Ceramah Master Cheng Yen: Mempraktikkan Kebajikan untuk Kembali pada Hakikat Sejati yang Murni


Waktu berlalu begitu cepat. Pemberkahan Akhir Tahun merupakan kegiatan besar yang saat ini kita laksanakan. Para bhiksuni Griya Jing Si berkunjung ke berbagai tempat untuk menghadiri Pemberkahan Akhir Tahun komunitas. Setiap kali mereka berangkat lalu kembali, saya selalu bertanya, "Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah para relawan senior dalam kondisi aman?" Secara alami, hati saya selalu peduli terhadap kesehatan para relawan di berbagai daerah.

Kesehatan sangatlah penting, terlebih kini kita berada pada musim dingin. Menjelang akhir tahun, cuaca menjadi dingin dan cuaca tidak menentu. Hendaknya semuanya memperhatikan diri sendiri. Hal yang terpenting ialah saling peduli satu sama lain dengan bertanya, "Apakah sudah mengenakan pakaian hangat?" Berhubung iklim tidak seimbang, kita harus menjaga kesehatan dengan baik.

Belakangan ini, saya setiap hari memperhatikan berita internasional. Selain perubahan iklim, pikiran manusia juga bergejolak dan hubungan antarnegara tidak harmonis. Selain iklim yang tidak seimbang, pikiran manusia pun tidak selaras. Hal ini sungguh mengkhawatirkan. Saya sering berkata kepada semuanya bahwa pikiran manusia harus terus diselaraskan. Kita yang terlahir di dunia ini sangat perlu untuk melatih diri dan berbuat bajik.


Tujuan utama Buddha datang ke dunia ialah terjun ke tengah masyarakat untuk mengajarkan praktik Bodhisatwa dan membimbing semua orang untuk membangkitkan hati Bodhisatwa. Semua orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan. Namun, kita membiarkan hakikat kebuddhaan yang murni terus ditutupi oleh selapis demi selapis kegelapan batin.

Tujuan kita di dunia ini ialah menapaki Jalan Bodhisatwa. Namun, dari kehidupan ke kehidupan, hakikat sejati kita terus tertutup oleh selapis demi selapis kegelapan batin, bagaikan debu yang terus menumpuk dan menutupi sebuah cermin yang awalnya bersih. Cermin itu sesungguhnya dapat memantulkan apa pun yang ada di hadapannya dengan sangat jelas. Namun, cermin itu hanya bisa dilihat, tidak bisa kita masuki.

Apa yang kita lihat di cermin hanyalah pantulan. Setelah kita berbalik dan menghadap ke depan, itulah kondisi nyata dari pantulan cermin itu. Jika kita membelakangi pemandangan yang sesungguhnya dan hanya menatap pantulan di cermin, meski cermin itu dapat memantulkan pemandangan di hadapannya, kita tetap tidak mungkin melangkah masuk ke dalamnya. Jalan yang berada di depan cerminlah yang benar-benar harus kita tempuh.


Saudara sekalian, jangan terus membelakangi kenyataan dan menatap cermin. Kita harus berbalik, menghadap ke depan, dan menatap jalan di hadapan kita karena jalan itulah yang benar-benar dapat kita lalui. Ke mana jalan itu membawa kita? Jalan itu adalah Jalan Bodhisatwa. Tujuan kita ialah terus melangkah maju di jalan itu dan ujung jalan itu adalah kebuddhaan.

Kebuddhaan adalah hakikat dasar yang dimiliki semua orang. Kita harus menemukan hakikat sejati. Di mana mencarinya? Kita harus berbalik dan mengarah pada batin masing-masing untuk menemukan hakikat kebuddhaan. Inilah tujuan pelatihan diri kita. Jika dikatakan seperti ini, bukankah terdengar sangat abstrak? Namun, ini selaras dengan prinsip kebenaran.

Untuk menapaki jalan di depan, kita harus berbalik dari cermin dan melangkah maju tanpa menyimpang. Seperti yang belakangan ini saya sampaikan bahwa arah kita harus benar. Pandangan ke depan pun harus lurus dan tepat. Saya sering memberi contoh dengan kedua tangan dan ditumpuk dengan lurus. Arah yang lurus inilah yang harus kita pegang untuk melangkah tanpa adanya penyimpangan sedikit pun.

Menyimpang sedikit saja, kita bisa tersesat ribuan mil. Penyimpangan sekecil apa pun akan terus membesar hingga akhirnya kita tersesat jauh. Jadi, hendaknya kita menjaga tekad dan mempraktikkan ajaran agar jalan menjadi lapang. Dengan menjaga tekad dan mempraktikkan ajaran, jalan kita akan menjadi lapang. Hendaknya kita bersungguh hati.


Bodhisatwa sekalian, terima kasih. Waktu berlalu detik demi detik, menit demi menit. Berhubung waktu terus berjalan, hendaknya kita menggenggam waktu dengan baik. Dalam momen Pemberkahan Akhir Tahun, harapan saya ialah setiap orang dapat menjalani tahun yang baik, meningkatkan rasa cukup dalam keseharian, dan mengasihi satu sama lain. Semua yang saya sampaikan tidak lepas dari hal-hal ini. Hendaknya semuanya tetap saling menjaga dan saling peduli.

Iklim tidak seimbang dan terjadi pergolakan antarnegara
Mengembangkan cinta kasih dan melatih diri untuk berbuat bajik
Menuju arah yang benar untuk kembali pada hakikat sejati yang murni
Menggenggam setiap detik dan menit untuk saling peduli

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 06 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 08 Januari 2026
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -