Ceramah Master Cheng Yen: Menggenggam Jalinan Jodoh untuk Membimbing Orang yang Menderita


“Kami merasa sangat dipenuhi berkah karena pernah menapaki jejak yang pernah dilalui oleh Buddha, baik Puncak Burung Nasar, pohon bodhi tempat Buddha mencapai pencerahan, maupun tempat kelahiran Buddha di Lumbini. Kami terus mengenangnya sehingga di dalam kesadaran kedelapan, kami selalu ingat untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Buddha. Selama Master bertekad untuk membawa perubahan, kami pasti akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Saat ini, kami tinggal di kampung halaman Buddha,” kata Su Qi-feng,
relawan Tzu Chi Malaysia.

“Di sana, kami terjun ke tengah masyarakat dan membagikan tentang Sutra Makna Tanpa Batas. Ketika bertemu dengan anggota Sangha, kami juga membicarakan hal yang sama. Setiap pagi pukul delapan, kami pergi ke vihara untuk mendampingi para anggota Sangha melantunkan Sutra. Setelah selesai melantunkan bagian pertama, kami mulai memberikan penjelasan,” kata Zhao Xin-yu, relawan Tzu Chi Singapura.

“Misalnya saat membaca bagian ‘Meski menghadapi ancaman maupun hinaan, tetap tidak timbul rasa benci,’ saya akan mengaitkannya dengan kisah para relawan, seperti Kakak Chen Qiu-hua, Kakak Tino Chu, dan khususnya Kakak Faisal Hu yang menerjemahkan lagu ‘Menebar Kasih ke Seluruh Dunia’ setelah Serangan 11 September,” lanjut Zhao Xin-yu.

“Kisah yang saya bagikan bisa mereka terima dengan sukacita. Mereka menyadari bahwa relawan Tzu Chi benar-benar menerapkan ajaran Sutra dalam kehidupan nyata, terutama di tengah penderitaan dunia. Mereka semua dipenuhi dengan sukacita Dharma,” pungkas Zhao Xin-yu.


Pada zaman Buddha, Beliau melihat penderitaan di dunia dengan hati yang lapang dan mata yang bijaksana. Hati-Nya sangat lapang dan mata-Nya dapat melihat kebenaran sejati di dunia secara menyeluruh. Oleh karena itu, Beliau menyadari bahwa yang dibutuhkan bukanlah materi yang berwujud, melainkan nilai-nilai, semangat, dan arah yang benar untuk mewariskan Dharma di dunia hingga selamanya. Bagaimana seharusnya seseorang menjalani kehidupan? Kehidupan tidak bisa lepas dari jasmani dan batin. Bagaimana seseorang membangkitkan tekad dan berpikir dengan benar? Semua ini sangatlah penting.

Dalam meneladan Buddha, saya selalu berharap semuanya dapat mempelajari semangat dan nilai-nilai yang dimiliki oleh Buddha. Semua ini bukan untuk mencari nama dan kekayaan. Coba pikirkan, apakah Buddha mencari ketenaran? Tidak. Beliau justru melepaskan nama dan keuntungan duniawi. Beliau sepenuh hati mencari pencerahan. Begitulah Pangeran Siddhartha di dua ribu tahun lalu menjadi Buddha Sakyamuni yang kita kenal sekarang. Jika saat itu Beliau tidak membangkitkan sebersit niat, tidak akan ada arah yang bisa kita pelajari saat ini. Jadi, hendaknya kita bersyukur atas budi luhur Buddha.

Tanpa tubuh ini, kita bahkan tidak tahu saat ini berada di alam kehidupan yang mana. Kita harus bersyukur atas jalinan jodoh yang ada pada kita dan orang tua sehingga kita dapat terlahir dalam keluarga mereka. Hendaknya kita berterima kasih atas budi luhur Buddha dan orang tua. Beruntung, sekarang ada Tzu Chi. Tzu Chi membuka pintu hati kita sehingga kita dapat melihat jalan yang lapang. Kita dapat melihat bahwa Tzu Chi adalah jalan kebenaran yang dapat kita tempuh dengan mantap. Jalan ini mengarah lurus ke depan tanpa percabangan. Selama kita memiliki keyakinan yang benar, jalan yang kita tapaki pasti benar.


Jika tidak pergi ke Nepal atau India, mungkin sampai sekarang kami masih hidup nyaman di Malaysia atau Singapura. Saat itu, Kakak Xin-yu berkata, ‘Master pernah berkata bahwa jika kita terlalu menikmati kenyamanan, jiwa kebijaksanaan kita akan terkikis.’ Kalimat itu membuat saya sangat terguncang. Saya tidak ingin jiwa kebijaksanaan saya terkikis,” kata Wang Ci Wei, relawan Tzu Chi Malaysia.

“Dalam hati, saya selalu berpikir bahwa selama Master ingin menyelamatkan makhluk hidup, ingatlah bahwa saya ada di sini. Saya berharap dapat menggenggam jalinan jodoh melihat penderitaan dan menyadari berkah ini untuk melatih diri hingga memiliki tubuh, ucapan, dan pikiran yang murni, serta menjalin jodoh Dharma yang murni untuk kehidupan yang akan dating,” pungkas Wang Ci Wei.

Baik. Saya berterima kasih kepada kalian dan keluarga kalian. Berkat adanya keluarga yang mendukung kalian, barulah saya bisa merasa tenang. Kalian telah membangkitkan tekad untuk berada di sana. Kalian mewakili saya menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan dan melakukan apa yang ingin saya lakukan. Dengan demikian, saya dapat benar-benar berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk di sana.

Kalian telah mewakili saya untuk melakukannya. Jika hanya sendiri, saya tidak mampu melakukannya, hanya bisa duduk di sini untuk berpikir dan melihat. Saya ingin bersumbangsih, tetapi tidak bisa. Berkat adanya kalian, semuanya bisa terlaksana. Terima kasih.

Selama kita memiliki tekad dan mau melangkah maju, menapaki jalan ini tidaklah sulit. Setiap langkah kita harus mantap. Melangkah dengan mantap itulah langkah seorang Bodhisatwa. Dengan demikian, kita tidak perlu takut sejauh apa pun jalan Buddha itu. Selama kita berani melangkah, kita tidak perlu takut jarak yang jauh. Yang perlu ditakutkan ialah jika kita hanya memandang ujung jalan tanpa mampu melangkah maju.


Saya sangat berterima kasih kepada insan Tzu Chi. Semuanya selalu melangkah dengan mantap dan tidak takut akan kesulitan. Terlebih lagi, saya berterima kasih kepada kalian yang pergi ke Nepal. Setiap kali matahari terbit, saya teringat bahwa matahari di sana jauh lebih terik daripada di Taiwan. Namun, dengan kekuatan ikrar kalian, kalian tetap berjalan di bawah terik matahari untuk mengunjungi gubuk-gubuk kecil yang kumuh.

Saat hujan, air mungkin menetes ke dalam rumah. Saat matahari bersinar, saya yakin bahwa cahaya matahari juga masuk melalui celah-celah. Saya selalu teringat bahwa ada sekelompok Bodhisatwa dunia yang telah membangkitkan tekad agung di sana. Melihat kehidupan warga setempat, saya sangat ingin membantu. Jika memiliki kekuatan, hendaknya kita berusaha membantu mereka.

Saat ini, kita memiliki kekuatan. Namun, waktu dalam kehidupan manusia itu terbatas. Jadi, hendaknya kita memanfaatkan waktu saat ini. Selama ada kekuatan dan jalinan jodoh, kita harus segera bertindak. Segala sesuatu tidak bisa dibawa pergi. Selama ada jalinan jodoh, hendaknya kita membentuk jalinan jodoh berkah yang akan selalu menyertai kita. Jadi, kita harus berada di tempat yang memiliki jalinan jodoh dengan kita.

Di sini, saya pun berusaha menggenggam jalinan jodoh dengan semua yang bersedia mendengarkan saya dan percaya pada arah yang saya tunjukkan. Ketika semuanya bersedia melangkah dan bertindak, saya pun tidak berani lengah. Siapa pun yang datang ke Taiwan untuk mempelajari ajaran Buddha, entah dari negara mana pun, saya akan segera memanfaatkan jalinan jodoh itu untuk menyemangati mereka agar di tempat mereka masing-masing, mereka dapat bersumbangsih. Inilah yang dapat saya lakukan dengan jalinan jodoh yang ada.

Tidak peduli berapa usia saya sekarang, saya tetap merasa bahwa saya harus menggenggam waktu dan jalinan jodoh dalam kehidupan ini. Hanya dengan demikianlah kita dapat benar-benar mengandalkan dan mempertahankan jalinan jodoh tersebut. Janganlah menyia-nyiakan waktu dan jalinan jodoh. Saya mendoakan kalian semua agar dapat menggenggam jalinan jodoh. Hendaknya kita bergandengan tangan untuk bersumbangsih bagi mereka yang menderita.

Melangkah dengan mantap untuk menyebarkan ajaran benar
Meneguhkan tekad dan ikrar untuk menyatu dengan hati Buddha
Menggenggam jalinan jodoh untuk membimbing mereka yang menderita
Mendoakan semua makhluk agar mendapatkan ketenteraman dan kesehatan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 01 April 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 03 April 2026
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -