan sekadar ekspresi perasaan, melainkan sumber dari pengetahuan dan kebijaksanaan yang menginspirasi kita untuk memasuki keadaan orang lain dan mencari tahu bagaimana kita bisa melakukan perbaikan untuk mereka. Dalam hal ini, kami tulus berterima kasih kepada Anda atas kepemimpinan yang Anda tunjukkan dalam bidang ini. Saya sangat senang kita bisa bekerja sama dan saling mendukung dalam hal ini,”
kata Peter Turkson, Kardinal Vatikan.

Saya sungguh sangat bersyukur. Tzu Chi telah berdiri selama 60 tahun. Enam puluh tahun hanyalah waktu, tidak ada yang istimewa. Pada 60 tahun yang lalu, saya melihat banyak warga kurang mampu di Hualien. Apakah tujuan saya meninggalkan keduniawian? Jika hanya mengejar pencapaian pribadi, saya merasa bahwa itu tidaklah bermakna. Karena itu, saya berharap memiliki jalinan jodoh untuk membantu orang-orang di sini. Namun, bagaimana saya membantu mereka?

Kebetulan, saat itu guru saya terus menyuruh saya untuk kembali ke wilayah barat Taiwan. Guru saya telah berkata demikian, tentu saya harus menurutinya. Jadi, saya memutuskan untuk kembali ke sana. Akan tetapi, sekelompok ibu rumah tangga di Hualien berharap saya dapat terus membabarkan Dharma bagi mereka di sini. Namun, membabarkan Dharma saja tidak bisa memberikan bantuan yang nyata.

Karena itu, saya berkata pada mereka, "Jika ingin saya tetap tinggal di Hualien, kalian harus melakukan satu hal yang bermakna bagi saya. Jika kalian bisa melakukannya, saya akan selamanya tinggal di Hualien." Mereka berkata, "Apa pun yang Master katakan, kami semua bersedia menjalankannya." Saya lalu berkata pada mereka, "Sisihkanlah sedikit uang belanja setiap hari tanpa memengaruhi kehidupan kalian. Saat hendak pergi berbelanja, ingatlah untuk menyisihkan 50 sen. Lima puluh sen tidak akan memengaruhi makanan di atas meja kalian."

Agar saya tetap tinggal di Hualien, mereka benar-benar menyisihkan 50 sen setiap hari. Banyak orang yang menghimpun tetes-tetes cinta kasih ini. Dengan akumulasi donasi 50 sen banyak orang, kita dapat membantu satu keluarga, dua warga lansia, ataupun satu warga lansia. Jadi, semua orang berdonasi dengan gembira setiap hari. Demikianlah awal mula berdirinya Tzu Chi.


Tahun ini, Tzu Chi telah berusia 60 tahun. Saya ingin semua orang mengenang masa lalu dan bagaimana 50 sen membuat Tzu Chi seperti sekarang. Jadi, kekuatan 50 sen sangatlah besar. Saya selalu mengingatkan seluruh insan Tzu Chi untuk tidak meremehkan kekuatan kecil. Semua orang berpegang pada semangat ini untuk bersumbangsih dengan cinta kasih. Sebuah aksi kecil yang sederhana pun mengandung cinta kasih.

Saat melihat warga lansia yang tidak leluasa berjalan, kita bisa menggandeng tangannya agar dia bisa berjalan dengan stabil dan aman. Semua orang senang melakukan hal seperti ini. Inilah cinta kasih dalam aksi kecil yang sederhana. Semua orang melakukan segala hal yang bisa dilakukan, termasuk berdonasi setiap hari. Semangat ini terus dipertahankan hingga sekarang. Asalkan banyak orang yang melakukannya, donasi kecil juga bisa terakumulasi menjadi kekuatan besar. Jadi, dana kecil dapat membawa manfaat besar. Setiap orang bersedia berdonasi.

Tanpa memandang perbedaan agama, kita bersumbangsih bersama dan menolong orang-orang yang menderita. Inilah yang disebut cinta kasih agung. Kita bersumbangsih bersama tanpa memandang perbedaan agama. Hal-hal di dunia ini hendaknya dilakukan oleh semua orang. Orang-orang yang menderita di dunia ini juga membutuhkan sumbangsih penuh cinta kasih kita. Inilah arah dan tujuan Tzu Chi. Saya juga bersyukur kepada semua hadirin di sini. Kita semua berada di jalan yang sama.


“Kami sungguh merasakan cinta kasih dari Buddha dan melihat cinta kasih dalam Sangha. Mari kita terus menyebarkan cinta kasih ini di dunia. Semoga semua orang hidup harmonis dalam cinta kasih. Setiap individu dan organisasi memiliki batas. Bagaikan berdiri di bawah sinar matahari, kita semua menghasilkan bayangan. Kita harus berhati-hati agar bayangan ini tidak menjadi beban bagi orang lain. Ini masih bisa terus kita usahakan,”
kata Lin Zhi-ding, Pastor.

Saya sering berkata bahwa kita adalah satu keluarga. Kita memiliki kebajikan dan cinta kasih yang sama. Jadi, semua kebajikan dan cinta kasih itu sama.

Setiap orang memiliki kebebasan beragama dan dapat mengembangkan nilai dari agama masing-masing. Dengan adanya agama, kita akan menaati aturan. Dengan berpegang pada aturan atau sila, kita secara alami akan berbuat baik di dunia ini. Karena itulah, saya tak pernah membeda-bedakan agama. Saya selalu memperlakukan semua orang dengan ketulusan, cinta kasih, rasa hormat, dan rasa syukur. Semua orang di dunia ini harus bertindak bersama, baru bisa benar-benar menolong orang yang menderita.


“Saya merasa sangat diberkati dan beruntung memiliki kesempatan untuk memperingati ulang tahun Tzu Chi yang ke-60 di sini. Saya sendiri juga berusia 60 tahun. Saya bisa melihat bagaimana Tzu Chi berkembang seperti orang-orang melihat bagaimana saya berkembang. Bubuk sereal yang kami terima diproduksi di Griya ini dan sangat bermanfaat bagi kami, terlebih bagi anak-anak yang mengalami malagizi. Saya bersyukur kepada orang-orang yang terlibat dalam memproduksi bubuk sereal bagi kami,”
kata Peter Konteh, Pastor Caritas Freetown.

Asalkan menganut agama yang benar, semua orang hendaknya saling menghormati, saling mengasihi, dan bekerja sama untuk bersumbangsih.

Setiap kali relawan kita berbagi tentang Sierra Leone, saya selalu mengingatkan bahwa kita harus menolong semua orang yang menderita tanpa memandang perbedaan agama. Saya juga berulang kali berpesan bahwa dunia ini membutuhkan agama. Kita harus memiliki kelapangan hati untuk merangkul semua umat beragama. Melihat kalian, saya merasa seakan-akan keluarga saya telah kembali. Saya merasa sangat dekat dengan kalian. Jadi, berkunjunglah ke Taiwan begitu ada waktu luang.

Sebagai sesama pemuka agama, kita adalah satu keluarga yang bersumbangsih bagi dunia dengan cinta kasih. Kita semua berpegang pada cinta kasih agung. Cinta kasih agung tidak memandang perbedaan agama ataupun kewarganegaraan. Saya sangat bersyukur.

Menolong orang yang menderita dengan akumulasi tetes demi tetes cinta kasih
Menginspirasi orang untuk berbuat baik bersama dengan semangat celengan bambu
Mewujudkan keharmonisan antaragama tanpa memandang perbedaan kewarganegaraan
Membawa manfaat bagi semua makhluk dengan cinta kasih dan welas asih agung

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 15 Mei 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 17 Mei 2026
Berbicaralah secukupnya sesuai dengan apa yang perlu disampaikan. Bila ditambah atau dikurangi, semuanya tidak bermanfaat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -