Ceramah Master Cheng Yen: Mengenang Bodhisatwa dan Menyadari Ketidakkekalan


Saya sangat bersyukur atas welas asih Master dan dukungan para bhiksuni Griya Jing Si sehingga kita bisa memiliki ladang pelatihan yang begitu agung. Tiga belas tahun lalu, Kantor Perwakilan Tzu Chi Hong Kong yang berada di Wan Chai sangatlah kecil, hanya sekitar 66 meter persegi. Saat itu, kita hanya memiliki 20 orang relawan. Hari ini, kita bisa memiliki Aula Jing Si sendiri. Saya yakin setiap insan Tzu Chi Hong Kong dipenuhi rasa syukur di dalam hati,” kata Zhou Yulian, relawan Tzu Chi.

“Master, mohon tenang. Kami pasti akan bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, dan bergotong royong untuk menggalang lebih banyak Bodhisatwa dunia dan berpegang pada ikrar Master untuk menyucikan hati manusia, mewujudkan masyarakat yang harmonis, dan berdoa semoga dunia bebas dari bencana,” lanjut Zhou Yulian.

“Saya tidak memiliki penyesalan. Kini, kehidupan saya sangat sederhana. Saya masih bisa berjalan dan bersumbangsih. Selain itu, yang saya inginkan tidaklah banyak,” pungkas Zhou Yulian.


Kita telah melihat dan merasakan ketidakkekalan hidup. Ketidakkekalan, ini sering diulas dalam ajaran Buddha. Sebagai umat Buddha, kita hendaknya tahu jelas. Jadi, kita harus memahaminya dengan jelas.

Belakangan ini, saya sungguh sangat sedih. Saya yakin bahwa kalian juga tahu. Kita bersumbangsih sebagai makhluk berkesadaran. Namun, meski memiliki kesadaran, sebagai makhluk hidup, kita pasti akan diliputi noda batin. Kita yang memiliki perasaan pasti memiliki noda batin.

“Master, maaf. Murid Master yang baik (Tino Chu) telah pergi kemarin,” kata Zhao-qin, relawan Tzu Chi.
Saya juga sangat kehilangan. Zhao-qin, kamu harus lebih tegar.

“Saya tahu, saya tahu. Saya hanya merasa sedih karena dia pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Dia hanya tidur dan tidak pernah bangun lagi,” ucap Zhao-qin.

Saya juga sangat kehilangan.

“Saya tahu Master pasti sangat kehilangan,” ujar Zhao-qin.

Kamu harus lebih tegar.

“Master, saya pasti akan tegar,” ucap Zhao-qin.

Seumur hidupnya, dia telah melakukan hal yang benar. Karena itu, kita harus yakin terhadap dirinya. Inilah jalinan jodohnya. Kita harus merelakannya. Kamu jangan terlalu emosional.

“Saya tahu, Dia pasti akan kembali lagi,” kata Zhao-qin.

Benar, kita semua mendoakannya.

“Baik, terima kasih, Master. Terima kasih atas doa Master,” pungkas Zhao-qin.

Kita tetap merasa kehilangan dan tidak rela. Kamu harus lebih tegar. Demikianlah kehidupan, penuh dengan ketidakberdayaan. Kalian pasti juga menyaksikan berita ini. Beberapa hari ini, saya sangat sedih. Tino Chu, kalian semua mengenalnya. Dia adalah relawan Tzu Chi Zimbabwe. Selama 10 hingga 20 tahun ini, dia sangat berdedikasi.


Zimbabwe sungguh sangat kekurangan. Di sana, dia telah menolong banyak orang. Dia bukan sekadar menyediakan makanan ataupun membagikan dana bantuan. Bukan demikian. Dia juga berusaha untuk membantu orang-orang menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik. Dia menggali dan memperbaiki sumur setempat dengan target 5.000 sumur.

Kini, sudah ada lebih dari 4.700 sumur yang telah digali atau diperbaiki. Target 5.000 sumur sudah hampir tercapai. Kita semua tahu bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa air. Selama 10 hingga 20 tahun ini, dia terus menggali sumur dan bersumbangsih. Jadi, dia merupakan Bodhisatwa yang sesungguhnya.

Tahun ini, dia baru berusia 71 tahun. Dia telah menjalankan Tzu Chi lebih dari 20 tahun. Selain menggali sumur, di mana pun ada orang membutuhkan makanan, dia akan mengantarkan beras ke sana. Terlebih anak-anak setempat, banyak yang tidak memiliki makanan di rumah.

Setiap hari, dia dan relawan lainnya menyediakan lebih dari 17 ribu porsi makanan. Ini telah dilakukan selama belasan tahun. Mereka menyediakan makanan sekali dalam sehari untuk belasan ribu orang. Dia merupakan murid saya yang sangat baik. Saya sangat kagum padanya. Dia meninggal dunia dengan damai.

Sehari sebelumnya, dia masih membagikan bantuan. Lalu, dia tidur pada malam harinya. Keesokan paginya, dia sudah tiada. Saya sungguh merasa tidak rela. Namun, apa yang bisa saya lakukan? Tidak ada yang bisa saya lakukan. Demikianlah kehidupan.

Sungguh, dia senantiasa memikirkan bagaimana menjalankan Tzu Chi sesuai arahan saya. Dia sangat dekat di hati saya. Dia menunjukkan perkembangan di sana pada saya. Sebelumnya, dia tidak pernah melakukannya.


Pada akhir tahun lalu, dia beserta istrinya kembali ke Taiwan. Istrinya berbagi tentang apa yang telah mereka lakukan. Biasanya, dia kembali sendiri. Istrinya pernah kembali dua kali, yang pertama untuk menjalani pelantikan dan yang kedua sebelum tahun baru. Mereka belum lama pulang ke negara mereka.

Beberapa hari lalu, kami masih melakukan telekonferensi. Lewat telekonferensi, dia memberi tahu saya betapa besarnya buah mangga di sana dan bagaimana mereka menanam jagung. Hasil panen mereka juga disusun di atas meja.

Untuk berbicara dengan saya, mereka menyiapkan sebuah meja dan meletakkan sebuah kursi di depan untuk saya. Mereka berdiri di sana dan menghadap ke arah saya. Mereka menghormati saya bagai saya hadir di sana dan duduk di kursi tersebut. Setelah menunjukkan buah mangga, lengkeng, dan sebagainya kepada saya, dia berjalan ke kursi itu, memegangnya, dan berkata, "Master, kursi ini untuk Master."

Saat melakukan telekonferensi dengan saya, mereka biasanya duduk menghadap saya. Ini untuk pertama kalinya dia menunjukkan dan menjelaskan lingkungan di sana dengan jelas. Saya merasa bahwa ini tidak biasa, tetapi juga merasa bahwa dia sangat perhatian. Saya merasa tidak rela, tetapi apa yang bisa saya lakukan?

Saya memberi tahu istrinya, "Kini, kamu juga harus bersumbangsih untuknya. Kamu harus tegar dan bangkit kembali. Kini adalah giliranmu untuk bersumbangsih." Istrinya sangatlah tegar. Demikianlah kehidupan. Dirinya sama sekali tidak menderita. Dia meninggal dunia saat tidur dan mimpinya telah menjadi kenyataan. Di tengah mimpinya, dia pergi dengan damai.

“Seumur hidup saya, saya akan berusaha melakukan banyak hal untuk membantu pemerintah Zimbabwe. Saya berharap setelah meninggal dunia, saya dapat dimakamkan di Zimbabwe. Saya yakin bahwa di kehidupan berikutnya, saya akan kembali. Saya berjanji bahwa saat kembali lagi, saya akan duduk bersama kalian semua,” kata Tino Chu, relawan Tzu Chi.

Di kehidupan berikutnya, saya memberi tahu istrinya bahwa kitalah yang harus menggandeng tangannya. Singkat kata, di Jalan Bodhisatwa ini, kita tidak boleh tersesat dari kehidupan ke kehidupan. Kita harus menjaga cinta kasih berkesadaran dengan baik.

“Umat Buddha percaya pada kelahiran kembali. Saya memberi tahu istri saya bahwa setelah meninggal dunia, saya tak ingin kembali ke Taiwan. Saya ingin dimakamkan di Zimbabwe. Saya berikrar untuk tetap berada di Zimbabwe selama lima kehidupan. Saya ingin menjadi warga Zimbabwe yang memiliki kekuatan untuk mendampingi warga setempat dan membebaskan mereka dari kemiskinan,” pungkas Tino Chu.

Menggali sumur, menolong orang yang menderita, dan membentangkan jalan agung
Menjadi makhluk berkesadaran yang berpegang pada hati Buddha dan tekad Guru
Bodhisatwa berikrar untuk menyebarkan kebajikan
Mengenang para Bodhisatwa dan menyadari ketidakkekalan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 28 Februari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 02 Maret 2026
Giat menanam kebajikan akan menghapus malapetaka. Menyucikan hati sendiri akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -