Ceramah Master Cheng Yen: Membina Berkah dan Kebijaksanaan sebagai Wujud Balas Budi


“Sebelumnya, saya tidak tahu bahwa barang yang dibuang bisa didaur ulang. Saya merasa bahwa barang yang dibuang orang agak kotor. Setelah beberapa kali melakukan daur ulang, saya dipenuhi sukacita dalam Dharma. Dengan melakukan daur ulang, kita dapat menyelamatkan Bumi ini, membawa manfaat bagi generasi penerus kita, berbuat baik, dan memperbaiki pola pikir kita,”
kata Wu Han-ming relawan.

“Dahulu, apakah Anda mengerti tentang daur ulang?”

“Tidak. Sebelumnya, saya lebih suka tidur atau bermain gawai ketika ada waktu luang. Namun, sekarang sudah berbeda. Saya mendapat banyak teman baru di Tzu Chi. Setelah bergabung dengan Tzu Chi, dia juga mengajak saya untuk bergabung. Saya telah memperbaiki temperamen saya. Dia pun telah memperbaiki temperamennya,” kata Lim Kooi Siong relawan.

Sulit untuk terlahir sebagai manusia. Berhubung sudah terlahir sebagai manusia, tidak peduli berapa usia kita sekarang, kita harus bertanya pada diri sendiri, "Sudahkah kita bersumbangsih bagi dunia ini? Berapa waktu yang kita miliki? Sudahkah kita mengembangkan nilai kehidupan?" Berapa lama kita bisa hidup? Kehidupan bisa berakhir dalam satu embusan napas. Kehidupan ini sangatlah singkat dan tiada yang tahu berapa lama kita akan hidup.

Sesungguhnya, seluas apa makna kehidupan kita? Apakah kita hidup hanya demi diri sendiri? Apakah kita hidup hanya demi keluarga kita? Apakah kita terjun ke tengah masyarakat untuk membawa manfaat bagi orang banyak? Apakah begini cukup? Tidak. Kita harus memperluas makna kehidupan kita.


Alam semesta tidak berujung. Karena itu, kita harus memperluas makna kehidupan kita. Jangan membatasi diri dalam ruang yang kecil. Saya sering berkata bahwa kita melatih diri agar terbebaskan. Terbebaskan bukan berarti meninggal dunia, melainkan batin kita tidak terbelenggu. Jangan membelenggu batin kita dalam dunia sendiri.

“Kondisi tahun lalu sangat buruk dan pasti mengalami kerugian. Saya yakin berbagai sektor merasakan dampaknya. Pandemi COVID-19 sungguh membawa dampak besar bagi semua orang. Ada banyak orang yang hidup lebih sulit dari kita. Saat masih memiliki kemampuan, saya merasa bahwa kita hendaknya berdonasi,” kata Chen Zi-xian Pengusaha Taiwan.

“Hari ini, kami para relawan Tzu Chi ingin mengajak kalian untuk menyambut semangat celengan bambu. Mari kita berbuat baik setiap hari untuk menolong keluarga yang membutuhkan,” kata Kusarin relawan Tzu Chi.

“Saat ada uang kecil, saya akan memasukkannya ke dalam celengan bambu. Relawan Tzu Chi secara berkala datang untuk mengumpulkan isi celengan bamboo sebagai dana misi amal,” kata Chen Xin-yuan karyawan perusahaan.

“Saya sangat gembira. Saat kami putus asa, kalian mencurahkan perhatian pada kami dengan penuh cinta kasih,” kata penerima bantuan Tzu Chi.

Jadi, kita harus bersungguh-sungguh menggenggam waktu dan jalinan jodoh. Genggamlah setiap detik untuk menginspirasi cinta kasih orang-orang. Dengan demikian, kita bisa menginspirasi orang-orang yang memiliki kesatuan tekad untuk menghimpun tetes demi tetes cinta kasih dan kekuatan. Jangan terpaku pada angka donasi.


Beberapa hari ini, saya terus berkata bahwa 30 hingga 40 tahun lalu, saya menolak donasi senilai 200 juta dolar AS dan lebih memilih untuk mengumpulkan 10 hingga 50 dolar NT dari banyak orang. Dengan donasi kecil dari banyak orang dan sumbangan sepotong bata atau satu sak semen, kita bisa membangun rumah sakit di Hualien. Untuk pembangunan rumah sakit ini, banyak orang yang menciptakan pahala. Jadi, rumah sakit ini merupakan akumulasi pahala banyak orang. RS ini berlandaskan kasih sayang yang Panjang dan cinta kasih yang luas.

Kita harus mengembangkan kekuatan cinta kasih untuk membentangkan jalan yang lapang dan rata serta mewariskan cinta kasih berkesadaran hingga selamanya. Kita terus memperluas cinta kasih dan memperpanjang jalinan kasih sayang. Praktik menyisihkan 50 sen setiap hari terus dijalankan dari dahulu hingga kini. Kita mengerahkan kekuatan cinta kasih untuk menyalurkan bantuan internasional.

Belakangan ini, saya terus menyaksikan berita. Empat unsur alam tidak selaras dan banyak bencana yang terjadi di seluruh dunia.

Belakangan ini, juga ada banyak siaran berita mengenai pandemi COVID-19. Di seluruh dunia, banyak negara yang menderita akibat pandemi COVID-19. Inilah yang membuat saya sangat khawatir.

Selama satu hingga dua tahun ini, saya terus berkata bahwa tiada seorang pun yang dapat menghentikan penyebaran pandemi ini. Apa yang harus kita lakukan? Semua orang di seluruh dunia hendaknya meningkatkan kewaspadaan dan memetik hikmah dari pandemi ini. Jangan melekat pada cinta kasih individual ataupun membangkitkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan.


Tubuh kita diberikan oleh orang tua. Kita hendaknya memanfaatkan tubuh ini untuk bersumbangsih bagi dunia dan memperluas makna kehidupan kita. Jadi, selama masih bisa bernapas, kita harus terus memperluas makna kehidupan, mendalami prinsip kebenaran, dan berbuat baik. Intinya, kita harus menghargai tubuh ini dan menciptakan pahala.

Untuk menciptakan pahala, kita harus melatih diri dan membawa manfaat bagi orang lain. Dengan bersumbangsih, kita juga menciptakan pahala. Dalam setiap langkah di Jalan Bodhisatwa, kita membawa manfaat bagi semua makhluk, menjalankan ikrar kita, berbuat baik, dan menciptakan pahala. Demikianlah kita membalas budi luhur orang tua.

Kita harus memanfaatkan tubuh yang diberikan oleh orang tua ini untuk menciptakan berkah bagi dunia dan menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Kita harus memanfaatkan kehidupan kita untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Demikianlah kita membalas budi luhur Buddha, orang tua, dan semua makhluk.

Genggamlah kehidupan ini untuk melatih diri dengan tekun
Merangkul seluruh alam semesta dan membawa manfaat bagi semua makhluk
Menghimpun kekuatan cinta kasih dan memetik hikmah dari pandemi
Membina kebijaksanaan sebagai wujud balas budi

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 27 April 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia, Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 29 April 2021
Keteguhan hati dan keuletan bagaikan tetesan air yang menembus batu karang. Kesulitan dan rintangan sebesar apapun bisa ditembus.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -