Ceramah Master Cheng Yen: Memupuk Santapan Spiritual dengan Membawa Manfaat bagi Sesama


“Selama tiga tahun berdirinya Platform Alat Bantu Ramah Lingkungan Yilan, kita telah mengirimkan alat bantu ke utara dan selatan sejauh 50 kilometer dari kantor kita. Dengan dua kendaraan saja, kita bisa mengirimkan alat bantu ke seluruh Kabupaten Yilan. Setelah kita mendirikan platform alat bantu, banyak orang yang mengajukan permohonan alat bantu lewat platform kita. Permintaan tiba-tiba melonjak, sedangkan kami hanya memiliki beberapa relawan dan dua kendaraan. Apa yang harus kami lakukan? Kami lalu menambahkan fitur ‘ambil sendiri’,”
kata Lü Xue-bin relawan Tzu Chi.

“Untuk alat bantu yang ringan, kami berharap masyarakat dapat datang untuk mengambilnya. Dengan demikian, interaksi kami pun akan meningkat. Penambahan fitur yang sederhana ini telah mengurangi 50 persen beban pekerjaan kami. Namun, bagi warga lansia sebatang kara atau warga yang tidak memiliki kendaraan, kami tetap mengantarkan alat bantu ke rumah mereka,” pungkas Lü Xue-bin.

Bodhisatwa sekalian, Dharma adalah kebenaran. Kebenaran adalah Dharma yang kita sebarkan sekarang. Dharma mengajarkan metode untuk terjun ke tengah masyarakat dan menolong mereka. Inilah Dharma yang kita sebarkan. Kita menggunakan berbagai metode praktis untuk bersumbangsih bagi orang yang membutuhkan dan membimbing mereka. Selain memberikan pertolongan, kita juga memberikan bimbingan.

Saya ingin memberi tahu kalian bahwa tanpa noda batin, sulit bagi kita untuk mencapai Bodhi. Dengan adanya jalinan jodoh, noda batin adalah Bodhi. Bodhi adalah pencerahan. Dengan adanya jalinan jodoh untuk mencapai pencerahan, noda batin adalah Bodhi. Kita pernah diliputi noda batin. Saat jalinan jodoh matang dan ada orang yang membimbing kita, kita merasa sukacita dan mulai bersumbangsih. Kita telah memahami kebenaran di dunia. Kebenaran-kebenaran inilah yang kita gunakan untuk membantu dan membimbing sesama.


Mengenai alat bantu yang kita kumpulkan ini, jika orang-orang hanya membongkarnya, semua itu akan berubah menjadi limbah. Namun, kita yang menghargai berkah mengumpulkan, membersihkan, memperbaiki, dan mengirimkannya kepada orang yang membutuhkan. Bisakah kalian membayangkan betapa bersyukurnya saya?

Belakangan ini, saya sering berkata bahwa saya memiliki sekelompok Bodhisatwa yang menciptakan berkah bagi masyarakat dengan kebijaksanaan dan cinta kasih mereka. Gagasan platform alat bantu ini bukan berawal dari saya, melainkan dari tekad dan kebijaksanaan mereka sendiri. Mereka bersumbangsih dengan tekun. Para relawan kita memperbaiki, membersihkan, dan merapikan alat bantu, lalu menyalurkannya kepada orang yang sangat membutuhkan. Demikianlah kehidupan.

Mereka mengembangkan kebijaksanaan untuk menciptakan berkah bagi masyarakat dengan sukarela. Ini membuat mereka dipenuhi sukacita. Jadi, menolong sesama adalah akar kebahagiaan. Setelah mengirimkan alat bantu, mereka sangat sukacita. Saat saya membahas hal ini, para anggota Tzu Cheng yang turut berpartisipasi pasti berpikir, "Benar, kami sangat sukacita." Sungguh, saya sangat kagum pada kalian. Bukan saya yang menyuruh kalian untuk berbuat demikian. Saya terus berkata bahwa gagasan ini belum pernah muncul dalam benak saya. Namun, para Bodhisatwa kita yang selalu menciptakan berkah dengan kebijaksanaan telah mewujudkannya.

Insan Tzu Chi bukan mengejar pahala. Sama seperti saya, para insan Tzu Chi bersumbangsih tanpa pamrih. Saya merasa bahwa semua orang di dunia ini adalah satu keluarga. Saya sering berkata demikian. Semua orang hendaknya berhimpun menjadi satu. Ini disebut bersatu. Semua orang hendaknya bersatu dan menautkan hati satu sama lain. Gerakan ini berarti bersatu berarti bersatu dan saat kita meletakkannya di depan dada kita, ini berarti bersatu hati. Kita harus bersatu hati dan saling mengasihi.


Dengan kedua tangan ini, kita bisa mengerahkan kekuatan. Dengan kedua tangan kita, kita bisa melakukan banyak hal. Kita juga memiliki dua kaki. Saat satu kaki melangkah, kita menciptakan berkah dan menolong sesama. Saat kaki lainnya melangkah, kita mengembangkan kebijaksanaan. Untuk menciptakan berkah, kita harus menggunakan kebijaksanaan. Jadi, berkah dan kebijaksanaan harus beriringan.

Dengan sepasang tangan dan kaki kita, kita mengumpulkan alat bantu, seperti ranjang pasien. Untuk mengumpulkan alat bantu, kita membutuhkan sepasang kaki dan tangan kita. Kita juga menggunakan pikiran dan otak kita. Kita bertekad untuk bersumbangsih dan menggunakan kebijaksanaan untuk mewujudkannya. Pikirkanlah, bukankah kalian merupakan Bodhisatwa dunia?

Para insan Tzu Chi bersumbangsih dengan cinta kasih. Semua orang menuruti kata-kata saya. Setelah saya menyerukan sesuatu, semua orang berhimpun dengan kesungguhan hati sehingga kita dapat menolong orang yang membutuhkan. Kita mengembangkan kebajikan dan cinta kasih untuk mengajak orang bersumbangsih bersama.

Saat merekrut donatur, kita juga membimbing mereka dengan Dharma. Kalian telah memahami dan menyerap Dharma ke dalam hati. Inilah yang Buddha ajarkan pada kita. Jika saya tidak mendalami ajaran Buddha, meski kalian memiliki jalinan jodoh dengan saya, saya tidak akan bisa membimbing kalian dengan Dharma. Berhubung telah mempelajari Dharma dan memiliki jalinan jodoh Dharma, saya pun berbagi Dharma dengan orang-orang untuk membangkitkan cinta kasih mereka. Ini adalah hukum sebab akibat.

Dengan adanya benih dan jalinan jodoh baik, kita dapat menuai buah yang baik. Jika kita memiliki benih yang baik, tetapi tidak memiliki jalinan jodoh baik, meski dipenuhi berkah, kita tetap tidak dapat membawa manfaat bagi orang banyak. Karena itulah, di Tzu Chi, kita berkata bahwa Bodhisatwa datang karena adanya makhluk yang menderita. Orang-orang yang menderita merupakan benih pelatihan diri kita. Ini disebut santapan spiritual. Bagaimana kita melatih diri? Kita melatih diri di Jalan Bodhisatwa.


Bodhisatwa ada karena adanya makhluk yang menderita. Tanpa makhluk yang menderita, kita tidak berkesempatan untuk bersumbangsih. Jika demikian, bagaimana bisa kita disebut Bodhisatwa? Jadi, kita harus menganggap orang-orang yang kita bantu sebagai santapan spiritual kita.

Bodhisatwa sekalian, kita hendaknya sungguh-sungguh menghargai Dharma dan menggenggam waktu. Waktu terus bergulir. Kini, saya juga prihatin atas penurunan fungsi tubuh saya. Contohnya, saat memberikan ceramah. Saya sangat bersyukur masih memiliki energi untuk memberikan ceramah. Namun, saya harus menguras energi untuk itu. Karena itu, kalian hendaknya menghargainya.

Saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk berbagi ajaran Buddha dengan semua orang. Ajaran Buddha adalah kebenaran sejati. Kalian yang telah mendengar Dharma hendaknya membangkitkan tekad sejati. Saya berharap kalian dapat mempertahankan berkah dengan terus menciptakan berkah. Untuk itu, kalian harus tekun dan bersemangat. Jika tidak, saya sangat khawatir akan dunia ini.

Dengan kondisi global saat ini, hal yang perlu dikhawatirkan sangatlah banyak. Namun, saat ini, yang bisa kita lakukan dengan segenap hati dan tenaga ialah menolong orang-orang yang menderita. Kini, jalinan jodoh kita telah matang. Pada era ini, kita sungguh perlu bertekad untuk berbuat baik. 

Menggunakan metode praktis untuk menolong orang yang membutuhkan
Menginspirasi dan membimbing orang menuju pencerahan
Memperoleh sukacita dengan membawa manfaat bagi sesama
Bersatu hati, saling mengasihi, dan memupuk santapan spiritual       

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 02 April 2024
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet
Ditayangkan Tanggal 04 April 2024
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -