Ceramah Master Cheng Yen: Meneruskan Jiwa Kebijaksanaan dan Mewariskannya dari Generasi ke Generasi
“Saya mulai bergabung dengan Tzu Chi sejak tahun 1971. Saya tidak pernah mundur dan akan terus menjalankan Tzu Chi hingga napas terakhir,” kata Zheng Tian-ji, relawan Tzu Chi.
Bukan hanya sampai napas terakhir saja, melainkan dari kehidupan ke kehidupan. Saya sangat bersukacita. Saya percaya bahwa jalinan jodoh yang kita miliki ini sudah terjalin dari kehidupan lampau sehingga kita bisa kembali melangkah bersama di Jalan Bodhisatwa pada kehidupan sekarang. Sepanjang hidup ini, hendaknya kita terus mempererat jalinan kasih sayang Bodhisatwa. Kasih sayang Bodhisatwa adalah cinta kasih agung yang dibangkitkan demi semua makhluk.
Hidup di zaman ini sangatlah berat. Oleh karena itu, kita harus memiliki ketulusan. Di zaman ini, perubahan iklim membuat empat unsur alam menjadi tidak seimbang. Manusia harus berdoa lebih tulus lagi agar bisa terdengar oleh para Buddha dan Bodhisatwa. Kita harus ingat bahwa setiap suara hati dan pikiran kita sebenarnya terdengar oleh para Buddha dan Bodhisatwa. Jika muncul pikiran yang tidak baik, kita harus segera mawas diri.


Sebagai makhluk awam, kita tidak tahu sudah berapa banyak karma yang kita ciptakan dari kehidupan ke kehidupan. Di masa lalu, kita pasti memiliki jalinan jodoh yang istimewa sehingga di kehidupan ini, kita kembali dipertemukan oleh jalinan jodoh. Bukan hanya bertemu di kehidupan ini, kita juga bersama-sama menapaki Jalan Bodhisatwa. Kalian semua harus menyadari bahwa kita tengah menapaki Jalan Bodhisatwa. Ini bukan kesombongan, melainkan kesadaran diri. Lihatlah, kita semua selalu berdoa kepada para Buddha dan Bodhisatwa. Mengapa demikian? Karena doa kita didengar.
Ada pula yang memohon kepada para Buddha dan Bodhisatwa saat menghadapi jalan buntu. Apakah itu benar? Tentu saja, adanya sandaran batin dapat mengurai noda dan kegelapan batin kita. Dengan bersandar kepada para Buddha dan Bodhisatwa, noda dan kegelapan batin kita bisa terurai. Jika senantiasa melafalkan nama Buddha, saat pikiran buruk terbangkitkan, kita akan langsung mawas diri. Jika kita membangkitkan hati Buddha, pikiran-pikiran yang tidak baik akan tersingkirkan dengan cepat. Jadi, meneladan Buddha itu harus melalui proses belajar.
Di tengah proses belajar dan sadar, ada Jalan Bodhisatwa yang harus ditapaki. Aksara Tionghoa "belajar" mengandung kata "anak"; aksara Tionghoa "sadar" mengandung kata "melihat". Bagaikan anak-anak yang masih polos, jika diarahkan dengan baik, mereka akan berjalan di jalan yang benar. Namun, jika tidak dibimbing dengan baik, mereka akan tersesat ke jalan yang tidak baik. Jadi, dunia ini memerlukan Bodhisatwa yang dapat menjadi penolong bagi semua orang.

Saya sering memberi tahu kalian bahwa jika ada orang yang menegur atau mengingatkan kita, itulah penolong kita. Jadi, hendaknya kita berterima kasih satu sama lain. Menapaki Jalan Bodhisatwa berarti belajar untuk tersadarkan. Kita harus mengingatkan diri sendiri tentang hal ini. Melihat kesungguhan dan ketekunan kalian, saya merasa sangat bersukacita. Kalian bukanlah murid yang bodoh, melainkan murid yang penuh kebijaksanaan. Karena ada kebijaksanaan, barulah ajaran saya bisa masuk ke dalam hati kalian.
Orang yang tidak punya kebijaksanaan biasanya akan tetap berjalan sesuai kemauannya sehingga tidak bisa menyerap ajaran saya ke dalam hati. Kalian semua telah menyerap ajaran saya ke dalam hati. Kalian telah mengubah kehidupan kalian dengan mempraktikkan semangat Tzu Chi dan menyerap ajaran saya ke dalam hati. Semuanya tercatat dalam buku kalian. Saya sangat bersukacita dan tersentuh.
Contohnya, Jing Jie. Saat masih muda, dia bekerja di Hualien. Saat saya baru mendirikan Tzu Chi dan menyerukan praktik donasi 50 sen, dia termasuk salah satu yang ikut sejak awal. Jadi, perlu kalian ketahui bahwa dia sudah sangat lama bergabung di Tzu Chi. Sekarang, melihat anaknya juga bergabung, saya merasa sangat sukacita. Begitulah dia mewariskan jiwa kebijaksanaan Tzu Chi dari generasi ke generasi. Dia sangat dipenuhi berkah dan kebijaksanaan. Saya merasa sukacita.


“Ketika suami saya sakit, para relawan terus mendampingi beliau. Pada tanggal 18 September pukul 2 lewat, beliau meninggal dunia. Banyak saudara se-Dharma datang ke rumah sakit untuk mendoakan beliau. Sepanjang hidupnya, beliau terus mengabdi di Tzu Chi dan berpegang pada ajaran Master. Hingga hari terakhir pun, beliau masih tersenyum. Beliau bahkan menyumbangkan tubuhnya untuk membawa manfaat besar,” kata Tu Xu Yi-xin, relawan Tzu Chi.
Bapak Tu juga bergabung sejak masa awal dan telah membawa semangat Tzu Chi ke Kaohsiung. Beliau pandai dalam berdebat. Namun, dari sanalah, beliau mendapatkan pemahaman. Beliau memiliki banyak ciri khasnya sendiri.
Saat pertama kali datang ke Kaohsiung, saya berkunjung ke rumahnya. Beliau sangat berdedikasi di Tzu Chi dan sangat hormat kepada saya. Meski sekarang beliau tidak bisa lagi berdebat dengan saya, melalui bukunya, saya akan terus mengingatnya. Saya percaya bahwa kalian juga akan mengingatnya. Di Kaohsiung, beliau telah menginspirasi banyak orang. Saya sangat berterima kasih kepadanya.
Hari ini, saya juga melihat Bapak Lin. Beliau juga bergabung sejak masa awal. Dahulu, saat beliau kembali ke Hualien, saya selalu melihatnya membawa sebuah teko untuk mempersembahkan teh kepada setiap tamu. Begitulah cara beliau menjalin jodoh baik dengan orang lain. Beliau memiliki istri yang baik. Begitulah perjalanan hidup, yaitu datang, pergi, dan kembali. Hendaknya kita mendoakan mereka.
Saya sangat berharap kalian dapat bercerita kepada generasi penerus kalian tentang bagaimana Tzu Chi berbuat baik. Dalam hidup ini, tidak mudah untuk menjadi orang baik yang berbuat baik. Menjadi orang baik tidak harus mendapat pujian. Ketika berbuat baik, jiwa kebijaksanaan kita akan berkembang.
Bersama-sama menapaki Jalan Bodhisatwa dengan jalinan jodoh yang mendalam
Melenyapkan kegelapan batin sesuai ajaran Buddha
Belajar untuk tersadarkan dan tekun menyerap Dharma ke dalam hati
Meneruskan jiwa kebijaksanaan dan mewariskannya dari generasi ke generasi
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 22 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 24 Januari 2026







Sitemap