Ceramah Master Cheng Yen: Mempraktikkan Ajaran Bajik dan Mewariskan Cinta Kasih Agung
Saya merasa sangat bersukacita melihat kalian semua kembali ke sini. Saya telah mendengar berbagai pengalaman kalian.
Kita selalu menempatkan pendidikan sebagai hal yang utama. Sesungguhnya, pendidikan adalah proses membangkitkan kesadaran. Sejak dahulu, belajar merupakan hal yang sangat penting. Tanpa belajar, seseorang tidak akan mencapai kesadaran. Jadi, seseorang harus terlebih dahulu belajar, barulah dapat mencapai kesadaran. Itulah sebabnya pendidikan sangat penting.
Sejak semula, hakikat manusia pada dasarnya baik. Tugas pendidikan ialah membimbing manusia agar kembali pada hakikatnya karena nafsu keinginan sangat mudah menggoda manusia. Ketika manusia dikuasai oleh nafsu keinginan, akan timbul persaingan. Akibatnya, masyarakat tidak lagi hidup damai dan tenteram.
Agama memiliki peran yang sangat penting. Saya selalu menghormati semua agama. Setiap agama berkembang sesuai dengan budaya di berbagai negara. Jadi, hendaknya kita menghormati setiap agama. Namun, saya sangat bersyukur atas agama Buddha. Ajaran Buddha telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi dunia. Kita diajarkan untuk berbakti kepada orang tua dan menghormati mereka yang bajik dan luhur. Jadi, agama ialah tentang tujuan hidup dan pendidikan.
Ketika berbicara tentang Tzu Chi, Tzu Chi bukan hanya sekadar melakukan kebajikan, melainkan juga berfokus pada pendidikan. Jika hanya berbuat baik tanpa memiliki pendidikan, semua itu tidak akan mampu berjalan di jalur yang benar. Kita memerlukan pedoman dan arah yang tepat. Arah yang benar itulah yang disebut dengan agama. Tzu Chi diwariskan berdasarkan ajaran Buddha.

Dahulu, guru saya selalu menyampaikan pesan, "Anda dan saya memiliki jalinan jodoh sebagai guru dan murid. Mulai sekarang, ingatlah untuk bekerja demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk." Mendengar kalimat yang sederhana dan jelas itu, saya berkata dalam hati, "Saya akan mempraktikkan ajaran." Kalimat beliau menjadi pendidikan kehidupan bagi saya. Saat itu, saya bersujud kepada beliau dari lubuk hati yang paling dalam dan bertekad untuk mempraktikkan ajarannya.
Hingga hari ini, kita tetap mendedikasikan diri demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk. Namun, kita tetap harus menghormati semua agama. Saya bekerja demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk sebagai wujud meneruskan ajaran guru saya. Kini, kita harus menghormati semua agama tanpa terkecuali. Ajaran Buddha selalu mengajarkan kelapangan hati. Buddha selalu mengajarkan kepada kita melapangkan hati untuk mengasihi semua makhluk di dunia dan menghormati semua agama. Oleh karena itulah, Tzu Chi saat ini dapat diterima oleh siapa saja.
Apa pun agama yang dianut, tetaplah menjalankan keyakinan masing-masing. Namun, kita perlu menghormati nilai-nilai budaya humanis yang dilandasi ajaran Buddha. Saya melihat banyak staf Tzu Chi yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda-beda. Namun, ketika menjalankan misi Tzu Chi, semuanya dapat bersatu dan saling menghormati. Begitulah kita seharusnya saling menghormati dan memiliki semangat sejati dari agama.
Semangat semua agama bermuara pada satu hal, yaitu cinta kasih. Baik Kristen Protestan, Katolik, maupun Islam, semuanya mengajarkan tentang cinta kasih. Tzu Chi memiliki konsep cinta kasih agung. Da Ai TV hadir untuk menyebarkan cinta kasih agung ke seluruh dunia. Inilah arah yang selalu Tzu Chi pegang, yaitu menyebarkan cinta kasih agung ke seluruh dunia. Inilah cita-cita kita bersama.

Saya sangat berterima kasih kepada Indonesia. Indonesia pernah melalui masa-masa yang sulit. Saya selalu mengingatkan bahwa kita tidak boleh melupakan masa lalu, termasuk masa ketika masyarakat mengalami berbagai kekacauan.
Pada masa itu, saya sangat berterima kasih kepada Bapak Eka Tjipta Widjaja. Saat beliau datang, kami berbincang dengan sangat akrab. Beliau bertanya kepada saya, "Bagaimana cara mewujudkan perdamaian?" Saat itu, saya langsung menjawab dengan sepatah kata, yaitu cinta kasih. Pada waktu itu, Kali Angke masih sangat kotor. Saat itulah dilakukan upaya penataan Kali Angke.
“Pada tahun 2002, ketika Bapak Eka Tjipta Widjaja bertemu dengan Master, Master berkata, ‘Saya berharap Pak Eka dapat menggerakkan para pengusaha di Indonesia untuk bersama-sama membersihkan Jakarta. Ajaklah para warga, relawan, dan personel militer untuk bergotong royong,” kata Chia Wen Yu, relawan Tzu Chi.
Pada saat itu, ada tiga atau empat pengusaha yang benar-benar berusaha menghimpun kekuatan untuk membangun stabilitas negara. Hendaknya kita tidak melupakan masa itu. Generasi muda harus lebih memahami masa-masa tersebut.

Saat ini, kita memiliki lingkungan pendidikan yang sangat baik. Seandainya tidak pernah mengalami masa itu, orang-orang tidak akan tahu betapa kacaunya keadaan saat itu. Kali Angke akhirnya berhasil ditata kembali. Gedung-gedung dibangun sebagai tempat tinggal baru bagi masyarakat di sana. Rumah-rumah lama yang dibongkar dan warga dipindahkan ke bangunan baru yang layak.
Berhubung setiap bangunan memiliki bentuk yang sama, saya bertanya, "Bagaimana jika para penghuni tidak dapat membedakan tempat tinggal mereka?" Akhirnya, setiap gedung diberi gambar buah-buahan, seperti pisang, apel, atau jeruk. Dengan begitu, setiap orang cukup mengatakan, "Saya tinggal di gedung Jeruk," atau, "Saya tinggal di gedung Apel."
Kisah pada masa itu jangan sampai dilupakan. Selain menarik, kisah ini juga mengandung nilai pendidikan. Saya merasa bahwa sejarah seperti ini perlu diketahui oleh para guru Tzu Chi agar dapat diceritakan kepada anak-anak. Inilah yang disebut mewariskan ajaran bajik. Ajaran yang baik harus terus diwariskan. Singkat kata, agar hidup manusia tetap damai, kita harus senantiasa memiliki rasa syukur. Namun, jangan pernah melupakan sejarah masa lalu.
Hal yang paling berharga ialah kita memiliki begitu banyak orang di sekitar kita yang rela bersumbangsih demi terciptanya kedamaian dan stabilitas negara. Kita pun dapat menikmati kehidupan yang baik dan damai.
Mempraktikkan ajaran dan belajar menuju kesadaran
Mempertahankan kebajikan, mengikuti arah yang benar, dan kembali pada hakikat sejati
Menyebarkan cinta kasih agung ke seluruh dunia
Mewariskan ajaran bajik melalui kerukunan antaragama
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 25 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 27 Juli 2026







Sitemap