Ceramah Master Cheng Yen: Mengenang Berdirinya Kantor Cabang Tzu Chi Pingtung

">

Hari ini adalah 30 tahun berdirinya kantor cabang Tzu Chi di Pingtung. Dua hari lalu, para relawan di sana mengadakan telekonferensi dengan saya. Mereka semua berbagi tentang jalinan jodoh mereka bergabung dengan Tzu Chi di masa-masa awal.

Berkat Tzu Chi, mereka menjalin jodoh dengan saya. Saat itu, nama Dharma mereka diawali dengan huruf "Jing". Lewat telekonferensi, saya melihat rambut mereka memutih.

Waktu terus berlalu. Tanpa disadari, manusia juga terus berproses. Proses perubahan ini terjadi dengan sangat halus dalam setiap detik yang berlalu. Namun, ingatan mereka masih sangat baik. Fungsi tubuh mereka memang menurun, tetapi mereka tidak melupakan tahun itu, peristiwa saat itu, dan orang-orang yang ada saat itu.

 

Tahun 1964, saya berada di Vihara Haihui dan menjalankan masa Varsa bersama Master Wei Li. Beliau berkata bahwa beliau ingin belajar ke Jepang. Saat itu saya pun berkata bahwa saya juga ingin ikut. Beliau berkata bahwa saya bisa mengambil kelas jarak jauh, tetapi setelah beberapa waktu, saya harus pergi ke Jepang selama empat bulan untuk menamatkan studi tersebut.

Saat itu saya sudah memulai Badan Amal Tzu Chi. Saat misi amal kita ini dimulai, saya melihat banyak orang yang menderita. Banyak lansia yang hidup sebatang kara membutuhkan perhatian dari orang yang penuh cinta kasih. Jadi, timbul pergumulan dalam batin saya.

Akhirnya, saya membatalkan niat untuk pergi ke Jepang. Saya hanya meminta tolong kepada beliau untuk membawakan sebuah kitab komentar Sutra Bunga Teratai dalam bahasa Jepang. Begitulah jalinan jodoh saya dalam mengenal Master Wei Li. Setelah beliau kembali dari Jepang, lewat beliau, saya bertemu Master Jian Jing dari Vihara Yuantong, Pingtung serta Bapak Chen Rong-qing.

 

Beberapa tahun setelahnya, Topan Thelma membawa bencana besar bagi daerah Kaohsiung dan Pingtung. Saat itu Tzu Chi sudah berdiri beberapa tahun. Jadi, saat terjadi bencana, saya pun meninjau kondisi di Kaohsiung dan Pingtung. Bencana saat itu sangat parah. Para anggota komite Tzu Chi dari Taipei dan Hualien juga pergi ke Pingtung. Mereka mendampingi saya untuk meninjau lokasi bencana.

Kami tinggal di Vihara Yuantong. Suasananya sangat hangat, mirip seperti Griya Jing Si. Kami berangkat pagi-pagi dan kembali pada sore hari. Keesokan harinya, kami menyiapkan nasi kotak dan melakukan hal yang sama. Kami terus bolak-balik meninjau lokasi bencana di Kaohsiung dan Pingtung. Kami pun semakin akrab dengan suasana Vihara Yuantong. Begitulah jalinan jodoh terus terakumulasi.

Di Vihara Yuantong, saat itu ada sekelompok orang yang akhirnya menjadi murid saya, yaitu Jing Li, Jing Zhi, dan lainnya. Saat itu mereka datang ke Hualien untuk menyatakan berguru. Saya lalu berkata, "Jika ingin berguru, kalian harus ikut saya menjalankan Tzu Chi. Jika tidak, saya tidak menerima murid." Jadi, mereka pun berkata, "Asalkan Master menerima kami sebagai murid, apa pun yang Master minta kami lakukan, akan kami lakukan." Jadi, jalinan jodoh sungguh tak terbayangkan dan terus terpupuk.

 

Misi Tzu Chi di Pingtung dan Kaohsiung pun dimulai. Setelah menjalin jodoh dengan Vihara Yuantong, kita juga berjodoh untuk bertemu suami seorang anggota komite kita, yaitu Dokter Qiu. Beliau melihat istrinya begitu tekun dan bersemangat dalam mendukung saya. Saya berkata, "Jika kita memiliki kantor di Kota Pingtung, tentu akan lebih baik." Melihat istrinya mengikuti saya menjalankan misi amal, Dokter Qiu berharap Tzu Chi memiliki kantor yang baik. Berbagai jalinan jodoh akhirnya mewujudkan Aula Jing Si kita yang sekarang.

Jalinan jodoh saya dengan orang-orang ini dimulai dari Vihara Yuantong di Fanziliao. Berkat mereka semua, barulah Aula Jing Si Pingtung yang sekarang bisa terwujud. Jalinan jodoh sungguh tak terbayangkan. Semua ini terpupuk seiring berlalunya detik demi detik. Jalinan jodoh mengondisikan segala pencapaian.

Kisah yang patut disyukuri ini tentu sangat panjang. Meski saat ini muncul berbagai ingatan dalam benak saya, tetapi semua ini tak akan habis diceritakan. Karena itu, saya sering mengulas tentang nilai kehidupan.

 

Kita harus sungguh-sungguh menggenggam setiap detik waktu kehidupan kita. Setiap waktu yang dilalui ini akan menjadi masa lalu. Dengan adanya ingatan tentang masa lalu ini, barulah kita dapat melangkah dengan mantap di arah yang benar untuk menciptakan berkah bagi dunia. Lebih jauh lagi, jalan ini dapat terus dibentangkan sebagai jalan yang rata untuk ditapaki oleh lebih banyak Bodhisatwa sehingga jalan ini menjadi Jalan Bodhisatwa yang lapang.

Tanpa adanya jalan kecil yang dibuka pada masa lalu, bagaimana mungkin kini jalan yang lapang dapat terwujud?

Kita juga melihat mereka membuka sebuah gambar pohon silsilah keluarga Tzu Chi di Pingtung. Di sana terlihat siapa yang menjadi akar yang kemudian berkembang menjadi satu demi satu batang dan cabang. Melihat pohon Tzu Chi ini, saya mengatakan kepada mereka bahwa mereka sangat kreatif.

 

Saya akan mengambil gambar ini dan memperlihatkannya kepada insan Tzu Chi di seluruh dunia agar mereka dapat membuat gambar serupa di negara atau daerah masing-masing demi mengenang orang-orang yang memulai Tzu Chi di sana. Lewat gambar seperti itu, semuanya terlihat jelas.

Intinya, kita harus menghimpun kebijaksanaan agar ladang batin kita dapat menumbuhkan benih dari satu menjadi tak terhingga.

Saya sering berkata bahwa sebutir benih dapat tumbuh menjadi tak terhingga. Sebutir benih dapat menjadi puluhan ribu batang pohon. Karena itu, ini disebut menciptakan hutan pahala. Setiap batang pohon berasal dari sebutir benih. Setiap batang pohon akan berbunga, berbuah, dan kembali menghasilkan benih yang tak terhingga. Inilah semangat "dari satu tumbuh menjadi tak terhingga". Demikianlah pohon Tzu Chi terus berkembang.

Menjalin jodoh di persamuhan Sutra Teratai
Para relawan membantu berdirinya kantor cabang dan mengembangkan misi
Mempraktikkan Sutra dengan cinta kasih dan welas asih
Mewujudkan hutan Bodhi yang tumbuh dari sebutir benih

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 12 April 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 14 April 2021
Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia akan bisa berbahagia.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -