Ceramah Master Cheng Yen: Membimbing Orang Menapaki Jalan Bodhisatwa dan Mewariskan Silsilah Dharma


“Master sering berkata bahwa jika tidak menyelami Dharma, kita tidak akan memiliki kebijaksanaan dalam menghadapi semua orang dan hal. Tanpa kebijaksanaan, noda batin akan terus muncul. Hanya dengan terus mengairi ladang batin dengan ajaran Master, barulah kita dapat menghadapi berbagai orang dan hal yang rumit ataupun tugas yang banyak dengan bijaksana dan harmonis,”
kata Lü Xue-bin, relawan Tzu Chi.

“Saya mengemban tanggung jawab atas kegiatan menghirup Dharma secara daring di Yilan. Selama beberapa tahun ini, berkat mendengar, merenungkan, dan mempraktikkan, ketika menghadapi berbagai kondisi di tempat kerja maupun ladang pelatihan, saya dapat bersikap penuh pengertian dan menyelesaikannya dengan sangat cepat,” kata Huang Zhi-huang, relawan Tzu Chi.

“Mengemban tanggung jawab sebagai fungsionaris, selain harus terus mendengarkan Dharma, saya juga harus mendorong anggota tim saya untuk turut mendengarkan Dharma dan membentuk kebiasaan baik ini. Saya berharap para saudara se-Dharma dalam tim saya dapat mengubah noda batin menjadi kebijaksanaan sehingga ketika menghadapi berbagai kondisi, mereka akan memiliki Dharma sebagai pedoman,” pungkas Huang Zhi-huang.

Setiap kali saya datang, hal pertama yang ingin saya lakukan ialah mendengarkan laporan kalian semua. Saya ingin melihat apakah semuanya bersatu hati, berinteraksi dengan harmonis, dan bersumbangsih bagi dunia dengan pandangan dan pemahaman yang sama.

“Setiap kali mengemban tanggung jawab, itu selalu menjadi proses belajar dan bertumbuh. Saat saya diminta untuk menjadi ketua Hexin, sebenarnya saat itu batin saya masih banyak pergumulan. Malam hari, saat tidur, saya bermimpi Master menggandeng tangan saya. Saat itu, hati saya terasa tenang. Saya merasa bahwa jalinan jodoh sudah matang dan saya tidak boleh mundur lagi,” kata Lin Yu-qiao, relawan Tzu Chi.


Dalam menjalankan tugas, arah kita harus sama. Bagaikan kereta api, tidak peduli berapa banyak gerbong yang ditarik, selama rel dipasang dengan baik, kereta akan melaju dengan stabil. Satu gerbong terhubung dengan gerbong lainnya dan terus melaju ke depan. Jalan Bodhisatwa di dunia juga seperti itu.

Setiap kali menginventarisasi kehidupan, saya merasa memiliki jalinan jodoh istimewa karena kita bisa bertemu dan kalian bersedia menuruti perkataan saya. Ketika saya mengatakan bahwa sesuatu itu bermakna dan mengimbau orang melakukannya, kalian langsung bergerak untuk melakukannya. Saat kalian melakukannya, jalinan jodoh kalian juga memainkan peran.

Kalian juga memiliki jalinan jodoh dengan orang-orang, baik teman, kerabat, maupun orang yang tidak kalian kenal. Mungkin ada teman dari teman kalian yang secara tidak langsung mendengar dan melihat bagaimana Tzu Chi dijalankan. Meski bukan mengenal kalian secara langsung, tetapi mendengar apa yang kalian bagikan, hati mereka dipenuhi sukacita. Begitulah cara Bodhisatwa menyebarkan Dharma di dunia.

Saat Buddha mencapai pencerahan, hatinya sangat hening. Sebelum fajar menyingsing, Beliau duduk di bawah pohon dengan hati yang sangat tenang dan hening. Langit, bumi, dan alam semesta sangatlah sunyi. Pada saat itu, batin Buddha berada dalam kondisi yang hening dan jernih. Saat perlahan-lahan membuka mata, Beliau melihat bintang di langit. Saat itulah, cahaya bintang tersebut membangkitkan hakikat sejati Tathagata. Ini terjadi di tengah keheningan.

Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan dan hakikat itu sangat hening. Begitu Buddha membuka mata dan melihat bintang di langit, pikiran-Nya pun terbuka dan Beliau mencapai pencerahan. Saya sangat berharap semua orang dapat dengan sungguh-sungguh mencari ketenangan batin masing-masing.


Dalam hidup ini, kita harus menemukan jalan yang benar. Saya telah memulai langkah. Jika kalian memiliki tekad dan merasa bahwa misi Tzu Chi sangat baik, tanpa harus saya minta, kalian pasti akan merasa memiliki jalinan jodoh dengan Tzu Chi dan mendedikasikan diri dalam setiap kegiatan. Inilah yang disebut jalinan jodoh yang istimewa.

Saudara sekalian, relawan di Su'ao termasuk yang paling awal menjalin jodoh dengan saya di seluruh Taiwan. Dengan kekuatan cinta kasih, para relawan mulai menggalang donatur. Setiap bulan, semuanya kembali dengan membawa beberapa buku catatan donasi. Dari sinilah perjalanan dimulai. Bertahun-tahun kemudian, jalinan jodoh pun matang dan kita menemukan lahan ini. Berkat jalinan jodoh inilah, kita bisa memiliki Aula Jing Si di sini. Aula Jing Si ini masih baru.

Hari ini, saat saya masuk ke dalam, ruangannya terasa sangat luas. Kesan pertama saya ialah semuanya tampak sangat baru, bersih, dan tertata rapi. Kesan saya terhadap tempat ini sangatlah baik. Saya bisa merasakan kesungguhan hati kalian. Jika sebuah tempat jalur pergerakannya nyaman dengan pintu, jendela, dan ruangan yang tertata baik, ini menunjukkan kesungguhan hati.

Saat berkeliling, saya benar-benar merasakan bahwa semuanya sangat bersungguh hati dalam merancang tempat ini. Hal yang paling membuat saya bahagia ialah melihat banyak insan Tzu Chi berbaris dengan rapi.

Anggota Tzu Cheng dan komite Tzu Chi benar-benar menunjukkan "rupa Bodhisatwa". Saat masuk, saya melihat semuanya mengenakan seragam dengan sangat rapi dan berdiri di posisi masing-masing. Dari sana, saya bisa melihat bagaimana kalian hidup dalam kesatuan dan keharmonisan. Kalian telah bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, dan bergotong royong. Keempatnya telah kalian jalankan dalam keseharian. Terima kasih, Bodhisatwa sekalian.


Masih ada banyak hal yang ingin saya sampaikan, tetapi waktu terus berlalu seperti ini. Jarak Hualien dan Yilan sangatlah dekat. Dalam perjalanan dengan mobil ke sini, saya melihat bahwa kondisi jalan sudah sangat baik. Jika ada waktu, hendaknya kalian sering kembali ke Hualien.

Aula Jing Si Yilan sangatlah bagus. Kalian harus merawat tempat ini dengan baik dan mengajak orang lain untuk datang berkunjung. Dengan adanya tempat ini, jika kalian memiliki foto dan kisah-kisah masa lalu, hendaknya kalian bergiliran untuk menceritakannya. Setiap lembar foto mengandung sejarah. Sejarah masa lalu harus sering kita ceritakan dan wariskan. Inilah kekuatan cinta kasih.

Hendaknya semuanya terjun ke tengah masyarakat dan mewariskan Jalan Bodhisatwa yang agung. Harus ada orang yang senantiasa menunjukkan jalan, menggandeng tangan orang-orang, dan berkata, "Mari kita berjalan bersama." Dengan begitu, jalan yang agung ini akan terbentang hingga selamanya. Inilah harapan terbesar saya.

Mencapai pencerahan dan melangkah di jalan yang benar
Membimbing mereka yang berjodoh untuk menapaki Jalan Bodhisatwa
Menghimpun kesatuan dan keharmonisan di ladang pelatihan
Menjadi saksi sejarah dan mewariskan silsilah Dharma

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 08 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 10 Januari 2026
Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -