Ceramah Master Cheng Yen: Mengasihi Semua Makhluk dan Mewariskan Silsilah Dharma


“Selama Tahun Baru Imlek, jumlah barang daur ulang yang terkumpul meningkat satu hingga dua kali lipat. Biasanya, saya harus mengangkutnya satu hingga dua kali. Hari ini, saya telah mengangkutnya tiga kali karena masih ada barang yang belum terkumpul,”
kata Zhang Guo-li, relawan Tzu Chi.

“Sebelum Tahun Baru Imlek, kami berusaha memilahnya agar tidak menumpuk. Kami khawatir tidak cukup ruang untuk menyimpannya karena tidak baik menumpuknya di luar,” kata Lai Mei-yan, relawan Tzu Chi.

“Setiap tahun, menjelang Tahun Baru Imlek, barang daur ulang selalu sangat banyak. Yang memiliki waktu luang akan datang untuk membantu. Sungguh, tugas yang harus dikerjakan tidak ada habisnya. Setiap tahun selalu seperti ini,” kata Hong Xiu-zu, relawan daur ulang.

“Orang-orang melakukan pembersihan menjelang Tahun Baru Imlek. Karena itu, barang daur ulang menjadi sangat banyak. Begitu pula dengan kantong plastik ini,” kata Lin Shu-e, relawan Tzu Chi.

“Menjelang Tahun Baru Imlek, kami mengangkut dua truk barang daur ulang per minggu, termasuk pakaian. Muatan setiap truk lebih dari dua ton,” kata Chen Qing-yun, relawan Tzu Chi.

“Sepanjang tahun, saya tidak pernah berhenti. Saya telah berusia 84 tahun. Master paling suka melihat kami melakukan daur ulang,” kata Cai Liang-zhu, relawan daur ulang.

“Setiap minggu, para relawan daur ulang bersumbangsih hingga dipenuhi rasa sukacita,” kata Xu Mei-yu, relawan daur ulang.

“Kami berpegang pada ajaran Master untuk mengasihi Bumi dan kebersihan komunitas,” kata Xu A-qin, relawan daur ulang.

“Semua orang pergi ke posisi masing-masing, mengambil keranjang, lalu duduk untuk melakukan tugas masing-masing,” kata Liu Shao-ping, relawan Tzu Chi.

“Kami melakukannya seperti biasa, tiada perbedaan antara Tahun Baru Imlek dan hari biasa,” kata Cai Zhang-yu, relawan Tzu Chi.


Buddha berkata bahwa Bodhisatwa dunia adalah makhluk berkesadaran. Makhluk berkesadaran adalah sebutan lain bagi Bodhisatwa. Saat memberikan penghormatan kepada Bodhisatwa, sesungguhnya kita juga memberikan penghormatan kepada para insan mulia di dunia. Mereka semua merupakan Bodhisatwa.

Bodhisatwa sekalian, sesungguhnya, Buddha juga manusia yang melatih diri hingga mencapai kebuddhaan. Jadi, untuk mencapai kebuddhaan, Beliau harus menghadapi tempaan di alam manusia serta memiliki cinta kasih yang berlimpah, ikrar agung yang tertinggi, dan kebijaksanaan sejati. Dalam seketika itu, Beliau menyatu dengan seluruh kebenaran alam semesta. Ini sungguh tidak mudah. Tidak ada seorang pun yang bisa mencapainya. Jika tidak bisa dicapai, untuk apa kita melatih diri? Kita melatih diri agar bisa mencapainya.

Pelatihan diri harus dilakukan dari kehidupan ke kehidupan. Dari kehidupan ke kehidupan, kita terus melatih diri untuk melenyapkan kegelapan batin dan pikiran bercabang. Ini bukan sekadar melepas segalanya. Segala sesuatu di dunia ini ada di dalam hati Buddha. Bagaimana bisa Beliau melepas segalanya? Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang tidak Beliau khawatirkan. Beliau memahami segalanya dengan jelas. Karena itulah, Beliau mengkhawatirkan segalanya.

Jadi, Beliau bukan melepas segalanya dan sepenuhnya terbebas dari kekhawatiran. Beliau memiliki kelapangan hati yang dapat merangkul seluruh alam semesta. Hati Buddha dapat merangkul segala sesuatu di dunia ini. Beliau memahami segala sesuatu dan menghayati segala hal. Buddha bukan sekadar paham, melainkan benar-benar menyatu dengan segala hal dan materi. Jadi, Buddha memandang semua makhluk bagai diri sendiri, bagai putra-Nya. Beliau menyayangi semua makhluk bagai menyayangi diri sendiri dan putra-Nya. Demikianlah hati Buddha.

Beliau dapat menghayati apa yang dirasakan semua makhluk di dunia ini, bahkan menyayangi mereka bagai menyayangi Rahula. Rahula adalah putra tunggal-Nya. Jadi, cinta kasih agung Buddha mencakup seluruh alam semesta. Di Tzu Chi, kita mempelajari ajaran Buddha. Kita mempelajari bagaimana Buddha melatih diri dan bagaimana hati Buddha merangkul seluruh alam semesta agar kita dapat memahami semua prinsip kebenaran. Demikianlah hendaknya kita meneladan Buddha.


Meneladan Buddha dimulai dari belajar. Apakah yang harus kita pelajari agar bisa mencapai kebuddhaan? Menapaki Jalan Bodhisatwa. Jika tidak menapaki Jalan Bodhisatwa, kita tidak akan bisa menghayati kebenaran yang terkandung dalam segala sesuatu di dunia ini. Kita harus menghayati semua kebenaran ini dan memahami penderitaan di dunia. Hanya memahami saja tidaklah cukup. Kita juga harus terjun secara langsung ke tengah orang-orang yang menderita untuk turut merasakannya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu, merangkul, menyayangi, dan menghibur mereka.

Saya sering melihat para insan Tzu Chi melakukan kunjungan kasih. Ada sebagian relawan yang dengan penuh cinta kasih merangkul para penerima bantuan. Saat penerima bantuan menangis karena sangat menderita, kalian pun mencurahkan perhatian pada mereka. Insan Tzu Chi yang penuh cinta kasih menapaki Jalan Bodhisatwa dengan tulus. Ke mana pun saya pergi, saya selalu melihat banyak Bodhisatwa dunia. Saya merasa bahwa saya sungguh dipenuhi berkah. Saya sangat berpuas diri.

Mengenang apa yang saya lihat dan lakukan sejak muda, saya sungguh tidak memiliki penyesalan. Saya merasa bahwa sejak dewasa, saya tidak pernah melakukan hal yang merugikan umat manusia. Menginventarisasi kehidupan saya, saya merasa sangat tenang. Tidak ada penyesalan di kehidupan sekarang. Selain itu, saya juga sangat bersyukur dapat mendirikan Tzu Chi.

Jalinan jodoh ini berawal dari 30 orang ibu rumah tangga yang juga merupakan anggota komite Tzu Chi. Saat itu, saya mengingatkan orang-orang untuk membangkitkan niat menolong sesama setiap hari. Karena itu, saya meminta mereka untuk mendonasikan 50 sen setiap hari.


Kini, saya berharap kalian dapat terus membangkitkan niat baik. Setiap hari, saat bertemu dengan orang-orang, berbagilah tentang apa yang Tzu Chi lakukan hari ini dan ajaklah mereka untuk menyaksikan Da Ai TV agar mereka dapat mengetahui peristiwa di seluruh dunia, mengembangkan kebijaksanaan, dan membangkitkan niat baik. Jika bisa demikian, Tzu Chi akan diwariskan dari generasi ke generasi dan selamanya melakukan kebajikan besar bagi dunia. Inilah yang hendaknya kalian lakukan hingga selamanya dengan berani.

Dengan praktik donasi 50 sen, jiwa kebijaksanaan dapat diteruskan hingga selamanya. Hendaklah kita selamanya meneruskan jiwa kebijaksanaan kita. Dana kecil, amal besar. Dengan dana kecil, kita dapat melakukan kebaikan besar. Setiap hari, di seluruh dunia, Tzu Chi melakukan kebaikan untuk menolong orang. Praktik yang bermula dari Taiwan ini, kini telah menyebar ke seluruh dunia. Jadi, 50 sen yang terlihat kecil ini memiliki makna yang sangat besar.

Ingatlah bahwa Tzu Chi berawal dari praktik donasi 50 sen pada 60 tahun lalu. Jadi, jangan lupakan tekad awal masa celengan bambu dan selamanya mengingat ikrar agung silsilah dan mazhab Tzu Chi. Benar, inilah silsilah Dharma dan mazhab Tzu Chi. Mazhab Tzu Chi bermula dari Griya Jing Si. Jadi, kita harus mengingat silsilah Dharma Jing Si dan mazhab Tzu Chi.

Membina berkah dan kebijaksanaan di jalan menuju kebuddhaan
Melapangkan hati hingga dapat merangkul seluruh alam semesta
Mengasihi semua makhluk dan terus melakukan kebajikan
Selamanya mengingat silsilah Dharma dan menyebarluaskan mazhab Tzu Chi

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 24 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 26 Februari 2026
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -