Ceramah Master Cheng Yen: Mendedikasikan Diri untuk Berbuat Bajik Bersama
“Pada tanggal 5 Januari 1990, Master Yin Shun menuliskan bahwa pagi itu, ketika duduk di tempat tidur, beliau merasa pusing hingga terjatuh. Setelah berusaha duduk kembali, beliau kembali terjatuh. Master Yin Shun tidak tahu apa penyakit yang dideritanya dan hanya merasa akhir-akhir itu sering sakit kepala. Paman Ming Sheng merasa kondisi beliau tidak beres sehingga membawanya ke tempat praktik Dokter Cai Bo-xiong di Dajia. Dua hari kemudian, Master dirujuk ke RS Kuang Tien di Shalu. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan adanya gumpalan darah di bagian kiri otak yang harus segera dioperasi,” kata Hong Jing Yuan, Kepala Divisi Penyuntingan Sejarah.
Ketika teringat pada guru saya, sejak usia beliau melewati 70 tahun, kesehatannya memang terus mengalami gangguan. Saat itu, Master Zhen Hua menelepon saya. Saya benar-benar merasa panik dan tidak tahu harus meminta bantuan siapa. Kemudian, saya teringat akan Tseng Wen-ping. Saya lalu menghubungi putranya.
“Master Cheng Yen menghubungi semua dokter bedah saraf di Universitas Nasional Taiwan. Pada masa itu, belum ada telepon seluler dan masih menggunakan penyeranta atau BB Call. Demi mencari dokter, Master menghubungi orang-orang sejak malam hari hingga pukul 5 sore keesokan harinya, baru berhasil menghubungi dr. Tseng Han-min, putra dari Kepala RS Tseng. Setelah memeriksa kondisinya, dr. Tseng segera memutuskan bahwa operasi harus dilakukan di RS Universitas Nasional Taiwan,” lanjut Hong Jing Yuan, Kepala Divisi Penyuntingan Sejarah.
Pada masa itu, transportasi masih tidak memadai. Saya kemudian teringat kepada Gary Ho yang memiliki mobil sedan yang nyaman. Saya langsung meneleponnya dan bertanya apakah ia bisa mengirimkan mobil untuk menjemput guru saya. Saya sangat bersyukur karena tanpa banyak bertanya, ia segera mengutus sopir beserta mobilnya. Bahkan, Gary Ho sendiri turut mendampingi. Memang, ketika benar-benar membutuhkan, selalu ada penyelamat yang muncul.

“Rombongan tiba di rumah sakit sekitar pukul 11 malam. Selama itu, hati Master terus diliputi kecemasan sambil menunggu kabar perkembangan kondisi Master Yin Shun. Hingga pukul 1 dini hari, dijalankanlah kraniotomi dan gumpalan darah hampir setengah mangkuk berhasil dikeluarkan. Hingga pukul 4 pagi, barulah Master Yin Shun keluar dari ruang operasi. Bapak Ho yang menunggu di luar ruang operasi akhirnya bisa bernapas lega. Beliau segera menghubungi Master Cheng Yen dan menyampaikan bahwa kondisi gurunya telah aman,” pungkas Hong Jing Yuan, Kepala Divisi Penyuntingan Sejarah.
Keesokan paginya, saya berangkat dari Hualien ke Universitas Nasional Taiwan untuk menjenguk Master Yin Shun. Ketika mengenang masa lalu, itu semua sungguh merupakan bagian dari sejarah. Jika tidak ada catatan seperti ini, seiring berjalannya waktu, banyak kenangan yang akan terlupakan. Syukurlah, sejarah ini masih tersimpan sehingga saya dapat mengenang kembali jalinan kasih sayang di antara saya dan guru saya.
Sejak saat itu, guru saya lebih sering tinggal di Hualien. Pada masa itu, RS Tzu Chi baru mulai beroperasi dan masih sangat sibuk. Setiap pagi pukul 7, saya harus pergi ke rumah sakit untuk memberikan ceramah kepada para staf. Hari-hari berlalu dengan sangat padat. Saya sering kali harus berpacu dengan waktu untuk memberikan ceramah di berbagai tempat.
Puluhan tahun telah berlalu dan kalian bisa membayangkan betapa sibuknya kala itu. Kini, ketika mengenangnya, saya merasa sangat bersyukur. Justru karena masa-masa yang begitu sibuk itulah, Tzu Chi dapat berkembang hingga seperti sekarang. Setiap hari, ada begitu banyak bidang yang harus dijalankan, mulai dari misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, misi budaya humanis, dan bantuan internasional.


Sampai sekarang, saya belum memiliki kesempatan untuk memelankan langkah saya. Namun, saya merasa bahwa ini adalah berkah karena dalam satu kehidupan, saya bisa menjalankan misi berbagai kehidupan. Dalam interaksi dengan semua makhluk, tentu ada jalinan jodoh baik dan buruk. Dengan jalinan jodoh baik, semua orang dapat bekerja sama dengan kesatuan hati serta memiliki tekad dan ikrar yang sama. Inilah yang disebut menjalin jodoh baik.
Tentu saja, ada pula jalinan jodoh buruk. Namun, saya selalu berpegang pada prinsip untuk tidak berselisih dan tidak perhitungan. Saya selalu menjaga sikap untuk tidak bertikai dengan siapa pun, tidak bertikai dalam hal apa pun, dan tidak bertikai dengan dunia. Saya tidak ingin berselisih dengan siapa pun, tidak ingin berdebat mengenai hal apa pun, dan tidak ingin bertikai dengan dunia. Saya hanya bersungguh-sungguh melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan.
Jadi, saya merasa sangat bersyukur karena kalian memahami nilai-nilai dan prinsip yang sama. Kalian berkata, "Master sangat bersusah payah. Saya bersedia membantu." Banyak orang yang dengan sukarela terus berjalan bersama saya. Hingga kini, misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis terus berkembang.
Misi amal telah menjangkau berbagai negara di dunia; misi medis juga berkembang luas, bukan hanya di Hualien, tetapi juga di wilayah utara, tengah, dan selatan Taiwan. Saat ini, terdapat 8 rumah sakit dan 1 klinik Tzu Chi di Taiwan. Setiap kepala rumah sakit memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Mereka memiliki tekad yang sama dengan insan Tzu Chi. Semua orang menunaikan tanggung jawab untuk melindungi kehidupan dan kesehatan dengan cinta kasih. Saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh.

Setiap rumah sakit berkembang dengan sangat baik. Jadi, saya merasa sangat terhibur dan bersyukur. Terlebih kepada ketua dan wakil ketua badan misi kesehatan serta seluruh staf dari berbagai departemen. Syukurlah, selama bertahun-tahun ini, semuanya bersedia datang ke Hualien untuk memikul tanggung jawab.
Meski insan Tzu Chi berada di berbagai tempat yang jauh, semuanya tetap memiliki kesatuan hati dan tekad. Beruntung, semuanya memiliki semangat Tzu Chi. Banyak yang datang ke Taiwan dan mengunjungi berbagai tempat untuk belajar. Saya merasa sangat bersyukur.
Ketika datang ke Taiwan, mereka membawa pulang banyak keteladanan dari insan Tzu Chi Taiwan. Inilah yang membuat saya merasa bersyukur. Saya berharap Taiwan dapat terus menjadi tempat bagi generasi demi generasi insan Tzu Chi luar negeri untuk kembali belajar.
Semoga setiap generasi di setiap era memiliki kesempatan untuk belajar ke Taiwan, melihat keteladanan insan Tzu Chi Taiwan, lalu mempelajari dan membawanya kembali ke negara masing-masing. Dengan begitu, mereka dapat membawa semangat Tzu Chi dan kekuatan cinta kasih ke negara masing-masing, terlebih semangat untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk.
Gigih membangun rumah sakit di tengah kesulitan
Hormat dan berbakti kepada guru dengan kasih yang mendalam
Tidak bertikai dengan dunia dan menjaga tekad awal
Mewariskan keteladanan dalam menjalankan misi dan membawa manfaat bagi semua makhluk
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 04 Juni 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 06 Juni 2026







Sitemap