Ceramah Master Cheng Yen: Memupuk Jalinan Jodoh Berkah dengan Cinta Kasih Tanpa Pamrih


“Saya akan selalu ingat untuk mengikuti langkah Master dengan erat dan mengemban misi untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk. Saya juga merasakan secara mendalam bahwa hanya dengan tekun dan bersemangat, barulah hati saya akan memiliki kekuatan. Di tengah kesibukan, saya dapat mengubah pola pikir dan membimbing keluarga saya dengan ajaran Master. Ikrar pertama saya untuk membalas budi orang tua telah terwujud. Kini, ibu saya juga giat bersumbangsih di depo daur ulang,” kata Gong Shu-juan, relawan Tzu Chi.

“Di komunitas, saya merasakan dengan jelas bahwa para paman dan bibi Tzu Chi sudah makin lanjut usia. Jika saya tidak maju untuk memikul tanggung jawab, siapa lagi yang akan melakukannya? Saya berikrar untuk menyatukan semua relawan di Dongshi dan menginspirasi lebih banyak relawan muda. Saya akan membina insan berbakat bagi Master agar kaum muda dapat meneruskan estafet Tzu Chi hingga selamanya,” kata Wei Shi-geng, relawan Tzu Chi.

“Saat dilantik oleh Master, saya berpikir bahwa saya harus mengikuti langkah Master. Di paruh kedua kehidupan saya, saya ingin melakukan hal yang bermakna. Jadi, saya akan berpegang pada tekad Master dan terus mengikuti langkah Master,” kata Lin Chun-li, relawan Tzu Chi.

Kalian bisa begitu dekat di hati saya, memahami perjalanan masa lalu saya, dan penuh tekad untuk bersumbangsih sekarang, semua ini membuat saya sangat sukacita. Saya sukacita karena kalian telah membangkitkan tekad. Ini tidak salah dan kalian tidak akan menyesalinya. Tzu Chi memiliki kalian dan kalian memiliki Tzu Chi. Kita pasti dipenuhi sukacita dan tidak akan menyesal.

“Memikul tanggung jawab sebagai fungsionaris, saya bersedia. Dari kehidupan ke kehidupan, kami akan mengikuti langkah Master.”


Enam puluh tahun yang lalu, kita menghimpun donasi 50 sen dari banyak orang. Himpunan 50 sen yang tak terhingga ini dapat digunakan untuk menolong sesama. Sejak masa itu, relawan kita bagaikan kunang-kunang yang terus bertumbuh dari beberapa ekor menjadi ratusan, bahkan ribuan ekor. Kini, relawan kita bagai bintang-bintang di langit. Setiap hadirin di sini adalah "bintang" Tzu Chi.

Tanpa sumbangsih bintang-bintang ini, bagaimana mungkin ada tetes demi tetes air yang terakumulasi menjadi segelas air, seguci air, sungai, bahkan lautan? Jadi, jangan meremehkan tetesan air diri sendiri dan hormatilah tetesan air orang lain. Saya sering berkata bahwa kita harus bersyukur. Sejak membangkitkan tekad untuk menjalankan misi amal dan menyerukan praktik donasi 50 sen, saya selalu bersyukur. Atas setiap tetes donasi yang terhimpun, saya selalu bersyukur.

Bodhisatwa sekalian, saya telah mendengar kalian berbagi tentang bagaimana kalian bergabung di Tzu Chi dan apa kesulitan yang pernah kalian hadapi. Dalam setiap langkah kita, kita harus berpikir bahwa setelah langkah ini, saya harus melangkah maju lagi ke tempat yang lebih tinggi dengan langkah yang mantap. Dalam perjalanan hidup kita, kita tidak mungkin hanya berjalan di jalan yang rata. Pasti ada waktunya kita harus menanjak ataupun menurun. Bagaimana hendaknya postur tubuh saat menanjak? Bagaimana pula saat menurun? Semua ini perlu dipelajari.

Kita harus tahu bahwa untuk melakukan kebaikan di dunia, kita harus mengatasi berbagai kesulitan. Saat menghadapi kesulitan, kita harus bisa mengatasinya. Demi berbuat baik, kita harus mengatasi berbagai rintangan. Inilah yang disebut melatih diri. Dalam melatih diri dan menapaki Jalan Bodhisatwa, jika ada yang merintangi kalian dan kalian tidak dapat mengatasi rintangan ini, bagaimana kalian bisa melatih diri?


Kalian hendaknya berikrar untuk menuju arah yang benar dan menapaki jalan yang benar. Inilah yang harus dilakukan pada awal melatih diri. Melatih diri adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang. Saat semua orang berhimpun, kita membentuk tim yang memiliki citra. Kita yang memiliki citra Tzu Chi hendaknya bersumbangsih dengan segenap hati dan tenaga. Dengan bersumbangsih, kita memperoleh pencapaian.

“Jalinan jodoh antara saya dan Tzu Chi bermula dari Gempa 921 dan Topan Morakot. Saat itu, saya belum mengenal Tzu Chi. Namun, dalam dua bencana besar itu, saya melihat para insan Tzu Chi yang bersumbangsih dan berkontribusi tanpa pamrih. Itu membuat saya sangat terharu. Hati saya sangat tergugah. Pada saat itulah, jalinan jodoh dengan Tzu Chi mulai bertunas di dalam hati saya,” kata Xu Xiang-hu, relawan Tzu Chi.

Tim Tzu Chi haruslah tertib sehingga saat melihat kita, orang-orang akan berkata, "Demikianlah Tzu Chi bersumbangsih. Mereka selalu sangat tertib dalam menjalankan misi Tzu Chi." Kita menunjukkan kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Dengan hati yang benar dan tulus, kita membangkitkan kebajikan dan bersumbangsih bersama dengan kesungguhan hati.

Kini, kita bisa melihat barisan Tzu Chi yang sangat indah. Untuk menampilkan keindahan, kita harus membangkitkan kebajikan dan cinta kasih agung yang tulus dan tanpa pamrih. Karena itu, saya sangat menghormati kalian. Ada begitu banyak orang yang berjodoh dengan saya. Mengenai orang-orang yang berjodoh dengan kalian di kehidupan lampau, kalian hendaknya juga membimbing mereka.


Untuk menjadi komite Tzu Chi, kalian juga harus menjalin jodoh baik dengan orang-orang. Jika tidak menjalin jodoh baik, sebanyak apa pun yang kalian katakan, orang lain tidak akan mendengarkan. Jadi, kita harus memupuk jalinan jodoh baik. Orang yang memiliki jalinan jodoh baik adalah orang yang dipenuhi berkah. Jika kalian dipenuhi berkah, saat kalian berbicara, orang-orang akan mendengarkan kalian. Jadi, harus ada jalinan jodoh baik, baru ada berkah untuk melakukan banyak hal. Demikianlah hendaknya kita melatih diri.

Di sini, saya ingin memberi tahu kalian tiga hal. Kita harus menjalin jodoh baik dengan orang-orang. Kita juga harus memupuk berkah karena dengan adanya berkah, baru ada jalinan jodoh untuk menginspirasi orang lain hingga bersedia mengikuti langkah kita. Dengan partisipasi banyak orang, barulah kita dapat mewujudkan banyak hal, seperti butiran padi yang memenuhi lumbung dan tetesan air yang membentuk sungai. Dengan demikian, barulah kita memiliki kekuatan untuk bersumbangsih di Taiwan hingga ke seluruh dunia.

Kekuatan untuk bersumbangsih ini tidak boleh kekurangan partisipasi satu orang pun. Kini, saya sendiri pun merasakan bahwa saya harus terus memberikan ceramah. Karena itu, saya terus memberikan ceramah. Bodhisatwa sekalian, saya sangat bersyukur pada kalian.

Setelah pulang ke daerah masing-masing, manfaatkanlah ladang pelatihan terdekat untuk menjalin jodoh baik dengan orang-orang dan melatih diri untuk menjadi Bodhisatwa. Kita hendaknya berbagi prinsip kebenaran dengan orang-orang dan bersyukur kepada mereka. Hendaklah kita saling bersyukur dan membimbing.

Mempraktikkan kebajikan dengan sukacita dan tekad yang teguh
Mengakumulasi tetes demi tetes donasi dan melangkah dengan mantap
Mengatasi berbagai kesulitan menuju arah yang benar
Memupuk jalinan jodoh berkah dengan cinta kasih tanpa pamrih

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 12 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 14 September 2026
Orang yang berjiwa besar akan merasakan luasnya dunia dan ia dapat diterima oleh siapa saja!
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -