Ceramah Master Cheng Yen: Menggerakkan Perahu Cinta Kasih dan Menghimpun Kekuatan


Saudara sekalian, menumbuhkan jiwa kebijaksanaan itu sangatlah penting. Terlahir sebagai manusia saja sudah sulit, terlebih lagi dapat mendengarkan ajaran Buddha. Ajaran Buddha yang kita dengar ialah tentang menapaki Jalan Bodhisatwa. Jalan Bodhisatwa harus diwujudkan dengan praktik nyata dari diri sendiri. Di dunia ini, tidak ada sesuatu yang bisa diperoleh tanpa bersumbangsih. Prinsip kebenaran dari ketulusan ialah selama kita mau bersumbangsih, pasti akan ada hasil yang kita peroleh. Jadi, hendaknya kita tekun dan bersemangat.

Kita memiliki jalinan jodoh yang baik untuk berkumpul dengan sekelompok Bodhisatwa. Semuanya saling menyemangati dan bersama-sama menapaki Jalan Bodhisatwa. Saya merasa bahwa inilah berkah paling besar. Kita melakukan semuanya dengan hati yang penuh sukacita, tenang, dan damai. Inilah yang kita peroleh setiap hari, yaitu hati yang bebas dari noda batin, hati yang tenang, dan energi yang selaras. Setiap hari, kita dikelilingi oleh orang-orang baik. Jika kehidupan bisa dijalani seperti ini, itu sudah merupakan berkah yang luar biasa.

Setiap hari, saya menginventarisasi kehidupan dan merasa bahwa saya dipenuhi oleh berkah. Saya yakin bahwa di kehidupan lampau, entah berapa banyak kehidupan, saya telah menghimpun benih kebajikan dan jalinan jodoh yang baik. Oleh karena itu, di kehidupan ini, sejak usia muda, saya telah menumbuhkan tekad bahwa kehidupan di masa depan harus dijalani dengan terus melatih diri. Dalam melatih diri, saya bersedia untuk memikul misi Tathagata.

“Master telah membangun Tzu Chi dengan penuh perjuangan. Berkat praktik celengan bambu, cinta kasih dapat terhimpun. Jejak langkah Master telah ada selama 60 tahun. Para murid Jing Si berikrar untuk menjaga tekad awal dengan keyakinan, ikrar, dan praktik. Kami juga akan mewariskan silsilah Dharma dan mazhab Tzu Chi dari generasi ke generasi.”

Terima kasih. Segala hal baik di dunia ini perlu dipikul oleh orang-orang yang baik pula.


Saudara sekalian, setiap tekad dan ikrar yang dibangun hendaknya kalian akumulasi setiap detik dan menit dan manfaatkan waktu itu untuk membawa manfaat bagi semua orang. Kalian tidak hanya melakukan kebajikan, tetapi juga benar-benar menyelami Sutra. Menyelami Sutra bukan berarti sekadar melafalkannya, melainkan juga mewujudkannya dalam kebersamaan sehingga Sutra ini tampil hidup, bermakna, dan memiliki nilai pendidikan. Seperti pada gerakan "menggerakkan perahu", semuanya dapat melihat bahwa perahu Dharma ini sangat besar, berlayar di tengah dunia untuk menyeberangkan semua makhluk.

Saya sangat berterima kasih kepada relawan Changhua. Apa yang ingin saya wujudkan, telah kalian tunjukkan kepada saya. Bahkan, pelat baja dari masa lampau pun kalian dapatkan. Saya sering bercerita bahwa dahulu, saya menyalin Sutra menggunakan pelat baja dan kertas lilin yang kini sudah sulit ditemukan. Namun, kalian dengan sepenuh hati mencarinya kembali. Apa yang saya ucapkan, pasti kalian lakukan. Inilah ketulusan sejati. Rasa hormat, persembahan, dan semangat cinta kasih semuanya terungkap begitu nyata.

Bodhisatwa sekalian, hari ini, di tempat ini, dengan hati yang penuh ketulusan, kita bersama-sama menyalakan pelita berkah dan kebijaksanaan. Pelita ini bersifat abadi dan hidup di dalam batin serta pikiran kita. Bertekad berarti berikrar dan ikrar harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Segala sesuatu harus diwujudkan dalam praktik nyata, barulah keindahan dapat terlihat. Hanya dengan ketulusan sejati, barulah keindahan dapat terwujud.


Baru saja, baik di atas panggung maupun di bawah, semua gerakan yang selaras, lantunan Sutra yang terucap, setiap gerakan tangan dan langkah kaki, semuanya bersumber dari satu niat batin yang tulus. Persembahan yang tulus dari hati adalah persembahan yang terbaik. Ya, ketulusan dan kesungguhan itulah yang sesungguhnya merupakan persembahan kepada para Buddha dan Bodhisatwa. Ini bukan hanya ditujukan agar saya bahagia, melainkan juga agar para Buddha dan Bodhisatwa turut berbahagia.

Saya berharap semua insan Tzu Chi dapat mempelajari Jalan Bodhisatwa dan tidak meninggalkan Himne Inti Sari Dharma Sutra Makna Tanpa Batas. Bukan sekadar mengagumi keindahan rangkaian kata dan ketulusan maknanya, yang paling penting ialah kita mempraktikkannya. Untuk mempraktikkannya, kita harus menghayatinya dengan sepenuh hati. Apa yang kita hayati hendaknya terukir selamanya di dalam hati. Inilah yang disebut ketulusan yang paling tinggi.

Di ladang pelatihan ini, jika bisa sering berlatih bersama, kita bisa melantunkannya bagian demi bagian agar tidak pernah terlupakan dan selalu hadir dalam hati serta tindakan kita. Hendaknya kita senantiasa menapaki Jalan Bodhisatwa. Membina berkah dan kebijaksanaan tidak bisa dilakukan seorang diri, melainkan harus bersama-sama dalam keharmonisan agar semuanya bisa saling mengingatkan.


Jangan lupakan Himne Inti Sari Dharma Sutra Makna Tanpa Batas hari ini. Jadikanlah ini sebagai lantunan harian. Anda bisa menyanyikan satu bagian sederhana di dalam hati atau mengajak anggota keluarga untuk melantunkannya bersama-sama. Dengan begitu, akan tercipta sukacita bersama dan seluruh keluarga dipenuhi berkah. Jika bisa berbuat demikian, akan sangat bagus. Jika setiap keluarga damai, masyarakat pun akan hidup dalam kedamaian dan ajaran Buddha akan senantiasa hadir di dunia. Inilah yang paling saya harapkan. Terima kasih, Bodhisatwa sekalian.

Kekuatan cinta kasih telah kalian wujudkan dalam tindakan nyata yang telah saya lihat hari ini. Saya yakin bahwa setiap hari, kalian telah mempraktikkan Sutra Makna Tanpa Batas. Betapa beruntungnya kita dapat hidup di dunia ini dan mempraktikkannya dalam keluarga masing-masing. Ini adalah berkah yang sangat besar dan kebijaksanaan yang luas.

Mitra bajik berhimpun untuk berlatih dengan tekun dan bersemangat
Melenyapkan noda batin dengan hati yang tenang dan energi yang harmonis
Berpegang teguh pada ikrar awal untuk menapaki Jalan Buddha
Menggerakkan perahu cinta kasih dan menghimpun kekuatan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 14 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 16 Januari 2026
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -