Ceramah Master Cheng Yen: Membimbing Semua Makhluk dan Menyucikan Hati
“Setiap hari, saya memasukkan uang ke dalam celengan bambu sebelum keluar rumah, lalu bertutur kata baik dan berbuat baik di luar. Kami mengunjungi sebuah restoran vegetaris yang pemiliknya berasal dari Vietnam. Setiap hari, saat tiba di toko, hal pertama yang dilakukannya ialah memasukkan uang ke dalam celengan bambu. Dia mendoakan diri sendiri dan setiap pelanggannya,” kata Guo Hui-lan, relawan Tzu Chi.
“Yang lebih penting, saat bertemu pelanggan yang membawa anak, dia selalu memberikan uang logam kepada anak-anak agar mereka memasukkannya ke dalam celengan bambu. Anak-anak pun sangat gembira mendengar bunyi gemerincing. Orang tua juga akan mengeluarkan uang sendiri dan memasukkannya ke dalam celengan bambu. Demikianlah cinta kasih menyebar. Celengan bambu di setiap toko telah memperluas cinta kasih hingga ke seluruh komunitas,” pugkas Guo Hui-lan.
Kekuatan Toko Cinta Kasih sangatlah besar. Kita harus membuat orang-orang memahami makna dari donasi kecil ini. Saat memasukkan uang ke dalam celengan bambu dengan niat untuk menolong orang banyak, kita telah memupuk pahala. Jadi, sampaikanlah pada orang-orang bahwa saya sangat bersyukur kepada mereka yang telah menciptakan pahala dengan sukacita.
“Murid-murid Jing Si Pingtung berikrar dengan hati tertulus. Kami berikrar untuk mengemban misi demi ajaran Buddha dan bersumbangsih di komunitas demi semua makhluk; menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri dan tekad Guru sebagai tekad sendiri. Kami akan menjaga rumah di Pingtung dengan baik. Kami akan peduli terhadap makhluk di seluruh dunia. Kami akan meyakini, menerima, dan menjalankan ajaran Master. Master, mohon tenanglah. Semoga Master panjang umur dan senantiasa membabarkan Dharma.”

Terima kasih. Jika ingin saya senantiasa membabarkan Dharma, tidak sulit bagi kalian untuk mewujudkannya. Saya akan membabarkan Dharma asalkan ada orang yang berniat untuk mendengar dan menerimanya. Asalkan kalian mendengar dengan sepenuh hati dan tulus, saya akan selamanya membabarkan Dharma bagi kalian.
Hendaklah kalian senantiasa mengingat saya di dalam hati, bukan hanya dahulu dan sekarang, tetapi juga di masa mendatang. Yang lebih penting, dari kehidupan ke kehidupan, kita harus menyatukan hati dan bergandengan tangan untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Kini, banyak bencana yang terjadi di dunia. Kita harus bertekad dan berikrar dengan tulus. Jalinan jodoh untuk berhimpun di Tzu Chi sangatlah langka. Para insan Tzu Chi saling meyakini dan mengasihi. Ini sudah pasti. Saya bisa menjadi saksi ketulusan semua orang. Selama puluhan tahun, ini tak pernah berubah.
Ada sebagian relawan yang telah bergabung 30-an tahun, 20-an tahun, atau belasan tahun. Hingga kini, kalian tidak pernah berubah. Tekad pelatihan kalian tidak pernah mundur. Karena itulah, saya sangat dekat dengan para relawan di Pingtung. Namun, kali ini, saya tidak memiliki cukup waktu untuk berkunjung ke Pingtung. Terlebih, saya telah berusia lanjut dan kondisi kesehatan saya telah menurun. Stamina saya sudah tidak seperti saat muda. Kini, tubuh ini sangat lemah. Karena itulah, kalian menemui saya di Kaohsiung.
Saya juga sangat bersyukur atas ladang pelatihan di Kaohsiung ini. Di mana pun saya berpijak dan apa pun yang saya sentuh, saya selalu bersyukur kepada Relawan Du yang sangat berdedikasi. Meski saya tinggal di Hualien dan beliau tinggal di Kaohsiung, saya sering melihat dirinya dan istrinya di Griya Jing Si. Saat berkunjung ke Kaohsiung, saya juga sering melihat beliau berbagi kisah dan pengalaman serta memotivasi sesama relawan. Inilah yang sering saya lihat sehingga meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Beliau sering kembali ke Griya Jing Si.

Suatu kali, beliau kembali ke Hualien dan berkata, "Master, jika memiliki waktu luang, berkunjunglah ke Kaohsiung." Saya berkata, "Ada apa?" Beliau berkata, "Saya harap Master dapat melihat sebidang lahan. Jika Master merasa cocok, kita dapat memperluas ladang pelatihan kita." Kemudian, saya benar-benar berkunjung ke Kaohsiung dan beliau mengajak saya melihat lahan ini. Saat itu, area ini belum berkembang. Belakangan ini, saat berkunjung ke sini, saya menyadari bahwa lingkungan sekitar telah berbeda.
Setelah Aula Jing Si didirikan, saat saya memandang jauh ke depan, pemandangan di kejauhan sudah tertutup karena berdirinya banyak gedung pencakar langit. Berdirinya gedung demi gedung ini menunjukkan kemakmuran ataukah hanya memisahkan kita dari lingkungan luar? Sungguh, seiring berjalannya waktu, lingkungan terus berubah.
Relawan Du sungguh membuat kita merasa kehilangan. Beberapa tahun belakangan ini, saya tidak bisa melihatnya, hanya bisa melihat istrinya, Mei-cuo. Kita harus menghargai jalinan kasih sayang ini. Asalkan ada jalinan jodoh, sering-seringlah kembali ke Hualien. Ladang pelatihan baru kita di Pingtung ada di perkotaan. Namun, ingatlah untuk tetap berkunjung ke ladang pelatihan lama kita.

Para relawan di Kaohsiung hendaknya bersungguh hati dan peduli terhadap Tzu Chi Pingtung. Setiap Aula Jing Si adalah rumah kita. Para relawan di setiap Aula Jing Si hendaknya menjaga dan membimbing warga setempat. Menginspirasi setiap orang mendengar ajaran Tzu Chi, mengenal Tzu Chi, dan bergabung dengan Tzu Chi, ini disebut menyucikan hati manusia dan menciptakan tanah suci Bodhisatwa. Mari kita bersungguh hati melatih diri di ladang pelatihan dan membimbing semua makhluk yang berjodoh dengan kita di sekeliling kita. Demikianlah kita menggalang Bodhisatwa.
Kita memanggil kembali satu demi satu Bodhisatwa yang berjodoh dengan kita. Di masa mendatang, jika Bodhisatwa dunia makin banyak, Bumi pun akan tenteram dan sehat. Intinya, ada banyak ajaran yang sulit untuk disampaikan satu per satu. Namun, asalkan memahami hati saya, kalian pasti tahu apa yang ingin saya katakan. Lakukanlah hal yang harus dilakukan dengan saling menghormati dan membina keharmonisan.
Menghimpun niat baik untuk menciptakan pahala dengan sukacita
Tulus berikrar untuk menjalankan praktik Bodhisatwa
Jalinan jodoh untuk memperagung ladang pelatihan sangatlah istimewa
Membimbing semua makhluk dan menyucikan hati
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 19 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 21 Maret 2026







Sitemap