Ceramah Master Cheng Yen: Mempertahankan Tekad Awal dan Menjalankan Dharma Sejati
“Di Griya Jing Si, waktu kita terbagi-bagi. Dahulu, saat baru datang, saya tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Senior di sini memberi tahu saya, ‘Waktu di Griya Jing Si terbagi-bagi. Jika tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, kamu tidak akan memiliki waktu’,” kata De Deng, Bhiksuni Griya Jing Si.
“Saya sendiri sangat menghargai momen kebaktian pagi karena itu adalah momen untuk mendalami Dharma. Setelah mendengar Dharma, kita harus terjun ke tengah masyarakat untuk mempraktikkan Dharma. Saat menghadapi berbagai orang dan hal, kita harus menjaga pikiran agar tidak bergejolak. Itulah pelatihan diri,” kata De Xiang, Bhiksuni Griya Jing Si.
Bodhisatwa sekalian, kita hendaknya senantiasa waspada dan mengingat ketidakkekalan. Waktu berlalu dengan sangat cepat. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun terus berlalu. Momen demi momen membentuk hari, bulan, dan tahun. Waktu terus berlalu dan kita tidak memperhatikannya.
Saat kita membuka mata di pagi hari, terdengar bunyi lonceng dan genderang. Seiring terdengarnya bunyi lonceng dan genderang, semua orang segera berhimpun. Suasananya sangatlah agung. Sejak pagi-pagi sekali, kita hidup di tengah kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Dengan hati yang tulus, kita menggenggam waktu dan memasuki aula sesuai jadwal dengan tertib. Inilah kebajikan.


Saat orang yang berjalan di depan berhenti di posisinya sendiri, orang yang berada di belakangnya juga ikut berhenti. Semuanya membentuk barisan yang rapi, baik dilihat secara horizontal maupun vertikal. Bukankah ini menunjukkan kebajikan? Kita tidak berebut satu sama lain, melainkan berjalan sesuai urutan dan berdiri tertib di posisi masing-masing.
Kita juga mengikuti instruksi untuk memberi penghormatan dengan tulus dan bersujud dengan kompak. Lalu, kita mulai melantunkan Sutra dan gatha dengan ketulusan dari lubuk hati terdalam. Bukankah ini sangat indah? Kebenaran, kebajikan, dan keindahan terkandung dalam setiap tindakan kita. Dengan segenap jiwa dan raga, setiap orang berdoa semoga bisa hidup damai dan harmonis. Inilah yang disebut kebahagiaan.
Bodhisatwa sekalian, jika dapat menjalani setiap hari dengan damai, harmonis, dan bahagia serta tekun dan bersemangat setiap waktu tanpa menyia-nyiakan satu detik pun, inilah berkah yang sesungguhnya di dunia ini. Namun, saat hidup kita dipenuhi berkah, bolehkah kita menganggap bahwa itu sudah seharusnya? Kita harus merenungkan apakah pikiran kita sudah selaras dengan kebenaran. Jika pikiran kita selaras dengan kebenaran, seiring berjalannya waktu, kehidupan kita pun akan damai dan tenteram.

Akan tetapi, seiring waktu, jika pikiran kita bergejolak atau menyimpang dari jalan yang benar, itu berarti kita melanggar sila dan akan terus mengakumulasi karma buruk dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, kita akan sangat menderita. Siapa yang dapat menggantikan kita untuk menanggung akibat dari karma yang kita ciptakan di masa lalu? Tidak ada yang bisa. Karena itulah, kita harus melatih diri. Kita harus mawas diri setiap waktu.
Saat membuka mulut, hendaklah kita bertutur kata baik. Saat melangkah, hendaklah kita menuju arah yang bajik dengan langkah yang mantap. Kita juga hendaknya senantiasa berbuat baik dan menolong sesama. Semua inilah hal terpenting dalam hidup kita. Jika kita dapat menggenggam setiap momen dalam hidup kita untuk melatih diri dengan disiplin, kita tidak akan menciptakan karma buruk. Sebaliknya, kita akan mengakumulasi karma baik. Demikianlah proses melatih diri.
Ruang untuk melatih diri sangatlah luas. Ada berkah duniawi, ada pula berkah surgawi. Sesungguhnya, berkah apakah yang harus kita bina? Saya melatih diri bukan demi membina berkah, melainkan demi membina hati yang hening dan jernih serta tekad yang luar dan luhur. Apakah saya menjaga tekad awal saya dengan baik? Kapan pun dan di mana pun, saya terus menjaga tekad awal saya dan melatih diri. Bagaimanakah saya melatih diri? Dengan mempraktikkan ajaran Buddha.

Kita harus berusaha semaksimal mungkin setiap waktu untuk menjalankan ajaran Buddha. Demikianlah pelatihan diri kita. Apakah keuntungan yang kita peroleh dari ini? Kita tidak mengejar keuntungan, hanya ingin membina kedamaian batin hingga selamanya. Inilah yang disebut hati yang hening dan jernih. Hati yang damai, tidak timbul dan tidak lenyap, inilah keabadian. Inilah tataran Bodhisatwa dan Buddha.
Dengan fisik dan batin yang hening dan jernih, kita tidak akan menciptakan karma buruk dan akan selamanya hidup tenteram. Inilah berkah agung yang murni dan tanpa noda. Di sinilah letak perbedaan antara karma buruk dan berkah. Menyimpang sedikit saja, seseorang bisa jauh tersesat. "Berkah" dan "karma buruk" terdengar mirip dalam dialek Taiwan. Jika tidak berhati-hati, kita bisa jauh tersesat.
Bodhisatwa sekalian, hendaklah kalian bersungguh hati karena menyimpang sedikit saja bisa membuat kita jauh tersesat. Mari kita senantiasa lebih bersungguh hati.
Ketertiban semua orang menunjukkan kebenaran, kebajikan, dan keindahan
Senantiasa tekun dan bersemangat melatih diri serta mengingat ketidakkekalan
Mawas diri, menaati sila, dan menjalankan Dharma sejati
Mempertahankan tekad awal dan menciptakan berkah agung
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 27 Agustus 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 29 Agustus 2026







Sitemap