Ceramah Master Cheng Yen: Menciptakan Berkah dan Mengembangkan Kebajikan dengan Keyakinan, Ikrar, dan Praktik
“Master, di dalam karya ini terdapat hati para relawan Tzu Chi Filipina yang selalu merindukan dan mengasihi Anda. Kami memikirkan apa yang bisa kami buat untuk memberikan sebuah kejutan kepada Master. Kami saling bertukar ide dan bersama-sama membuat ini. Kami menaruh cinta kasih dan perasaan kami di dalamnya,” kata Lü Li-qing, relawan Tzu Chi Filipina.
“Insan Tzu Chi Filipina menghormati Master, mengasihi Master, dan melindungi semua makhluk. Kami berdiri tegak di Filipina untuk melindungi negara ini. Tim Filipina mengasihi Master, para bhiksuni Griya Jing Si, dan seluruh insan Tzu Chi di dunia. Selamat Tahun Baru Imlek untuk semuanya.”
Saudara sekalian, rasa syukur dan sukacita saya tak terungkapkan dengan kata-kata. Saya yakin hari ini kalian juga melihat kebahagiaan saya. Saya percaya bahwa kalian pun merasakan kebahagiaan yang sama seperti saya.
“Master, kali ini kami tengah mempromosikan pemanfaatan kembali sumber daya melalui kerajinan tangan. Beberapa Bodhisatwa lansia meneladan semangat Master di masa awal dan membuat kerajinan tangan jahitan demi jahitan. Keterampilan tangan Bodhisatwa lansia yang satu ini sungguh luar biasa. Teringat pada semangat Master dan para bhiksuni Griya, yaitu sehari tidak bekerja, sehari tidak makan, beliau membuat sebuah pembatas buku yang juga bisa dijadikan gantungan tas. Berhubung pembatas buku itu mengingatkannya bahwa setiap buku Master adalah harta yang berharga, beliau pun membuat sebuah sampul buku dengan harapan setiap orang tidak hanya membaca buku, melainkan juga menghargai Dharm,” kata salah seorang relawan Tzu Chi Filipina.
Bodhisatwa lansia itu membuat satu demi satu jahitan dengan tangan. Setelah Anda kembali, sampaikan kepadanya bahwa saya sangat bahagia dan berterima kasih. Saya benar-benar merasa bahwa saya dipenuhi berkah.

Sejak muda, muncul sebersit niat yang tak terbayangkan dalam diri saya, yaitu mendirikan Tzu Chi. Sepanjang perjalanan ini, sungguh penuh dengan kesulitan, tetapi juga penuh kebahagiaan. Hal yang sulit ialah kami harus hidup mandiri. Setiap kali para bhiksuni di Griya bekerja, saya pun ikut bekerja dengan mereka. Mereka rela hidup mandiri dengan bekerja keras.
Kami memulai dari pekerjaan kecil, seperti memungut kantong semen bekas orang lain. Setiap kantong terdiri atas 4 lapis kertas. Benangnya harus kami bongkar satu per satu dengan ditarik hingga terurai. Di bagian depan ada simpul yang harus kami buka dan tarik perlahan hingga menjadi benang panjang. Satu demi satu benang panjang itu kami kumpulkan.
Ketika kertasnya dibuka, lapisan paling dalam penuh dengan sisa semen. Kami mengelapnya perlahan dengan kain kering, lalu terakhir dengan kain basah. Setelah bersih, lembar demi lembar kami bentangkan di tanah untuk dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Setelah itu, kami kumpulkan lagi satu per satu, lalu kami gunting dan tempel menjadi kantong kertas. Kantong tersebut kami jual ke toko perkakas supaya bisa dipakai untuk mengemas paku. Begitulah cara kami melaluinya.
Saya berterima kasih kepada ibu saya yang memberikan sebidang tanah ini. Saya juga berterima kasih kepada para bhiksuni Griya Jing Si yang bersedia mendedikasikan diri. Saya terlebih berterima kasih kepada 30 ibu rumah tangga yang mau menyisihkan 50 sen setiap harinya. Mereka sangat bijaksana dalam menyisihkan 50 sen setiap hari.
Sekarang, Tzu Chi telah menyerukan semangat ini kepada banyak orang di seluruh dunia. Kita menggunakan sumber daya setempat untuk membawa manfaat bagi masyarakat setempat. Ketika di suatu tempat terjadi bencana dan ada kesulitan, selama ada insan Tzu Chi di negara tersebut, pasti akan ada yang datang membantu.

Belakangan ini, saya menginventarisasi kehidupan dan berterima kasih pada diri sendiri atas sebersit niat yang muncul saat muda. Setelah saya renungkan, saya menyimpulkan bahwa jika hal itu benar, lakukanlah saja. Saya terus menyemangati diri sendiri untuk melakukan hal yang benar. Bukankah sekarang juga demikian? Saya selalu berkata kepada semuanya untuk melakukan hal yang benar.
Bodhisatwa sekalian, kalian yang melangkah ke Tzu Chi pasti tidak salah dan tidak akan menyesal. Di negara masing-masing, kalian telah menyerukan kepada semua orang untuk menjalankan misi Tzu Chi. Jika sebuah negara memiliki orang-orang baik, berkahnya akan besar. Makin banyak orang baik, makin besar pula berkahnya. Energi berkah yang besar akan melenyapkan bencana.
Jadi, dapat dikatakan bahwa bersumbangsih akan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri, bukan untuk memberi keuntungan bagi saya, melainkan agar negara tempat kalian tinggal menjadi lebih damai dan tenteram. Berkah yang kita berikan akan kembali kepada diri kita sendiri.
Saya sering berkata, "Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai." Jika berbuat baik, yang kita dapat ialah berkah; jika tidak berbuat baik, bahkan tamak dan dipenuhi nafsu keinginan, yang kita dapat ialah kerugian. Berbuat baik tidak merugikan, justru membawa manfaat bagi diri sendiri. Mengajak orang lain berbuat baik adalah pahala. Jadi, hendaknya setiap orang bertutur kata baik dengan mengajak orang-orang berbuat baik.
Jika setiap orang bertindak nyata untuk bersumbangsih bagi dunia, dunia ini akan menjadi makmur. Ketika dunia makmur, tentu hasilnya juga kembali kepada diri kita sendiri. Ketika semua orang makmur dan menciptakan berkah, negara ini akan menjadi damai. Hendaknya kalian percaya pada apa yang saya katakan. Orang-orang yang berbuat baik pasti akan dipenuhi sukacita setiap hari dan tidak ada kegelisahan di dalam hati.

Saya bersyukur atas waktu yang telah dilalui. Pada usia saya sekarang ini, kondisi fisik memang makin menurun. Namun, saya tetap bertulus hati, bersungguh hati, tekun, dan bersemangat. Apa pun keadaannya, sebelum mengembuskan napas terakhir, saya tidak akan berhenti. Justru pada saat seperti ini, saya makin mendesak kalian untuk yakin pada ajaran Buddha. Saya sering memanggil kalian dengan sebutan "Bodhisatwa". Jadi, saya berharap setiap orang dapat menapaki Jalan Bodhisatwa.
Seluruh anggota keluarga kalian pun adalah Bodhisatwa. Saya melihat anak-anak kecil yang telah kalian bimbing sehingga saat menerima uang pun mereka tahu untuk menolong orang. Tekad, ikrar, dan tindakan yang baik seperti ini membuat mereka memupuk berkah bagi diri sendiri. Inilah kekuatan cinta kasih.
Berpegang teguh pada tekad awal untuk menjalankan misi Tzu Chi
Menciptakan berkah akan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri
Yakin pada ajaran Buddha mendatangkan hati yang tenang dan sukacita
Jalan Bodhisatwa dengan tulus, tekun, dan bersemangat
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 21 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 23 Februari 2026







Sitemap