Ceramah Master Cheng Yen: Menghargai Waktu untuk Memupuk Karma Baik dan Mengikis Karma Buruk
“Beliau sudah berusia 73 tahun. Beliau juga menderita diabetes dan tubuhnya sangat lemah. Beliau dikenalkan oleh lembaga kesejahteraan sosial kepada Yayasan Tzu Chi. Setelah pekerja sosial kita memberi tahu kita hal ini, kita segera melakukan kunjungan kasih,” kata Liao Jin-de, relawan Tzu Chi.
“Saya sangat terharu karena belum pernah bertemu dengan relawan yang begitu perhatian. Mereka berkunjung dan membantu saya. Mereka bahkan membantu merapikan barang dan membersihkan rumah. Saya sungguh sangat terharu,” kata Nenek Zhou, penghuni.
“Kini, beliau tinggal di Sanxia. Setelah ini, kami akan menghubungi relawan setempat agar mereka dapat terus mencurahkan perhatian,” ungkap Liao Jin-de.
Tzu Chi telah berdiri selama 60 tahun. Sesungguhnya, seberapa besar pengaruh kita bagi masyarakat dan dunia? Bagaimanapun, kita tidak boleh tidak melakukan apa-apa. Kita tetap harus giat bersumbangsih. Melihat kembali apa yang telah kita lakukan, Tzu Chi sungguh telah membawa dampak yang sangat besar bagi Taiwan. Selama puluhan tahun ini, masyarakat kita sungguh mengalami banyak kemajuan.
Lebih dari 30 tahun yang lalu, kita mulai mempromosikan Kata Renungan Jing Si. Saat para anggota Asosiasi Guru Tzu Chi kembali ke sini, saya melihat bahwa mereka telah lanjut usia. Saat mereka berhimpun di sini dan berbagi pengalaman, semuanya penuh kehangatan. Pada masa itu, guru-guru sangat ketat dan tegas. Setelah mempelajari Kata Renungan Jing Si dan mengenal Tzu Chi, para guru yang tadinya menggenggam rotan erat-erat mulai melepas rotan dan mengulurkan kedua tangan untuk merangkul anak-anak dengan penuh cinta kasih.

Dahulu, meski pendidikan cinta kasih juga digalakkan, tetapi tetap ada guru yang menggunakan rotan. Kemudian, Kata Renungan Jing Si mulai disebarkan dari guru ke guru. Saat itu, demi pendidikan, kita mendirikan Asosiasi Guru Tzu Chi. Inilah yang disebut membina berkah dan kebijaksanaan sekaligus. Keduanya bagaikan kedua kaki yang kita butuhkan untuk berjalan. Ada pula yang ingin memberikan pendidikan cinta kasih, tetapi kekurangan partner dalam hal ini. Jadi, dibutuhkan partner untuk menghimpun kekuatan bersama. Karena itu, kita hendaknya senantiasa bekerja sama.
Saya sering menunjukkan gerakan ini yang berarti "bersatu". Setelah menyatukan kedua tangan seperti ini, harus ada "mulut" di bawahnya. Jadi, hendaklah kita menjadi orang baik yang bertutur kata baik dan berbuat baik. Untuk itu, kita harus menyatukan hati. Mari kita membangkitkan kembali tekad awal kita dahulu.
Saya sendiri pun merasakan bahwa sesuai hukum alam, saya terus menua seiring berjalannya waktu. Lebih dari dua pertiga kehidupan saya telah berlalu. Waktu saya mungkin saja hanya tersisa sepersepuluh dari kehidupan saya.Jika mengupas lebih dalam lagi tentang prinsip kebenaran, mungkin saja waktu saya habis dalam hitungan detik. Inilah yang disebut ketidakkekalan.
Ketidakkekalan bisa datang dalam sekejap. Detik demi detik terus berlalu. Satu detik hanya sekejap. Akumulasi detik demi detik inilah yang memberi kita kehidupan. Enam puluh detik sama dengan satu menit. Beruntung, 60 detik ini terus bersambung dan 60 menit pun terus bersambung. Enam puluh menit sama dengan satu jam. Satu hari terdiri atas 24 jam.
Jadi, satu hari terdiri atas 86.400 detik. Selama puluhan tahun ini, saya sering menyebut 86.400 detik ini untuk mengingatkan orang-orang tentang kedaruratan usia kehidupan yang terus berkurang. Sesungguhnya, masyarakat dan dunia juga berada dalam kondisi darurat seiring berjalannya waktu. Jadi, hendaklah kita meningkatkan kewaspadaan.

Kita harus percaya terhadap karma kolektif semua makhluk. Karma kolektif kita terakumulasi dari kehidupan ke kehidupan, bukan 80 atau 100 tahun dalam satu kehidupan saja. Bukan demikian. Dari kehidupan ke kehidupan, karma ini terus terakumulasi.
Setelah seseorang meninggal dunia, kita tidak tahu apakah dia akan tetap terlahir sebagai manusia di kehidupan berikutnya. Manusia bisa berbuat baik, juga bisa berbuat jahat. Berbuat baik berarti menjalin jodoh baik. Dengan pengetahuan, kita bisa membedakan dan menilai apa yang bermanfaat bagi dunia. Jika timbul sebersit pikiran yang keliru, kita juga bisa merugikan dunia.
Hal yang bermanfaat bagi dunia hendaknya terus-menerus kita lakukan. Dengan demikian, barulah dunia ini dapat berubah. Namun, sebersit pikiran buruk yang terbangkitkan juga bisa membawa kerugian bagi dunia. Dengan kemajuan teknologi sekarang, sebersit pikiran atau satu ketukan jari saja mungkin bisa menimbulkan krisis global. Krisis global sering kali berawal dari pikiran segelintir orang.
Kita hendaknya menghargai waktu dan kehidupan. Dengan adanya waktu, barulah kita bisa memupuk jodoh baik. Jika tidak, saat ketidakkekalan datang, kesempatan itu pun tidak akan ada lagi. Jadi, kesempatan tidak akan selalu menanti kita.

Hendaklah kita menggenggam setiap momen untuk mewujudkan dunia yang penuh kebajikan. Saya sering mengulas tentang waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia serta empat fase perubahan dari tiga fenomena. Tubuh kita mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Pikiran kita yang diliputi ketamakan, kebencian, dan kebodohan juga mengalami empat fase. Untuk membuat selembar kertas, juga dibutuhkan bubur kertas yang berasal dari pohon. Jika di atas kertas ini ditulis pesan untuk "menghancurkan", mungkin akan ada yang mengalami kehancuran.
Namun, jika pesannya tentang "pertolongan darurat", mungkin banyak orang menderita yang akan tertolong. Jadi, sebersit niat sangatlah penting. Singkat kata, baik atau buruknya berbagai hal bergantung pada sebersit niat. Dengan kebijaksanaan, kita hendaknya waspada dan menentukan pilihan yang tepat. Semuanya saling berkaitan.
Ketika seseorang berbicara, kita hendaknya merespons dengan hati-hati. Jika kita menyambut tutur kata baik, kekuatan orang baik akan meningkat. Namun, jika kita menyambut tutur kata buruk, kekuatan orang jahat juga akan meningkat. Intinya, kita harus waspada. Kita harus mengerahkan kebijaksanaan dan senantiasa membinanya.
Mengubah pola pikir dengan Kata Renungan Jing Si
Melepas rotan dan menghimpun kekuatan cinta kasih
Menghargai waktu dan senantiasa waspada akan ketidakkekalan
Memupuk karma baik, mengikis karma buruk, dan mengakumulasi jodoh berkah
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 21 Agustus 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 23 Agustus 2026







Sitemap