Ceramah Master Cheng Yen: Mempraktikkan Kebajikan dengan Cinta Kasih untuk Mewujudkan Keharmonisan


“Dua hari lalu, saya mengunjungi seorang Bodhisatwa lansia untuk mengumpulkan donasi. Saya memberitahunya bahwa Master telah datang dan beliau sangat gembira. Saya bertanya padanya, apakah ada yang ingin Anda katakan pada Master? Beliau malah bertanya pada saya, apa yang telah kamu peroleh dan pelajari dari Master? Saya ingin memberitahunya tentang semua yang saya pelajari, tetapi beliau lanjut berkata, kamu belajar untuk bersukacita dan tersenyum,”
kata Zheng Jin-long, relawan Tzu Chi.

 "Saya merasa bahwa ucapannya benar karena saat menggalang Toko Cinta Kasih, saya memang seperti itu. Saat menaruh celengan bambu di toko-toko, saya dan istri saya sangat sukacita dan selalu keluar dengan wajah penuh senyum. Saat mengumpulkan isi celengan bambu, kami makin dipenuhi sukacita dalam Dharma. Bukan hanya kami berdua yang merasa demikian. Para pemilik toko dan pelanggan pun merasa demikian,” pungkas Zheng Jin-long.

“Saat pergi keluar, saya selalu berbagi tentang Tzu Chi. Saya selalu berkata, Master berpesan bahwa jika ada yang tidak mengizinkan kami menaruh celengan bambu di tokonya, kami tidak boleh memaksa. Namun, jika Anda mengizinkan, Anda adalah orang yang penuh berkah,” ujar Huang Qiu-na, relawan Tzu Chi.

“Orang yang lapang hati akan dipenuhi berkah. Para pemilik toko sangat gembira mendengar ucapan kami. Mereka juga ingin menjadi orang yang penuh berkah. Meski semula tidak ada ruang untuk celengan bambu, mereka akan mengosongkan ruang untuknya,” pungkas Huang Qiu-na.

Sesungguhnya, para pemilik toko ini memiliki niat baik dan cinta kasih. Kita hendaknya mempertahankan cinta kasih mereka dengan mengajak mereka menjadi donatur Tzu Chi. Kita bisa mengajak mereka menjadi donatur Tzu Chi. Apakah kalian mengerti? (Mengerti). Mereka adalah orang yang benar-benar berniat baik. Baik, terima kasih. Saya sangat bersyukur dan tersentuh. Saya sangat bersyukur dan tersentuh. Cinta kasih terhimpun di Toko Cinta Kasih dan kita sangat tersentuh.

Kekuatan cinta kasih ini ada di dalam hati kita. Cinta kasih di toko-toko ini telah membangkitkan cinta kasih di dalam hati orang-orang. Cinta kasih ada di dalam hati setiap orang. Di mana kita berada, di sanalah cinta kasih berada. Jadi, saya sangat bersyukur kepada para Toko Cinta Kasih. Semua orang memiliki niat baik dan cinta kasih.


“Toko Cinta Kasih mendatangkan banyak manfaat tanpa kerugian apa pun. Ada banyak jodoh baik yang terjalin. Selain itu, setiap hari, para relawan kita juga dapat berpikiran baik, bertutur kata baik, dan berbuat baik. Adakalanya, ada pasangan suami istri yang bisa beradu mulut di rumah. Kini, saat beradu mulut, mereka akan berkata, sudahlah, hentikan saja. Ayo, pakai seragam kita untuk menggalang Toko Cinta Kasih. Mereka pun berdamai. Mereka menggalang Toko Cinta Kasih dengan sukacita. Jadi, kami sungguh sangat bersyukur dan tersentuh,”
kata Fang Han-wu, relawan Tzu Chi.

“Pasangan suami istri yang diceritakan Kakak Fang tadi ialah kami. Kami berdua telah menjalankan program ini selama tujuh bulan lebih. Setiap kali mengunjungi satu toko, Setiap kali mengunjungi satu toko, hati saya dipenuhi rasa tobat karena saya melihat seluruh keluarga mereka bersatu hati dan bekerja sama untuk mengelola rumah makan mereka. Saya berpikir, dalam keluarga saya hanya ada saya dan istri saya,” kata Jiang Jun-hui, relawan Tzu Chi.

“Master telah mengatakan berulang kali dan saya pun telah mendengarnya berulang kali. Mengapa saya tetap tidak bisa menyatukan hati dengan istri saya? Saya harap mulai hari ini, saya dan istri saya dapat benar-benar bersatu hati dalam menghadapi berbagai hal besar dan kecil,” pungkas Jiang Jun-hui.

“Saya adalah pemilik sebuah toko kecil. Saya telah berulang kali membaca ketiga buku Master ini hingga memperoleh banyak pencapaian. Apa yang saya pelajari dari buku-buku ini, saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya, termasuk dalam menjalankan usaha. Saya sangat bersyukur,” tutur Cai Feng-wen, pemilik toko.

Master yang paling saya hormati dan kasihi telah menginspirasi saya untuk turut berkontribusi bagi masyarakat. Saya sangat bersyukur. Dengan menaruh celengan bambu di toko, orang-orang mungkin akan bertanya, "Untuk apa celengan bambu ini?" Lalu, kalian bisa menjelaskannya dan berbagi kata-kata baik dengan mereka. Kata-kata baik ini merupakan doa bagi orang lain dan diri sendiri. Jika kita dapat bertutur kata baik setiap hari, menginspirasi orang baik setiap hari, dan berbuat baik setiap hari, bukankah itu sangat baik? Semua orang bersatu hati untuk berbuat baik, itu sangatlah baik.


Tahun ini, Tzu Chi telah berusia 60 tahun. Enam puluh tahun yang lalu, Tzu Chi bermula di Taiwan dari sebutir benih dan sebersit niat. Saya melihat Master Zhu Ding dari Vihara Longquan berkunjung ke sini. Saat itu, jalinan jodoh saya menjangkau Hengchun Saat itu, berawal dari Vihara Longquan ini. Master Zhu Ding sudah terlihat berbeda dengan dahulu. Saya sama sekali tidak bisa mengenalinya. Mengenang masa lalu, kami sangatlah dekat. Dahulu, saat kita melakukan survei kasus, mereka juga mendampingi kita.

Dengan kekuatan cinta kasih, kita menerima berbagai kasus. Kekuatan cinta kasih sungguh sangat indah. Saat itu, ada seorang penerima bantuan di Hengchun yang jatuh sakit. Penyakitnya sangat parah dan sulit untuk memperoleh pengobatan. Apakah penyakitnya? Kita pergi ke permukiman warga di sebuah desa. Kita berjalan melewati gang dan mencium aroma yang tidak sedap.

Saat itu, tidak ada yang berani mengatakannya karena itu sama saja dengan merasa jijik. Jadi, tidak ada yang berani mengatakannya. Kita terus berjalan. Saat membuka sebuah pintu rumah, kita melihat seseorang duduk di atas ranjang dengan kaki terjuntai. Di telapak kakinya, tumbuh sebuah tumor besar, bagaikan kembang kol. Itulah sumber aroma tidak sedap itu.

Orang itu mengidap kanker. Tumor di telapak kakinya itu merupakan kanker. Kita sangat tidak tega melihatnya. Karena itu, kita pun mengantarkannya ke Kaohsiung untuk menjalani pengobatan. Meski demikian, dia tetap tidak tertolong dan meninggal dunia. Itu sangat disayangkan. Demikianlah kehidupan yang penuh penderitaan. Sejak saat itulah, kita memulai misi amal di Hengchun. Saat itu, kita menerima berbagai kasus, termasuk penderita tumor yang menakutkan itu.


Teringat akan sekelompok Bodhisatwa yang tidak takut akan aroma tidak sedap dan kotor serta bersedia menempuh perjalanan yang jauh, saya sungguh merasa penuh kehangatan. Saat itu, relawan kita, Jing Yuan, selalu mendampingi saya. Ini merupakan kisah pada masa-masa awal. Kini, saya sangat sukacita karena melihat semua orang di sini penuh semangat dan cinta kasih. Selain itu, saya juga mendengar kehangatan dalam keluarga.

Bukan hanya para istri yang ingin menjalankan Tzu Chi, para suami juga memberikan dukungan. Ada banyak suami istri yang melatih diri bersama, lalu menginspirasi seluruh keluarga mereka. Selama beberapa hari ini, di sini ada keluarga yang keempat generasinya bergabung dengan Tzu Chi. Orang-orang seperti ini di tengah masyarakat sungguh merupakan berkah bagi Taiwan. Hendaklah kalian saling mendukung dengan cinta kasih.

Kalian hendaknya saling mendukung dengan berkata, dia sangat berdedikasi. Keluarganya sungguh dipenuhi berkah. Dia sungguh mengagumkan. Setiap orang bisa seperti dirinya. Demikianlah kita menyebarkan cinta kasih di sekitar kita. Dengan demikian, setiap orang akan dipenuhi berkah. Terima kasih. Saya mendoakan kalian.

Para pemilik toko kaya akan cinta kasih
Membimbing orang-orang untuk berbuat baik bersama dan menapaki Jalan Bodhisatwa
Selamanya mengingat tekad awal untuk menolong semua makhluk yang menderita
Saling mendukung untuk mewujudkan keharmonisan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 01 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 04 Februari 2026
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -