Ceramah Master Cheng Yen: Mempraktikkan Kebajikan dan Cinta Kasih demi Membawa Manfaat bagi Semua Makhluk


“Serangkaian buku berjudul ‘400 Tahun Sejarah Taiwan’ berisi tentang 400 tahun lalu, para pejabat tinggi Belanda datang ke Tainan untuk membangun Benteng Oranje atau yang sekarang dikenal dengan sebutan Benteng Tua Anping. Itu terjadi pada tahun 1624. Jadi, jika dihitung dari tahun 1624, hingga sekarang kebetulan sudah ada 400 tahun,”
kata Wang Zhi-hong Penanggung jawab badan misi humanis Tzu Chi.

“Kami berharap dapat menggunakan Empat Misi Tzu Chi, yaitu amal, kesehatan, pendidikan, dan budaya humanis, untuk mewakili sejarah perkembangan 4 bidang ini di Taiwan selama 400 tahun ini. Kami juga menuliskan kontribusi Tzu Chi selama 60 tahun terakhir dalam bidang ini. Ketika saya dan rekan-rekan saya menyusun buku ini, saya baru menyadari asal mula misi amal di Taiwan, bagaimana perkembangannya dari tahun ke tahun, dan bagaimana perkembangan misi kesehatan dari zaman dr. Mackay hingga sekarang,” lanjut Wang Zhi-hong.

“Seperti yang dikatakan oleh Master, harta berharga Taiwan terletak pada cinta kasih dan kebajikan warga masyarakatnya. Kekuatan dari keindahan dan kebajikan ini masih dapat kita lihat pada liputan tentang amal saat ini. Kami benar-benar menjadi saksi atas hal ini dan sangat bangga dapat menjadi bagian darinya,” pungkas Wang Zhi-hong.

Melihat serangkaian buku "400 Tahun Sejarah Taiwan", saya benar-benar bersyukur. Ketika membaca bagian tentang amal, saya terkesan dengan bagaimana upaya amal di Taiwan telah dimulai pada masa-masa awal dan sudah bertahan selama 400 tahun. Pada masa itu, cinta kasih dan kebajikan telah dibangkitkan. Ini benar-benar sangat menyentuh hati. Harta berharga Taiwan terletak pada kebajikan dan cinta kasih dari warga masyarakatnya. Kita benar-benar perlu memberitakan lebih banyak hal-hal baik.


Berbicara tentang Tzu Chi, jika ditelusuri sejarahnya, kita akan menemukan bahwa insan Tzu Chi adalah orang-orang baik yang memiliki cinta kasih dan tekad untuk bersumbangsih dengan sukarela dan memberikan pelayanan kesehatan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ternyata, amal dan kesehatan tidak terpisahkan. Jadi, selain memberikan pelayanan kesehatan, kita juga harus memberikan bantuan makanan untuk membantu mereka yang kekurangan dan kelaparan.

Saya benar-benar bersyukur ada begitu banyak insan Tzu Chi yang menghimpun kekuatan bersama untuk bersumbangsih bagi sesama. Dahulu, uang 50 sen yang disisihkan oleh setiap orang membangkitkan kekuatan yang paling besar, yaitu cinta kasih. Semua orang bersumbangsih dengan cinta kasih. Cinta kasih tidak dapat diukur dengan angka. Intinya, kita berusaha segenap hati dan tenaga. Inilah kekuatan yang paling besar.

Orang Taiwan sangat bersungguh hati dan bersumbangsih dengan sepenuh hati. Beberapa tahun terakhir ini, meski bencana alam sering terjadi, tetapi setiap kali bencana terjadi, insan Tzu Chi akan bermunculan dari segala arah untuk menjangkau area yang terkena dampak bencana. Baik yang bermunculan dari daerah setempat maupun yang datang dari tempat lain, semuanya disebut Bodhisatwa. Mereka yang senantiasa bersumbangsih benar-benar merupakan Bodhisatwa.

Saya selalu berharap semua orang dapat menumbuhkan cinta kasih seperti para relawan kita. Mereka bukan menuntut orang lain, melainkan menuntut diri sendiri untuk bersumbangsih dengan segenap hati dan tenaga. Mereka benar-benar merupakan teladan. Kita dapat melihat bagaimana orang-orang yang hidup di tempat yang kekurangan. Mereka mencari makan di tengah tumpukan sampah. Hanya dengan melihat sampahnya saja, kita dapat merasakan aromanya tidak sedap. Sungguh sebuah lingkungan yang sangat kumuh. Meski demikian, relawan Tzu Chi tetap datang ke sana untuk membantu.


Ketika orang lain tidak bersedia pergi ke sana, insan Tzu Chi tetap pergi ke sana. Apa yang mereka lakukan di sana? Tentunya, untuk melihat orang-orang yang menderita. Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu orang-orang yang menderita? Demikianlah para relawan Tzu Chi. Mereka berjalan di jalan yang berbeda dari orang lain dan melakukan hal yang berbeda dari orang lain. Mereka bersumbangsih dengan sukarela sehingga kita dapat melihat keindahan Taiwan.

Harta berharga Taiwan terletak pada kebajikan dan cinta kasih warga masyarakatnya. Kebajikan dan cinta kasih dalam tindakan mereka mengandung ketulusan hati yang menunjukkan keindahan. Jadi, melihat mereka mempraktikkan kebenaran, kebajikan, dan keindahan, saya merasa mereka layak mendapat pujian. Berhubung mereka telah bersumbangsih dengan ketulusan hati, semua hal yang telah mereka lakukan patut mendapat pujian.

Untuk menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk, kita seharusnya lebih banyak menyebarkan kebajikan seperti ini. Ada pepatah yang mengatakan, "Kita harus menyebarkan kebajikan dan menghindari kejahatan." Saat melihat kebajikan orang lain, kita seharusnya memberikan pujian untuk mereka. Inilah kebajikan dan keindahan. Namun, kita juga melihat banyak orang mengalami penderitaan. Dari mana asalnya penderitaan itu? Semuanya tak lepas dari hukum sebab akibat.

Hukum sebab akibat akan terus bekerja. Dari Empat Misi Tzu Chi, misi amal bergerak melihat orang-orang yang mengalami penderitaan. Meski tempatnya sangat kotor, tetapi sekelompok orang ini bersedia masuk ke dalam untuk membersihkannya dan memeluk orang-orang yang membutuhkan. Inilah makna dari keberadaan Empat Misi Tzu Chi. Bagaimana membuat dunia menjadi lebih indah? Lewat misi budaya humanis. Jadi, budaya humanis membuat dunia menjadi lebih indah. Kita seharusnya membagikan lebih banyak cerita tentang kebajikan dan keindahan.


Kita harus menggenggam kesempatan untuk menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk. Inilah yang disebut menyebarkan ajaran baik. Sesungguhnya, dunia ini dipenuhi penderitaan. Sesuai Empat Kebenaran Mulia, segalanya tidak kekal. Akumulasi dari berbagai sebab dan kondisi bisa baik ataupun buruk. Membawa berkah ataukah bencana, semua bergantung pada pikiran kita.

Saya benar-benar berharap kita dapat lebih sering membagikan ajaran-ajaran baik. Daripada hanya berbuat baik saat bencana terjadi, lebih baik kita menginspirasi orang-orang untuk menghimpun kekuatan cinta kasih saat berada dalam kondisi tenteram. Saya rasa ini sangat penting. Jadi, sekarang satu-satunya cara ialah menyebarkan Dharma lewat praktik kebajikan.

Yang dimaksud dengan praktik kebajikan bukan hanya menyediakan pakaian dan makanan, melainkan juga memberikan edukasi. Edukasi membawa harapan bagi masyarakat dan dunia. Karena itu, ia juga termasuk kebajikan. Inilah yang disebut mewariskan kebajikan. Kita semua memiliki tekad yang sama untuk membagikan ajaran-ajaran baik. Kita seharusnya juga memperhatikan para donatur kita agar mereka memahami apa yang dilakukan Tzu Chi. Intinya, dibutuhkan interaksi satu sama lain.

Kita juga harus mengimbau para relawan untuk segera menyebarkan Dharma yang didengar. Jadi, kita harus mendengarkan, membabarkan, dan mewariskan Dharma. Ini semua adalah Dharma. Asalkan memiliki sebersit niat, kita dapat menyebarkan prinsip-prinsip yang baik. Inilah kebajikan. Mewariskan ajaran baik juga merupakan berkah. Kita harus senantiasa menciptakan berkah di masyarakat.   

Menelusuri sejarah dan menghargai kebajikan sebagai harta berharga
Melenyapkan penderitaan dan membawa kebahagiaan lewat pelayanan medis
Membangun keteladanan lewat kerelaan diri sendiri
Menyebarkan Dharma, membawa manfaat bagi semua makhluk, dan tekun menciptakan berkah

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 29 Maret 2024
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet
Ditayangkan Tanggal 31 Maret 2024 
Mendedikasikan jiwa, waktu, tenaga, dan kebijaksanaan semuanya disebut berdana.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -