Ceramah Master Cheng Yen: Membawa Manfaat bagi Semua Makhluk dengan Mempraktikkan Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan


Hendaknya insan Tzu Chi membangun tekad dan ikrar untuk memikul tanggung jawab bagi semua makhluk di dunia. Mereka yang hidup kekurangan dan menderita membutuhkan para Bodhisatwa untuk turun tangan membantu mereka. Masih banyak orang yang hidup dalam kesesatan, tenggelam dalam kesenangan duniawi, dan hanya berfokus pada konsumsi dan kenikmatan tanpa menyadari penderitaan di dunia.

Mempraktikkan ajaran Buddha di dunia berarti terjun ke tengah masyarakat untuk membimbing semua orang. Baik yang kaya maupun yang miskin, baik pejabat tinggi maupun rakyat biasa, semuanya sama-sama perlu memahami prinsip kebenaran dalam menjalani kehidupan dan memikirkan apa yang harus dilakukan bagi dunia. Jika setiap orang hanya mementingkan diri sendiri dan hanya mengejar kenikmatan pribadi, akan timbul pertikaian satu sama lain. Akibatnya, masyarakat tidak akan pernah damai.

Sesungguhnya, kehidupan manusia adalah perpaduan antara penderitaan dan kebahagiaan. Penderitaan di dunia bersumber dari ketidakkekalan. Tidak peduli betapa kayanya seseorang, ia tetap tidak lepas dari ketidakkekalan. Manusia mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati; segala materi mengalami fase timbul, berlangsung, rusak, dan hancur; pikiran mengalami fase timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Dalam hidup ini, saya telah membangkitkan niat baik sehingga berjalan ke arah kebajikan.


Dalam kehidupan manusia, setiap orang memiliki pikiran baik dan buruk. Ketika sebersit pikiran baik timbul, kita pun melangkah di jalan kebajikan. Satu kalimat yang baik dapat mendukung orang lain menciptakan pahala, sedangkan satu kalimat yang tidak baik dapat melukai orang lain dan secara tak langsung merusak jiwa kebijaksanaannya. Ketika seseorang telah membangkitkan tekad dan mendengar satu kalimat yang tidak tepat, ia akan kehilangan semangat untuk berbuat bajik. Ini disebut dengan karma.

Jika kita mengucapkan kata-kata yang menghalangi orang masuk ke pintu Buddha atau menghalangi orang melakukan kebajikan, berarti kita sedang menciptakan karma buruk. Dalam melatih diri, kita harus membina diri dengan baik. Jika memiliki kemampuan lebih, kita dapat berbagi dengan orang lain. Inilah yang disebut menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk.

Tentu saja, selama 50 hingga 60 tahun perjalanan ini, setiap kali berbicara, saya selalu mengingatkan diri sendiri agar kata-kata saya dapat membantu membuka simpul di hati orang lain dan menuntun mereka mengubah kegelapan batin menjadi pemahaman akan prinsip kebenaran. Jadi, saya terus membimbing semua orang agar dapat terjun ke tengah masyarakat dan melangkah di jalan kebajikan.

Dalam hidup ini, orang yang menderita sangatlah banyak. Jika setiap orang melakukan satu kebajikan besar, jumlah orang yang dibantu pun tidak terhingga. Terlebih lagi, kita mempraktikkan Sepuluh Kebajikan dan menjaga Lima Sila. Hendaknya kita berusaha untuk menjalankan Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan yang mencakup tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, dan tidak mengonsumsi minuman keras. Tidak mengonsumsi alkohol termasuk dalam Lima Sila.


Ada orang yang berkata, "Master, alkohol itu terbuat dari beras. Mengapa tidak boleh diminum?" Saya mengatakan bahwa alkohol itu sendiri bukanlah sesuatu yang buruk. Namun, karena ketamakan manusia yang minum terlalu banyak, kesadaran menjadi menurun dan kebiasaan buruk pun muncul. Ketika kegelapan batin timbul, orang menjadi tidak terkendali. Jadi, minum minuman keras dapat menyebabkan pelanggaran sila.

Bukan karena alkohol memiliki seratus macam bahaya, tetapi karena setelah diminum oleh manusia, kesadaran menjadi kabur. Jadi, jika tidak minum minuman keras, kesadaran tidak akan kabur dan kita tetap dapat menjaga sila dengan baik.

Dalam menjalankan Lima Sila, mulut kita harus digunakan untuk bertutur kata baik dan tubuh kita harus dijaga agar tidak membunuh ataupun berbuat asusila. Kita juga harus menjaga keluarga dan hubungan suami istri dengan baik. Jangan menyimpang dari jalan yang seharusnya. Jika suami istri dapat menaati norma dan merawat keluarga dengan sungguh-sungguh, itulah yang disebut keluarga yang baik.

Keluarga yang baik bukan diukur dari banyaknya uang yang dihasilkan atau kekayaan materi yang dimiliki, melainkan dari keharmonisan suami istri dalam menjaga keluarga dengan baik. Inilah teladan yang baik. Kita juga harus mendidik anak-anak agar memperoleh pendidikan yang layak. Meski orang tua hidup dalam kemiskinan, mereka tidak boleh membiarkan anak-anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan. Inilah hal yang benar.

Dengan memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak, kita akan memiliki generasi penerus yang baik sehingga cinta kasih agung dapat terus diwariskan. Melalui pendidikan, kehidupan dapat berubah dari kemiskinan menuju kesejahteraan. Inilah tujuan dari misi pendidikan kita.


Bodhisatwa sekalian, prinsip kebenaran di dunia ini sebenarnya sangat sederhana. Kita harus memiliki pikiran benar dan arah jalan yang kita tempuh tidak boleh menyimpang. Dengan pikiran, perilaku, dan jalan yang benar, kita tidak akan melanggar aturan. Saudara sekalian, kekuatan cinta kasih terwujud ketika kita tidak melanggar sila dan menjalankan tanggung jawab dengan baik untuk bersumbangsih bagi masyarakat. Inilah yang disebut berbuat kebajikan. Berbuat kebaikan di dunia juga berarti menjadi teladan di dunia.

Untuk mewariskan ajaran Buddha, menaati aturan, dan membangkitkan kebijaksanaan, kita harus menjaga Lima Sila. Setelah menjaga Lima Sila, kita juga perlu mempraktikkan Sepuluh Kebajikan. Menjalankan Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan, sesederhana itu. Jika Anda dapat melakukannya, itulah yang disebut orang baik melakukan hal baik. Hendaknya kita menciptakan berkah bagi surga dan dunia ini. Inilah jalan yang harus kita tempuh dengan baik.

Membangun tekad dan ikrar untuk mengemban tanggung jawab besar
Terjun ke tengah masyarakat untuk membimbing semua makhluk menyadari ketidakkekalan
Menyebarkan Dharma, membawa manfaat, dan menjaga karma mulut
Melatih diri dengan mempraktikkan Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 19 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 21 April 2026
Orang yang memahami cinta kasih dan rasa syukur akan memiliki hubungan terbaik dengan sesamanya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -