Ceramah Master Cheng Yen: Mengasihi Sumber Daya, Menghargai Berkah, dan Mewariskan Kebajikan dalam Keluarga


“Saya sudah melakukan kegiatan pelestarian lingkungan selama 35 tahun. Saat ini, usia saya sudah mencapai 85 tahun. Pada tahun 1990, seorang anggota komite di Qishan menginspirasi saya untuk bergabung di Tzu Chi dan melakukan daur ulang. Saya pun berjanji kepadanya untuk terus melakukannya. Sampai saat ini, tepat sudah 35 tahun saya menjalaninya. Saya melakukan daur ulang di bawah pohon besar dan tidak pernah berhenti hingga saat ini. Baik saat angin kencang maupun hujan, saya tetap melakukannya di ruang terbuka,”
kata Fang Pan Xin-jin, relawan Tzu Chi.

“Saya tinggal jauh di pegunungan Neimen. Saya mulai melakukan kegiatan ini sejak tahun 1994. Kakak Pan Xin-jin yang mengajak saya untuk ikut berpartisipasi. Saat mulai terlibat, saya membawa cucu saya yang masih kecil untuk ikut membantu. Lurah berkata kepada saya, ‘Anda menjadi relawan di sana tidak ada pendapatannya. Bagaimana Anda melanjutkan hidup?’ Saya berkata, ‘Saya bergantung kepada putri saya’,” kata Zheng Ling-su, relawan Tzu Chi.

“Syukurlah, para pejabat distrik menyediakan ruang di koridor untuk saya gunakan. Sejak itu, kami sangat sibuk setiap hari. Beruntung, putri saya selalu membantu untuk mengumpulkan barang daur ulang. Ia bahkan mengantar saya untuk mengumpulkan donasi. Saya sangat beruntung karena putri saya mau membantu dan mendukung saya,” pungkas Zheng Ling-su.

“Pada akhir tahun 1990, saya kembali ke Hualien untuk dilantik. Saya juga menerima angpau dari Master. Saya merasa sangat bahagia. Melakukan kegiatan daur ulang ini sangat baik, bahkan membuat tubuh menjadi lebih sehat. Seperti saya, berjalan pun terasa makin stabil. Saya sangat berterima kasih kepada Master karena telah menciptakan dunia Tzu Chi sehingga saya dapat terus menjalankan kegiatan hingga akhir hayat. Dari kehidupan ke kehidupan, saya berikrar untuk tetap berada dalam mazhab Tzu Chi. Terima kasih, Master,” kata Huang Bao-zhu, relawan Tzu Chi.

Saya sangat bersukacita ketika mendengar bagaimana kalian semua begitu menghargai berkah. Dalam ajaran Buddha, mengasihi dan menghargai berkah berarti menghargai sumber daya kehidupan. Kita menggunakan kebijaksanaan untuk terlibat dalam kegiatan daur ulang. Dengan menghargai berkah, apa yang orang lain buang, kita kumpulkan kembali. Orang lain membuang berkah, kita mengumpulkan berkah. Inilah yang disebut mengasihi dan menghargai materi. Segala sesuatu yang sebenarnya masih bisa digunakan, jika dibuang begitu saja, itu adalah pemborosan. Jadi, kita harus mengumpulkan kembali berkah tersebut.


Kita telah mendengar bahwa relawan di Kaohsiung menjalankan pelestarian lingkungan dengan tulus dan sepenuh hati. Sesungguhnya, hal yang paling penting ialah nilai kehidupan kita. Dalam hidup ini, kita telah mulai bersumbangsih. Orang-orang yang diliputi ketidaktahuan terus mengonsumsi dan membuang barang hingga menjadi sampah yang pada akhirnya mencemari bumi. Jadi, sebagai orang yang memiliki kebijaksanaan, kita harus segera melakukan daur ulang. Ketika orang lain melakukan pemborosan, kita harus melakukan daur ulang. Saat ini, pendidikan seperti ini telah diakui secara internasional.

Berbicara tentang pelestarian lingkungan, saya pernah berkata, "Hendaknya kita melakukan pelestarian lingkungan dengan kedua tangan yang bertepuk." Sejak saat itu, semua orang mulai bergerak. Terutama di Bagualiao, Kaohsiung, kalian adalah yang pertama melakukannya dengan sangat tertata dan baik. Hal inilah yang terus saya puji selama puluhan tahun. Hanya di Kaohsiung saja, relawan pelestarian lingkungan ada lebih dari 10 ribu orang. Ini sangat menyentuh. Hendaknya kalian membantu saya menuliskan sejarah tentang pelestarian lingkungan ini. Dengan begitu, kitab sejarah Tzu Chi dapat segera kita ukir.

“Saya teringat pada tahun 1984, mentor saya, Kakak Jing Zhi, membawa saya ke Vihara Yuantong. Saat itu, saya mendengar Master membabarkan Sutra Ksitigarbha dan sejak saat itu, saya sangat mengagumi Master. Jadi, saya menyatakan bahwa saya ingin berguru kepada Master. Master hanya memandang saya dan berkata, ‘Anda harus mengucapkan apa yang ingin saya ucapkan dan melakukan apa yang ingin saya lakukan. Jika tidak bisa, Anda tidak dapat berguru kepada saya.’ Saya pun mengangguk dan membuat janji,” kata Lin Xiu-feng, relawan Tzu Chi.

“Selama 40 tahun ini, saya tidak pernah melupakan kata-kata itu. Ketika menulis buku ‘Warisan Keluarga’, saya baru merasakan betapa besar rasa syukur dalam diri saya. Yang pertama, saya ingin berterima kasih kepada orang tua, kakek, dan nenek saya. Kemudian, saya berterima kasih kepada orang tua dari jiwa kebijaksanaan saya yang telah membuka babak baru dalam kehidupan saya,” lanjut Lin Xiu-feng.

“Saya pun memahami bahwa arah hidup saya ternyata ada di sini. Saya ingin mengikuti Master dalam menapaki jalan ini. Oleh karena itu, saya membangun ikrar untuk terus belajar dengan sungguh-sungguh dalam mengikuti Master. Saya akan belajar hingga tersadarkan,” pungkas Lin Xiu-feng.


Buku "Warisan Keluarga" ini berisi tentang kisah nyata kehidupan di dunia dan wujud nyata sumbangsih bagi sesama. Jadi, kisah nyata sebaiknya ditulis oleh diri sendiri. Namun, kita harus benar-benar melakukannya dahulu, baru bisa menuliskannya. Selain itu, harus ada teman atau partner di sekitar kita untuk menjadi saksi. Hal ini sangatlah berharga. Kita bukan sekadar menulis apa yang ingin kita katakan saja, melainkan apa yang benar-benar terjadi. Inilah yang disebut dengan warisan keluarga.

Saya sangat bersyukur Tzu Chi telah berjalan selama 60 tahun. Saya percaya bahwa kalian semua sudah sangat berpengalaman. Seperti Yong-fu yang telah mendedikasikan diri selama 30 hingga 40 tahun. Beliau adalah salah satu yang bergabung pada masa awal dan saya masih mengingatnya dengan jelas. Di wilayah selatan ini, dedikasi kalian terhadap Tzu Chi sangatlah berharga. Hal ini tidak dapat digantikan oleh orang lain dan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri. Kekuatan dan bukti nyata dari cinta kasih itu menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat.

Selama puluhan tahun, Tzu Chi terus bersumbangsih dengan cinta kasih. Para relawan juga terus menggalang Bodhisattva dengan sepenuh hati. Buddha berkata bahwa kita harus membimbing semua makhluk secara luas. Jadi, kalian bukan sekadar yakin kepada Buddha karena dibimbing oleh seseorang. Bukan hanya demikian. Setelah dibimbing, kita juga harus membimbing orang lain. Kita harus menuntun orang lain untuk benar-benar menapaki Jalan Bodhisattva. Bodhisattva disebut sebagai makhluk dengan cinta kasih berkesadaran.


Hendaknya kita berbuat baik bagi dunia. Di Tzu Chi, saat melihat mereka yang kurang mampu, kita bersumbangsih bagi mereka. Demikianlah orang yang berkecukupan bersumbangsih bagi orang menderita. Ini adalah berkah. Ketika jalinan jodoh terhimpun, barulah kita bisa membimbing orang lain. Kalian telah mendengar ajaran saya, menerapkan semangat saya, dan melakukan apa yang ingin saya lakukan. Inilah yang disebut dengan mendengarkan Dharma, menerimanya, dan mempraktikkannya secara nyata. Kalian telah melakukannya. Saya sangat berterima kasih kepada kalian. Inilah yang sangat saya harapkan.

Selama 60 tahun, kita masih tetap melakukannya. Selama 60 tahun ini, kita telah melakukan hal baik yang diakui oleh banyak orang. Ini bukanlah hal yang mudah. Inilah nilai kehidupan. Saya sering berkata kepada insan Tzu Chi, "Hendaknya kita menginventarisasi nilai kehidupan dan biarkan orang-orang di sekitar menjadi saksi." Inilah yang disebut dengan kisah nyata. Dengan begitu, anak-anak kalian akan tahu bagaimana ibu dan ayah mereka bersumbangsih. Mereka pun akan penuh dengan rasa hormat.

Cucu-cucu kalian juga akan berkata, "Dahulu, Tzu Chi melakukan banyak hal bagi dunia. Kakek dan nenek saya turut terlibat di dalamnya." Inilah pendidikan di dalam keluarga. Kita tidak hanya bersumbangsih bagi masyarakat, melainkan juga memberikan pendidikan bagi keluarga. Inilah yang disebut dengan pendidikan keluarga.

Mengasihi sumber daya, menghargai berkah, dan membangkitkan kebijaksanaan
Menjalankan pelestarian lingkungan dengan ketulusan hati
Menjadikan kisah nyata sebagai warisan keluarga
Belajar hingga tersadarkan dan menumbuhkan Bodhi

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 24 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 26 Maret 2026
Kesuksesan terbesar dalam kehidupan manusia adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -