Ceramah Master Cheng Yen: Menghargai Sumber Daya, Menciptakan Berkah, dan Menyucikan Hati
“Depo daur ulang kita sekarang kecil, tetapi sangat indah. Kami memiliki 50 orang relawan. Sebelumnya, kami hanya memiliki titik daur ulang. Depo di Jalan Mingde hanya sekitar 70 meter persegi, tetapi para relawan kita sangat bersungguh hati. Kami membersihkan lantai dua untuk menyimpan botol-botol plastik dan kaleng-kaleng. Kami menariknya ke atas dengan tali. Kami manfaatkan ruang yang ada dengan sebaik-baiknya,” kata Jiang Mei-xiu, relawan Tzu Chi.
“Di lantai bawah, kami membongkar kertas-kertas. Di area pembongkaran ada tiga relawan, lalu ditambah lagi dengan tim pemilah. Saat relawan kita membawa pulang barang daur ulang, kami akan menarik botol plastik dan kaleng-kaleng ke lantai atas dalam waktu beberapa menit dan dalam waktu sekitar setengah jam, semua barang akan selesai dipilah. Jadi, tim pemilah tidak butuh banyak orang. Terkadang, hanya 3 hingga 4 orang yang melakukannya,” pungkas Jiang Mei-xiu.
Kegiatan daur ulang sungguh sangat edukatif. Masyarakat zaman sekarang sangat konsumtif. Karena itulah, para insan Tzu Chi hendaknya membangkitkan semangat untuk memberikan edukasi lewat kegiatan daur ulang.
Lebih dari 30 tahun lalu, saya mengimbau orang-orang untuk melakukan daur ulang dengan kedua tangan yang bertepuk. Meski ini hanyalah sebuah imbauan yang sederhana, janganlah kita meremehkannya. Dengan memungut kertas yang dibuang orang, kita dapat menciptakan pahala besar. Demikianlah kita memberikan edukasi.
Kita memberi keteladanan kepada orang lain. Setiap depo daur ulang kita demikian. Setiap aksi dalam melakukan daur ulang menunjukkan bahwa kita menghargai sumber daya. Barang apa pun, jika kita menghargainya, ia akan awet dan nilai kegunaannya akan sangat tinggi. Setiap orang hendaknya tahu bahwa ini dapat mengembangkan cinta kasih dan potensi kebajikan kita.


Saya sangat bersyukur atas kegiatan daur ulang kita di berbagai wilayah. Semua orang melakukan daur ulang dengan sukacita. Inilah salah satu keistimewaan Tzu Chi, yakni pintu Dharma pelestarian lingkungan. Banyak relawan daur ulang yang akhirnya bertekad dan dilantik menjadi anggota komite ataupun Tzu Cheng. Jadi, pelestarian lingkungan menjadi salah satu pintu Dharma.
Saya sangat bersyukur kepada kalian yang begitu dekat di hati saya. Saat saya menyerukan untuk melakukan sesuatu, kalian tidak pernah bertanya, "Master, mengapa kita harus melakukan itu?" Kalian selalu berkata, "Kami akan melakukan semua yang Master katakan." Selama puluhan tahun ini, kalian sangat menghormati saya. Berkat rasa hormat kalian, saya dapat menjaga tekad pelatihan saya dengan baik.
Kini, saya telah berusia 90-an tahun. Berapa lama lagi sisa waktu saya? Saya sendiri merasa bahwa kehidupan saya bernilai. Saya telah memimpin kalian berjalan sejauh ini. Tzu Chi pun telah berjalan dengan stabil. Apa yang seharusnya dilakukan telah kita lakukan dengan baik. Di setiap wilayah, semua dilakukan dengan baik.
Saya sangat bersyukur para insan Tzu Chi selalu menjalankan misi Tzu Chi dengan baik, baik yang besar maupun yang kecil. Kalian juga tidak meremehkan benda-benda kecil. Hendaklah kita menghargai semua sumber daya alam. Jika kita merasa bahwa selembar kertas di lantai tidak ada gunanya, lalu mengabaikannya dan berjalan melewatinya, ia akan berubah menjadi sampah. Kita hendaknya menghargainya, memungutnya, dan merapikannya.
Selembar atau dua lembar kertas mungkin terasa ringan, tetapi jika ada setumpuk yang diikat menjadi satu, akan terasa berat saat diangkat. Jadi, jangan meremehkan dan mengabaikan sesuatu yang kecil. Sebaliknya, kita harus memandang penting segalanya. Yang terpenting, kita harus mengedukasi orang-orang untuk menghargai berkah.


Saya sering mengingatkan untuk menghargai berkah. Bagaimana cara kita menghargai berkah? Salah satunya dengan melakukan daur ulang. Jika barang-barang yang dibuang tidak didaur ulang, itu akan menjadi sampah yang dibakar dan mencemari udara. Jika kita mengumpulkan barang yang bisa didaur ulang, pencemaran udara pun akan berkurang. Jadi, kita hendaknya merenungkannya dengan baik.
Kertas diproduksi dengan menebang pohon. Kita hendaknya menghemat penggunaan kertas. Saya sering berkata bahwa secarik kertas dapat saya gunakan berulang kali. Pertama-tama, saya menulis dengan pensil. Kertas itu tidak saya buang dan kembali saya gunakan untuk menulis dengan pulpen. Lalu, saya belum juga membuangnya dan kembali menulis di atasnya dengan pulpen merah. Setelah itu, apa lagi yang saya gunakan? Mopit. Jadi, saya menggunakannya berulang kali, bagai memberi kertas itu kehidupan baru.
Kertas daur ulang bagaikan kertas yang diberi kehidupan baru. Secarik kertas ini bagai memiliki berbagai kehidupan. Demikianlah saya menghargai sumber daya. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Dengan menghargai sumber daya, kita memperpanjang usia barang. Menghargai sumber daya juga menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Ini juga merupakan pahala.
Saya sangat sukacita melihat kalian begitu tekun dan bersemangat. Saya bisa melihat kalian menghargai sumber daya dan bekerja sama dengan harmonis. Kerja sama yang harmonis di antara para insan Tzu Chi, inilah yang membuat saya paling sukacita.


Bodhisatwa sekalian, kalian adalah teman baik dan rekan pelatihan diri saya yang baik. Di Jalan Bodhisatwa, kita melatih diri bersama. Di ladang pelatihan Tzu Chi, kita mendukung pelatihan diri satu sama lain. Ini sungguh mengagumkan. Saya juga sangat bersyukur. Saya hanya berharap jiwa kebijaksanaan kita dapat diwariskan.
Kita semua akan menua. Kalian hendaknya tak hanya meneruskan jiwa kebijaksanaan saya. Jiwa kebijaksanaan kalian juga sangat bernilai. Hendaklah kalian mewariskannya kepada generasi penerus kita, bukan hanya anak cucu kalian, melainkan semua orang. Dahulu, kalian juga tidak mengenal saya. Kini, kalian sangat menghormati saya. Intinya, kita harus menghargai jiwa kebijaksanaan kita.
Kita memiliki jalinan jodoh baik yang istimewa untuk melatih diri bersama di jalan yang sama dengan tekad dan ikrar yang sama. Mari kita berikrar untuk selamanya memiliki kesatuan hati, menapaki jalan yang sama, dan berpegang pada ketekunan dan semangat yang sama. Dengan terus-menerus menapaki Jalan Bodhisatwa dari kehidupan ke kehidupan, menyucikan dunia tidaklah sulit.
Untuk menyucikan dunia, kita harus memulainya dari bersatu hati. Jika tidak, kita tidak akan kompak. Saat semua orang bersatu hati, barulah tanah suci di dunia bisa terwujud. Jika bisa menciptakan tanah suci dalam hati kita, kita secara alami dapat menginspirasi orang-orang untuk menciptakan tanah suci dalam hati mereka. Saat semua orang memiliki tanah suci di dalam hati, dunia ini pun akan menjadi tanah suci.
Jadi, mari kita bertekad untuk kembali ke dunia ini dari kehidupan ke kehidupan dan mempertahankan tekad pelatihan kita untuk mentransformasi dunia yang penuh kekeruhan menjadi tanah suci.
Pendidikan daur ulang mengajarkan untuk menghargai sumber daya
Mengembangkan potensi kebajikan dari kedua tangan yang bertepuk
Bersatu hati untuk menciptakan berkah dan memupuk kebajikan
Mentransformasi dunia yang penuh kekeruhan menjadi tanah suci
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 10 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 12 Oktober 2026







Sitemap