Ceramah Master Cheng Yen: Menghargai Jalinan Jodoh dan Meneruskan Jiwa Kebijaksanaan Buddha


Ketika kita melihat orang-orang harus menanggung penderitaan yang seolah-olah tiada habisnya, marilah kita mengingatkan diri sendiri bahwa Bodhisatwa datang karena adanya makhluk yang menderita. Era saat ini adalah era para Bodhisatwa muncul di dunia.

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, Buddha melihat ketidakkekalan, penderitaan, kekosongan dalam kehidupan; Beliau juga melihat manusia melalui fase lahir, tua, sakit, mati; segala sesuatu mengalami fase terbentuk, berlangsung, rusak, hancur; dan pikiran mengalami fase timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Ini semua adalah prinsip yang sangat mendalam. Bagaimana menyelamatkan dunia? Ini sangatlah sulit.

Waktu terus berlalu, era juga terus berganti. Manusia tidak bisa mengejar waktu karena detik demi detik terus berlalu dengan cepat. Setiap hari, saya selalu berlomba dengan waktu, tetapi saya tetap tidak bisa menang dan harus menerima kenyataan ini. Tiada seorang pun yang bisa menjadi pemenang sejati, lalu untuk apa kita saling berebut? Baik antarnegara, antarmanusia, maupun manusia dengan hal lainnya, benar-benar tidak ada gunanya untuk saling berebut. Namun, membangun tekad tetaplah penting.

Mengenang kembali 20 tahun lalu, ketika bencana Gempa 921, saat itu saya membangkitkan sebersit niat hanya dalam sekejap. Saya tiba-tiba memikirkannya dan yakin dengan arah yang kita ambil. Dari Taichung, kemudian ke Nantou, lalu ke Puli, kita menghimpun banyak sekali cinta kasih dari masyarakat. Pada saat itu, saya mengatakan, "Baik sepotong batu bata maupun sekantong semen, akan bermanfaat bagi generasi mendatang dan merupakan wujud cinta kasih kita yang abadi."


Jika dilihat sekarang, ini sungguh cinta kasih yang abadi. Sekarang, saya masih ada di sini; mereka yang menemani saya dalam perjalanan ini juga masih ada di sini. Oleh karena itu, mari kita lebih sering mengingat kembali sejarah yang seperti ini. Saya berharap untuk generasi-generasi berikutnya, ketika orang-orang berpikir kembali tentang bencana ini, mereka dapat bersyukur karena ada begitu banyak Bodhisatwa dunia yang telah bermunculan dalam bencana besar ini.

Saat itu, seperti yang tertulis dalam Sutra Teratai, para relawan bagaikan Bodhisatwa yang muncul dari dalam bumi atau turun dari langit. Jika kita mengumpulkan dan merangkum semua peristiwa bersejarah ini, ini akan menjadi perwujudan Sutra Teratai abad ini karena Sutra Teratai membahas tentang Jalan Bodhisatwa dan Jalan Bodhisatwa ini telah terbentang ke seluruh dunia.

Lihatlah misi Tzu Chi baru-baru ini di Nepal. Sekelompok relawan dari Malaysia dan Singapura telah bertekad untuk menjalankan misi di sana. Mereka bekerja sama dengan harmonis dan mencari cara untuk menapaki jalan tersebut. Ketika mereka mengambil satu langkah maju ke depan, kaki yang satu lagi juga harus ikut bergerak untuk mengambil langkah berikutnya. Jika sepanjang waktu tidak giat dan ingat untuk melepaskan langkah, mereka tidak akan bisa menciptakan sejarah bagi masa depan.

Untuk menciptakan potongan-potongan sejarah kehidupan, manusia harus bisa melepas dan membangun tekad. Saya benar-benar berterima kasih atas tekad para relawan untuk membantu orang-orang di Nepal. Ini menunjukkan bahwa jiwa kebijaksanaan mereka sangat dekat dengan saya. Saya berharap semua orang lebih bersungguh hati, mengambil inisiatif, dan melangkah maju.


Saya ingin mengatakan kepada semua orang bahwa dengan kalian menjalankan misi Tzu Chi, hal-hal yang telah kalian lakukan tidak hanya bernilai bagi kehidupan sekarang, melainkan juga bernilai bagi kehidupan yang akan datang. Baik para relawan penerus kalian maupun para bhiksuni penerus saya, mereka akan merasa bahwa bergabung dengan Tzu Chi merupakan sebuah berkah, terlebih lagi menumbuhkan kebijaksanaan mereka. Kita telah menjadi saksi sejarah. Tidak hanya menjadi saksi sejarah, kita juga harus memiliki andil di dalamnya. Kita sangat bersyukur.

Saya berharap cinta kasih yang tulus dari para relawan dapat membantu memperkuat empat misi Tzu Chi hingga dapat bertahan selamanya. Saya beri tahu kalian, apa yang telah kalian lakukan benar-benar bernilai. Saat lima ratus orang bertekad, terwujudlah satu Bodhisatwa Avalokitesvara yang membantu saya. Mereka mewakili saya melihat orang-orang yang menderita dengan seribu tangan dan mata mereka. Sekarang, ada lebih dari sepuluh ribu tangan dan mata yang membantu saya memandang dunia. Mereka memandang semua makhluk dengan cinta kasih.

Mengikuti teladan Bodhisatwa Avalokitesvara, ketika melihat orang-orang yang dalam penderitaan, kita harus mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Kita sering melihat para relawan menjalankan ini. Ini benar-benar sangat sulit. Mereka mendatangi tempat-tempat yang membutuhkan dan melakukan survei. Walau hanya melihat foto-foto mereka kirimkan, saya seperti pergi bersama mereka. Kegiatan Tzu Chi di Nepal adalah salah satu contohnya.


Kini, para relawan, termasuk pengusaha dan dokter, telah bertekad untuk menghimpun kekuatan. Kita juga ingin mengimbau orang-orang di seluruh dunia untuk turut menghimpun cinta kasih. Saya selalu menyerukan bahwa kita harus memiliki keyakinan dan berkontribusi kembali bagi tanah kelahiran Buddha karena lebih dari 2.500 tahun yang lalu, Buddha lahir di dunia dan membuka jalan kebenaran. Sekarang, kita mewarisi semangat Buddha dalam membentangkan jalan kebenaran. Jadi, membuka jalan adalah menentukan sebuah arah. Kita harus benar-benar melapangkan jalan ini, membuat jalan ini lebih panjang dan rata.

Kita sungguh penuh berkah sehingga bisa meneruskan jiwa kebijaksanaan Buddha dan menapaki Jalan Bodhisatwa. Saya sangat berterima kasih kepada para relawan dari Malaysia dan Singapura yang sudah menggantikan saya untuk pergi ke Nepal. Mereka tiba di sana dan sungguh-sungguh bersumbangsih. Mereka telah bertekad untuk membantu orang-orang di sana. Saya benar-benar berterima kasih kepada mereka.

Detik demi detik berlalu tanpa kita sadari. Saya ingin terus menyuarakan, mendorong, dan mengimbau orang-orang. Saya mengerahkan seluruh kekuatan saya dan berusaha untuk berbicara lebih keras agar orang-orang dapat mendengar saya. Orang-orang yang mendengarkan ajaran saya harus membangkitkan cinta kasih. Meski usia kehidupan berkurang seiring berjalannya waktu, saya tetap akan berusaha berbicara lebih keras. Semoga para relawan juga dapat melakukan yang terbaik. 

Bodhisatwa datang karena adanya makhluk hidup yang menderita
Berlomba dengan waktu untuk mempertahankan tekad awal
Melangkah maju dengan giat dan menjadi saksi sejarah
Menghargai jalinan jodoh dan meneruskan jiwa kebijaksanaan Buddha    

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 18 September 2022
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Heryanto
Ditayangkan tanggal 20 September 2022
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -