Ceramah Master Cheng Yen: Menanam Akar Kebajikan dan Menciptakan Jalinan Jodoh Berkah


“Sejak pertama kali saya mengikuti baksos kesehatan pada tahun 2000 hingga kini mengemban tanggung jawab sebagai ketua He Qi, saya mendapatkan begitu banyak kesempatan belajar. Saya belajar tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan menangani banyak hal. Berkat ajaran Master, saya belajar untuk bersabar, bersikap penuh pengertian, berlapang dada, mengenal rasa puas, dan mensyukuri setiap jalinan jodoh,”
kata Anie Widjaja, relawan Tzu Chi Indonesia.

“Master pernah berkata bahwa kita datang ke Tzu Chi bukan hanya untuk melakukan perbuatan baik, melainkan untuk sungguh-sungguh melatih diri dan belajar menjadi manusia yang lebih baik. Tujuh tahun lalu, saya memberanikan diri menutup usaha yang saya jalani dengan harapan dapat memusatkan sisa kehidupan saya untuk menjalani Tzu Chi dan sungguh-sungguh melatih diri,” kata Like Hermansyah, relawan Tzu Chi Indonesia.

“Menjadi ketua He Qi selama 12 tahun, saya menyadari bahwa sebagai manusia, kita harus berani memikul tanggung jawab. Selain berjalan di barisan terdepan, kita juga harus mewariskan nilai-nilai, melepas, dan tetap mendampingi hingga akhir,” pungkas Like Hermansyah.


Melihat kalian semua kembali, hati saya penuh dengan sukacita dan rasa syukur. Pada saat yang sama, saya merasa sangat terhibur dan tenang karena yakin bahwa misi Tzu Chi akan terus berjalan dengan kokoh dan berkesinambungan. Saya melihat perkembangan Tzu Chi di Indonesia sangatlah cepat. Satu per satu misi Tzu Chi, mulai dari misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, hingga misi budaya humanis, dijalankan dengan sangat baik. Ini sungguh menyentuh hati saya.

Dalam hati, saya terus berkata bahwa Tzu Chi telah membentangkan jalan selama hampir 60 tahun. Indonesia telah mengemban misi Tzu Chi dan membawanya ke tengah masyarakat selama lebih dari 30 tahun. Lihatlah, cahaya itu bersinar begitu cepat karena adanya sekelompok pengusaha dan para relawan yang memiliki tekad dan tujuan yang sama.

Para relawan senior Tzu Chi Indonesia sangatlah tekun dan bersemangat. Relawan muda yang terinspirasi tidaklah sedikit. Inilah harapan Tzu Chi. Indonesia sangat dipenuhi berkah. Dengan demikian, kita hendaknya menciptakan berkah bagi dunia. Inilah satu tekad yang harus kita miliki bersama, yaitu bekerja dengan kesungguhan hati dan cinta kasih. Tentu saja, kita harus berterima kasih kepada para perintis yang pertama kali memperkenalkan Tzu Chi ke Indonesia, termasuk Bapak Mike Lee, Ibu Murdaya, dan beberapa tokoh lainnya yang tidak boleh dilupakan.

Pada masa itu, saat kondisi kehidupan masih serba sulit, sekelompok orang ini bertekad untuk terjun langsung. Saat itu, penyakit tuberkulosis masih merebak, anak-anak pun banyak yang menderita cacingan. Dengan cinta kasih, mereka membawa obat-obatan langsung ke rumah-rumah keluarga kurang mampu. Ketika mengenang masa itu, saya terpikir tentang ketulusan mereka sehingga langkah demi langkah dapat dijalani dengan mantap hingga hari ini.


Belakangan ini, saya sering mengangkat kisah ini dengan harapan agar para relawan Indonesia dapat melihat kembali sejarah awal Tzu Chi di Indonesia. Ketika melihat Franky, saya pun teringat pada Bapak Eka Tjipta Widjaja. Saat pertama kali beliau datang, saya melihat ketulusan dan kesederhanaannya.

Dalam sebuah perbincangan, beliau bertanya kepada saya bagaimana caranya menciptakan kedamaian di hati manusia. Saya menjawab bahwa yang dibutuhkan ialah cinta kasih. Hanya cinta kasih yang mampu mewujudkan masyarakat yang damai dan negara yang stabil. Dari sana, dimulailah gerakan normalisasi Kali Angke.

Tempat yang dulu kotor dan rusak dibersihkan dengan menggerakkan banyak orang. Bahkan, Bapak Eka Tjipta pun terjun langsung untuk membersihkan kali dengan sekop. Pemandangan itu sungguh tak akan pernah saya lupakan. Saya selalu ingat bagaimana beliau melepaskan statusnya dan menggerakkan semua orang untuk membersihkan Kali Angke bersama-sama. Akhirnya, kali itu berhasil dibersihkan, Perumahan Cinta Kasih dibangun dan warga masyarakat pun bisa menempatinya. Dari sana terlihat betapa luar biasanya masyarakat Indonesia, serta bagaimana insan Tzu Chi mampu menjadi penggerak dan teladan.

Harapan hidup itu harus dimulai dari adanya tekad dan ikrar. Selain itu, kita juga harus berusaha untuk menyatukan cinta kasih bersama-sama. Dari sanalah, lahir cahaya yang terang. Seperti Indonesia yang saya lihat saat ini, semuanya tampak begitu cemerlang dan indah. Demikian pula Saudara sekalian, kalian dengan sepenuh hati berperan dalam masyarakat dan keluarga, tanpa pernah melupakan pentingnya terjun ke tengah masyarakat dan membawa manfaat.

Jika lingkungan masyarakat baik, setiap keluarga pun akan menjadi baik dan perekonomian secara alami akan meningkat. Jika masyarakat damai, dunia usaha akan berkembang; ketika usaha berkembang, harapan pun akan tumbuh.


Saudara sekalian, kalian sudah melihat dan merasakan sendiri lingkungan tempat kalian hidup. Jagalah semangat kebajikan ini dengan baik. Kekuatan cinta kasih disebut dengan kebajikan. Kebajikan berarti cinta kasih.

Hendaknya semuanya terus mewariskan kekuatan cinta kasih tanpa henti dan mengembangkan cinta kasih bagi dunia. Orang-orang yang menderita harus kalian kasihi agar kehidupan mereka memiliki harapan. Kembangkanlah pendidikan agar setiap anak dapat bersekolah. Dengan membina anak-anak ini, barulah dunia usaha di masyarakat menjadi lebih penuh harapan.

Singkat kata, kalian semua benar-benar merupakan makhluk yang memiliki cinta kasih berkesadaran yang memahami Dharma di dunia. Setelah memahami Dharma di dunia, hendaknya kita mengembangkan potensi dan mencari cara untuk terjun ke tengah masyarakat. Inilah yang disebut dengan Bodhisatwa.

Ketika Bodhisatwa hadir di dunia, di mana pun akan tampak seperti tanah suci dengan lingkungan yang bersih dan masyarakat yang indah. Inilah yang disebut dengan Bodhisatwa yang bersumbangsih tanpa pamrih.

Meski dikatakan tanpa pamrih, dalam setiap sumbangsih, kita tetap memperoleh manfaat. Lingkungan yang bersih dan indah itu akan kita lihat dan rasakan sendiri. Lingkungan menjadi bersih dan semuanya terlihat indah. Inilah kemakmuran masyarakat yang di dalamnya termasuk kemakmuran diri kita sendiri. Jadi, hendaknya semuanya mendoakan diri sendiri, mendoakan satu sama lain, dan menciptakan berkah bersama-sama.

Memperkokoh misi dan membentangkan jalan agung
Bekerja sama menciptakan berkah dengan kesatuan hati dan keharmonisan
Melangkah dengan mantap dan tulus untuk menjadi teladan
Menyucikan hati, mewariskan cinta kasih, dan memancarkan kecemerlangan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 05 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 07 Januari 2026
Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -