Ceramah Master Cheng Yen: Mengasihi Pasien dan Melindungi Bumi

“Dengan mengikuti pelatihan, saya semakin memahami Empat Misi dan Delapan Jejak Dharma Tzu Chi. Master sering berkata bahwa orang yang jatuh sakit bisa jatuh miskin, begitu juga sebaliknya. Orang yang miskin sekaligus jatuh sakit akan semakin miskin dan penyakit mereka akan semakin parah. Karena itulah, Master berpesan kepada para dokter dan perawat untuk melindungi kesehatan dan kehidupan orang-orang yang kekurangan dan menderita. Di sini, saya juga berharap sebagai murid Master dan seorang dokter, sebagai murid Master dan seorang dokter, saya dapat melindungi kesehatan dan kehidupan orang-orang yang kekurangan dan menderita,” tutuy Zhou Guo-yi, Dokter TIMA.

“Saat kuliah, saya mengambil jurusan analis kesehatan dan ilmu gizi. Saya sangat bersyukur bisa bergabung dengan TIMA untuk menolong orang lain dengan keahlian saya. Apa yang ingin Master lakukan, saya sebagai murid akan melakukannya. Dengan keahlian sebagai ahli gizi, saya akan bersungguh hati menyosialisasikan vegetarisme. Saya juga akan tekun mendengar Dharma untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan saya,” ucap Xie Hui-jun, anggota TIMA mengucap tekad.

Bodhisatwa sekalian, saya sungguh bersyukur mendengar apa yang telah kalian lakukan. Kalian sungguh merupakan Bodhisatwa dunia. Pahala kalian sungguh tak terhingga. Saat masih muda, kalian memilih untuk menjadi dokter demi menyelamatkan nyawa orang-orang.


Saat muda, kalian pasti memilih jurusan kedokteran kalian pasti memilih jurusan kedokteran dengan tekad untuk menyelamatkan nyawa orang. Meski usia kalian terus bertambah, tetapi kalian tetap berpegang teguh pada tekad ini. tetapi kalian tetap berpegang teguh pada tekad ini. Saya sangat kagum pada kalian. Kalian mendedikasikan kehidupan kalian untuk melindungi kehidupan pasien. Ini sungguh mengagumkan. Tahu untuk menghargai kehidupan dan menggenggam waktu untuk bersumbangsih adalah wujud balas budi terhadap orang tua.

Saat melahirkan anak, sang ibu mengalami penderitaan tak terkira. Berkat orang tua, kita dapat lahir dengan selamat, bertumbuh dewasa dengan bahagia, dan mewujudkan tekad kita. Karena itu, kita harus membalas budi orang tua.

Saya selalu berkata bahwa dengan terjun ke tengah masyarakat untuk membawa manfaat bagi orang banyak, berarti kita membalas budi orang tua. Begitu pula dengan menjadi dokter. Penderitaan terbesar di dunia ini adalah penderitaan akibat penyakit. Para dokter dapat melenyapkan penderitaan ini secara langsung. Karena itulah, saat mengulas tentang dokter, Karena itulah, saat mengulas tentang dokter, saya selalu berkata bahwa mereka sangat mengagumkan. Saya bersyukur kepada semua dokter kita.

Tadi, kalian terus berbagi pengalaman. Dokter yang sudah senior pun tetap bersumbangsih dan membina generasi yang lebih muda. Kita juga bisa melihat dokter yang masih muda. Kalian sungguh dipenuhi berkah karena dapat menjadi “Tabib Agung” di dunia ini, mempelajari Dharma, dan menapaki Jalan Bodhisatwa. Di Tzu Chi, kita mempraktikkan semangat ajaran Buddha di tengah masyarakat. Para anggota TIMA kita juga terjun ke masyarakat untuk mencurahkan perhatian.


“Saya sangat bersyukur kepada dr. Ruan Dong-guang dan dr. Ye yang mengunjungi dua Bodhisatwa daur ulang kita untuk mencurahkan perhatian. Yang pertama adalah Kakak Song Lin Peng. Saat melihat kami, Kakak Song sangat sedih. Beliau berkata pada kami, ‘Saya tidak bisa melakukan daur ulang lagi.’ Kami lalu menghibur, menyemangati, dan mendoakannya. Lalu, saat dr. Ye dan enam relawan kita kembali mengunjunginya, Kakak Song sangat bersemangat. Beliau sangat gembira melihat kami berkunjung, cerita Guo Mei-shan, relawan Tzu Chi.

“Berhubung merasa bahwa Kakak Song pasti meminum banyak obat, dr. Ye pun meminta keluarganya untuk menunjukkan obat-obatan yang diminumnya. Lalu, dr. Ye mengurangi obatnya dari 12 jenis menjadi 6 jenis. Yang kedua adalah Kakak Zheng Zhao. Pertama kali berkunjung ke rumah Kakak Zheng Zhao, dr. Ruan Dong-guang sangat terkejut karena beliau tidak terlihat seperti berusia 90 tahun. Ternyata, beliau punya seorang putra yang sangat berbakti. Dia mengukur tekanan darahnya setiap hari. Dalam kunjungan berikutnya, dr. Ye memegang tangannya dan berkata, ‘Anda memiliki sepasang tangan yang terindah.’” lanjutnya.

Kita mendengar kisah Bodhisatwa daur ulang. Tahun ini adalah tahun ke-31 kita menjalankan misi pelestarian lingkungan. Sebagian besar Bodhisatwa daur ulang kita sudah lanjut usia. Anak-anak mereka pun sudah membina keluarga masing-masing sehingga tidak ada yang mendampingi mereka.

Dengan adanya kegiatan daur ulang, warga lansia dapat berkumpul bersama untuk melakukan daur ulang dengan penuh sukacita. Ada banyak Bodhisatwa daur ulang yang berkata, “Master, terima kasih. Dengan melakukan daur ulang di Tzu Chi, kami sangat gembira, sehat, dan terbebas dari kerisauan.” Sungguh, mereka sangat gembira, sehat, dan terbebas dari kerisauan. Yang terpenting, mereka dapat mengembangkan nilai kehidupan. Jadi, saya sungguh sangat bersyukur kepada para anggota TIMA yang menggantikan saya untuk merawat para Bodhisatwa lansia sehingga mereka dapat terus bersumbangsih bagi dunia. Jadi, saya sungguh sangat bersyukur.


Usia para anggota TIMA kita juga terus bertambah. Meski demikian, kita hendaknya mengerahkan kekuatan untuk merawat orang lain, jangan merasa bahwa kita sudah bisa pensiun karena sudah lanjut usia. Saya ingin mengingatkan kalian bahwa kita semua menyimpan 50 tahun di dalam “bank usia” dan saya menyimpan 50 tahun kalian dengan baik.

Setelah menyimpan 50 tahun, berarti kalian berada pada usia muda atau produktif. Baik berada pada usia produktif, usia paruh baya, maupun usia muda, kita harus menggenggam waktu yang ada.

Berhubung telah menyimpan 50 tahun di “bank usia”, kita menjadi lebih muda sehingga dapat kembali bersumbangsih bagi masyarakat. Demikianlah kita meningkatkan nilai kehidupan kita.

Buddha berkata bahwa sebelum mencapai kebuddhaan, kita harus terlebih dahulu menjalin jodoh baik. Saya sering berkata bahwa Bodhisatwa yang sesungguhnya ialah mereka yang bisa minum, makan, berjalan, dan bersumbangsih.


Saya pernah memuji Bodhisatwa daur ulang kita bahwa mereka memiliki sepasang tangan terindah. Semua orang tahu akan hal ini. Saat memegang tangan Bodhisatwa daur ulang, saya selalu berkata, “Tangan kalian adalah yang paling bernilai.” Jadi, saya sungguh sangat bersyukur kepada para anggota TIMA yang menggantikan saya untuk merawat para Bodhisatwa lansia sehingga kesehatan mereka terjaga dan mereka dapat menggunakan tangan mereka untuk melindungi bumi.

“Selain berpartisipasi dalam baksos kesehatan di berbagai wilayah, saya juga melakukan daur ulang saat memiliki waktu senggang. Terkadang, ada orang yang berkata, ‘Anda adalah seorang dokter. Mengapa Anda melakukan daur ulang?’ Saya berkata, ‘Melakukan daur ulang adalah tanggung jawab semua orang, termasuk saya’,” ungkap Zhong Zhen-hong, dokter TIMA.

Mendengar bahwa dokter kita turut melakukan daur ulang, saya sangat bersyukur. Saya juga mendengar bahwa ada dokter yang mengembangkan peralatan medis. Seiring masalah yang dihadapi, kebijaksanaan kita juga bertumbuh. Demi baksos kesehatan, dokter kita harus mengembangkan peralatan yang tidak ada di rumah sakit. Ini sungguh tidak mudah.

Jadi, para dokter kita membina berkah dan kebijaksanaan sekaligus. Saya bersyukur kepada para dokter. Semoga kalian dapat terus bersumbangsih dengan penuh cinta kasih. Terima kasih. 

Membawa manfaat bagi semua makhluk sebagai wujud balas budi terhadap orang tua
Para dokter melenyapkan penderitaan pasien
Bodhisattva lansia melakukan daur ulang dengan tubuh yang sehat
Menjalin jodoh baik terlebih dahulu, baru bisa mencapai kebuddhaan

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 18 Maret 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 20 Maret 2021
Melatih diri adalah membina karakter serta memperbaiki perilaku.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -