Ceramah Master Cheng Yen: Membimbing Semua Makhluk dan Membawa Manfaat bagi Dunia
“Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang mahasiswa asal Penang, Malaysia yang berasal dari keluarga orang tua tunggal. Karena biaya hidup yang tidak stabil, dia terkadang tidak mampu makan sehingga harus bekerja paruh waktu di luar kampus. Ini langsung berdampak pada prestasinya,” kata Lü Xi-wen, Ketua tim jaringan informasi pusat computer.
“Saat itu, saya bertanya padanya, ‘Bagaimana jika kamu bekerja di tempat saya saja?’ Namun, dia menjawab, ‘Pak, saya tidak punya keterampilan khusus apa-apa.’ Saat itu, saya berkata padanya, ‘Karena itulah kamu datang ke sini untuk belajar.’ Meski saya bukan guru pembimbing ataupun orang tuanya, tetapi setiap akhir semester, dia akan menunjukkan prestasinya pada saya dan berkata, ‘Pak, semua mata pelajaran saya lulus’,” lanjut Lü Xi-wen.
“Master sering mengingatkan kami bahwa pendidikan adalah harapan bagi anak-anak. Saya sendiri pun merasa bahwa pendidikan bukan sekadar meneruskan pengetahuan dan mengurai keraguan, tetapi juga mengajarkan kebajikan dan tata krama. Dengan demikian, barulah kita dapat membina murid-murid yang memiliki budaya humanis Tzu Chi,” pungkas Lü Xi-wen.

Dunia ini membutuhkan pendidikan. Kita harus mengemban tanggung jawab untuk mengedukasi semua orang di seluruh dunia. Bagaimana kita mengedukasi dan membimbing mereka? Ajaran Buddha menyebutnya membimbing, sedangkan kita umumnya menyebutnya mengedukasi. Jadi, bagaimana kita mengedukasi dan membimbing semua makhluk? Para guru bertanggung jawab untuk mengedukasi, sedangkan kita para kaum monastik bertanggung jawab untuk membimbing.
Seperti para guru, saya juga sering berpikir, "Bagaimana hendaknya saya membimbing orang-orang?" Dalam sistem pendidikan kita, setiap guru memahami bahwa misi Tzu Chi di dunia ini ialah membimbing semua makhluk. Mengapa Buddha disebut Tathagata? Karena Beliau berulang kali datang dan pergi. Saat jalinan jodoh matang, Beliau akan pergi. Namun, Beliau terus kembali ke dunia ini untuk menjalankan misi-Nya. Jadi, Buddha juga disebut sebagai Tathagata, ladang pelatihan Buddhis juga disebut rumah Tathagata.
Tempat kita ini juga seharusnya disebut sebagai rumah Tathagata. Di ladang pelatihan inilah, kita meneruskan misi Buddha untuk membimbing semua makhluk. Di ladang pelatihan seperti inilah, Tzu Chi memperoleh pencapaian sedikit demi sedikit. Tzu Chi memiliki Empat Misi dan Delapan Jejak Dharma. Empat Misi Tzu Chi terdiri atas misi amal, kesehatan, pendidikan, dan budaya humanis. Misi amal kita telah menjangkau dunia internasional.


Ada banyak kisah Tzu Chi yang layak kita bagikan. Selama bertahun-tahun ini, di tengah masyarakat kita dan dunia internasional, kita selalu bersumbangsih bagi orang-orang yang membutuhkan. Inilah yang ingin saya bagikan kepada para profesor di sini. Saya juga menginventarisasi kehidupan diri sendiri. Mengenai hasil inventarisasi saya, saya sangat bersyukur. Saya bersyukur ada begitu banyak orang yang begitu mendukung saya.
Para relawan daur ulang bahkan bersumbangsih hingga bermandi peluh. Saya sering berkata bahwa meski tidak memiliki pamrih, mereka tetap akan memperoleh sukacita Dharma dan pencapaian yang tak terhingga. Karena itulah, selama puluhan tahun ini, saat insan Tzu Chi menyapa sesama relawan yang terlihat sangat lelah, mereka akan berkata, "Anda telah berbahagia." Mereka bukan berkata, "Anda telah bersusah payah." Mereka menganggapnya sebagai kebahagiaan. Ini telah menjadi ungkapan istimewa di antara insan Tzu Chi.
Setiap relawan bersumbangsih dengan sukarela. Mereka melakukan dengan sukarela, menerima dengan sukacita. Dalam ajaran Buddha, dikatakan bahwa kita bagaikan Bodhisatwa yang berlakon di dunia. Kita hendaknya berlakon di dunia hingga memperoleh banyak pencapaian.
Sungguh, saat berlakon di dunia, janganlah kita terlalu terpaku pada satu hal. Jika ada respons orang yang tidak sesuai keinginan saya, saya juga akan mengingatkan diri sendiri bahwa saya tengah berlakon di dunia. Dengan demikian, kita bisa menjaga persahabatan hingga selamanya dan tidak akan benci ataupun dendam terhadap siapa pun. Kita hendaknya senantiasa melapangkan hati, menganggap semua orang sebagai satu keluarga besar, dan memotivasi satu sama lain. Inilah yang paling saya harapkan.


Dalam keluarga besar ini, yang lebih tua bagaikan orang tua kita, yang seumur dengan kita bagaikan saudara kita, dan yang masih muda bagaikan anak kita. Kita harus mengasihi dan membimbing mereka bagai anak kita sendiri. Makin dalam kasih sayang kita, makin ketat pula kita memberikan bimbingan. Kita juga harus menggunakan metode terampil untuk membimbing orang-orang. Demikianlah para guru kita.
Kita menjadi guru bagi semua orang, bukan hanya guru bagi para murid. Mari kita menjadi guru bagi semua orang. Dengan saling menghormati, semua orang adalah guru saya dan semua orang adalah murid saya. Kita harus menjadi teladan yang baik bagi semua orang. Inilah himpunan kekuatan cinta kasih. Inilah pendidikan Tzu Chi yang istimewa.
Saya berharap kalian dapat terus belajar dan menerapkannya dalam mengajar. Ini sangatlah penting. Singkat kata, insan Tzu Chi hendaknya memotivasi dan mendorong satu sama lain. Inilah sahabat sejati yang sesungguhnya. Hendaklah kita menggunakan ketulusan dalam mengajar dan belajar. Bukan hanya guru yang bisa mengajar. Sesungguhnya, sesama manusia dapat mengajar dan belajar satu sama lain. Jadi, setiap orang adalah guru.
Kita harus sangat bersungguh hati. Belajar itu tidak ada ujungnya. Asalkan suatu ajaran bermanfaat bagi dunia, kita harus meyakini, menerima, dan menjalankannya. Saya sangat bersyukur kepada Universitas Tzu Chi. Saya berharap kita tidak mengecewakan orang tua murid yang telah memercayai kita untuk mengedukasi anak mereka. Kita telah membina insan berbakat bagi masyarakat. Singkat kata, inilah misi kita.
Mengemban misi untuk membimbing semua makhluk
Membina insan berbakat dengan sukarela dan sukacita
Saling memotivasi untuk terus belajar dan mengajar
Meyakini, menerima, dan menjalankan ajaran yang bermanfaat bagi dunia
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 16 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 18 Oktober 2026







Sitemap