Ceramah Master Cheng Yen: Menginventarisasi Kehidupan dengan Tekad yang Tak Tergoyahkan
“Tidak ada yang istimewa dari saya. Saya hanya melakukan hal yang benar. Terima kasih, Master,” kata Ma Chang-cheng, relawan Tzu Chi.
“Master berpesan pada kita untuk menjaga rumah kita dengan baik. Saya pun menjaganya dengan sungguh-sungguh. Di sini, saya telah menjalin banyak jodoh baik. Saya akan bersungguh-sungguh menjaga rumah kita ini. Mohon Master tenang,” kata Lin Yong-xiang, relawan Tzu Chi.
“Master mengimbau orang-orang untuk melakukan daur ulang dengan kedua tangan yang bertepuk. Sejak itulah, saya mulai melakukannya di rumah saya. Banyak orang yang datang untuk melakukannya bersama hingga dipenuhi sukacita,” kata Dai Huang Rui-zhen, relawan Tzu Chi.
“Kemudian, saat depo daur ulang didirikan di Aula Jing Si kita, saya pun diminta untuk menjadi pengurus di sini. Saya bersumbangsih dengan tekun di sini. Pagi-pagi sekali, para relawan kita sudah datang untuk bersumbangsih. Berhubung khawatir mereka belum makan, saya pun memasak sepanci besar bubur asin setiap hari,” pungkas Dai Huang Rui-zhen.
Saya sangat bersyukur kepada kalian yang bersungguh hati menjalankan Tzu Chi dan selalu merespons seruan saya. Saat saya menyerukan untuk melakukan sesuatu, tidak pernah ada yang bilang jangan ataupun tidak mau. Saat saya menyerukan sesuatu, kalian selalu menjalankannya. Karena itulah, Tzu Chi bisa seperti sekarang.
Tzu Chi bukan hanya bersumbangsih di Taiwan, melainkan di seluruh dunia. Jadi, saat orang-orang berbicara tentang Tzu Chi, kalian hendaknya berkata bahwa kalian adalah insan Tzu Chi dan jiwa kebijaksanaan kalian bertumbuh di Tzu Chi. Kalian menjalankan Tzu Chi dengan sepenuh hati. Saya sangat bersyukur.
Jangan sejenak pun berhenti menjalankan Tzu Chi. Detik dan menit terus berlalu. Sama seperti kalian, usia kehidupan saya juga terus berkurang seiring berlalunya waktu. Jadi, marilah kita menginventarisasi kehidupan masing-masing. Saya sering mengingatkan hal ini.


Setiap hari, saya mengenang apa yang telah kita lakukan dahulu. Pada masa tertentu, siapa yang segera mendedikasikan diri dengan kesungguhan hati dan mengerahkan tenaga dengan penuh cinta kasih? Seiring waktu, kalian, saya, dan mereka telah meninggalkan jejak cinta kasih. Jadi, mereka, saya, dan kalian telah menapaki jalan yang sama selama ini.
Kita telah melihat pemandangan sepanjang perjalanan ini. Saya ingin kalian semua mengenang masa lalu seperti yang saya lakukan. Setiap periode harus kita kenang kembali. Di masa lalu, apa yang telah kita lakukan bagi dunia ini? Kita harus menghargai jiwa kebijaksanaan kita dan mendokumentasikan apa yang telah kita lakukan.
Kini, kita harus segera menulis sejarah kehidupan kita. Pahlawan muncul karena dibutuhkan. Bodhisatwa menapaki Jalan Bodhisatwa demi orang-orang yang membutuhkan. Tanpa orang-orang yang membutuhkan, tidak akan ada Jalan Bodhisatwa. Berhubung ada yang membutuhkan, maka ada yang bersumbangsih. Merekalah yang disebut Bodhisatwa.
Karena itulah, saya sering menyebut kalian "Bodhisatwa". Kalian semua memiliki nama yang sama, yaitu "Bodhisatwa". Kita semua adalah satu kesatuan. Saya menyebut kalian sebagai Bodhisatwa dan saya pun termasuk di dalamnya. Sebagai sesama Bodhisatwa, kita merupakan satu kesatuan. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)

Bersumbangsih bersama sebagai Bodhisatwa dapat menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Datang ke sini, saya sangat sukacita melihat kalian. Kalian sudah sangat senior. Melihat para Bodhisatwa senior kita masih sehat, saya sangat gembira. Selain itu, dengan melihat kalian, saya juga teringat akan masa lalu.
Jangan membiarkan otak kita menganggur. Kita harus terus menggerakkan otak kita. Jangan membiarkan sel otak kita tertidur. Kita sungguh harus menginventarisasi kebaikan yang telah kita lakukan dalam hidup kita. Hendaklah kalian bersungguh hati menulisnya.
Kini, yang membuat saya paling sukacita ialah menerima buku berisi kisah kehidupan kalian. Kalian harus bersungguh-sungguh mencatat sejarah kehidupan kalian agar saya dapat membacanya.
“Ini tentang kisah kehidupan Kakak Jin-yue. Beliau selalu berani mengemban tanggung jawab. Jika ada yang tidak bisa, beliau akan belajar hingga bisa. Asalkan sesuatu itu benar, maka lakukan saja,” kata Xu Cai Hui-lian, relawan Tzu Chi.
“Sejak kecil, beliau hidup kekurangan. Beliau tidak lulus SD karena harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Saat beliau berusia 30 tahun, suaminya tiga kali terkena strok dan terbaring di ranjang selama 10 tahun sehingga beliau harus merawat suaminya sekaligus membesarkan anak mereka. Setelah suaminya meninggal dunia, lewat tetangganya, beliau mengenal Tzu Chi,” lanjut Xu Cai Hui-lian.
“Saat tahu bahwa Master hendak membangun rumah sakit, beliau sangat tersentuh dan mulai menggalang dana. Selama menggalang dana, beliau tetap harus menafkahi keluarganya. Anaknya sangat berbakti dan selalu memberikan dukungan. Baik untuk pembangunan rumah sakit, penyaluran bantuan bencana, maupun bazar amal, anaknya selalu sangat mendukung,” pungkas Xu Cai Hui-lian.

Menapaki Jalan Bodhisatwa merupakan cara berbuat baik yang selamanya tak akan berubah. Hendaklah kalian membagikan kisah kalian kepada anak-anak kalian. Ini akan menjadi warisan keluarga kalian. Perbuatan kita yang baik dan benar akan menginspirasi keluarga dan generasi penerus kita. Semua itu merupakan kisah kebajikan di dunia.
Melihat para Bodhisatwa lansia kita, saya sungguh sangat sukacita. Saya juga mendengar kalian berbagi kisah kehidupan masing-masing. Kalian menceritakan kapan kalian bergabung di Tzu Chi, apa jalinan jodoh yang membawa kalian ke Tzu Chi, dan apa saja yang telah kalian lakukan di Tzu Chi.
Saya sering berkata bahwa kita harus menulis sejarah kehidupan kita agar bisa diwariskan hingga selamanya. Dengan mencatat sejarah kehidupan kita, anak cucu kita akan tahu bagaimana kita menjalankan Tzu Chi dan apa yang telah Tzu Chi lakukan. Mereka juga bisa menceritakannya kepada orang lain. Apa yang kita lakukan sekarang telah menginspirasi banyak orang. Ini termasuk membimbing orang-orang. Jadi, kita harus memandang penting buku ini. Buku ini berisi sejarah kehidupan kita.
Mari kita terus bersumbangsih dan mencatat sejarah kehidupan kita. Kita harus mencatat sejarah kehidupan kita. Ini merupakan kesempatan yang sangat langka. Saya selalu menaruh harapan terhadap keluarga besar Tzu Chi. Tzu Chi telah tersebar dari Taiwan ke dunia internasional. Dengan begitu banyak insan Tzu Chi di seluruh dunia, kita bisa menyusun sejarah keluarga besar Tzu Chi. Semua insan Tzu Chi adalah murid saya. Sebagai sebuah keluarga besar, mari kita mencatat sejarah kita.
Tzu Chi ada berkat kalian semua. Kita semua adalah insan Tzu Chi. Kita harus menulis sejarah Tzu Chi. Kalian juga harus mencatat sejarah kehidupan kalian agar semua itu bisa didokumentasikan. Jika kalian enggan menulisnya, siapa yang bisa mengetahui kisah kalian? Tulislah kisah kehidupan kalian agar dapat disusun dalam sejarah Bodhisatwa Tzu Chi.
Menjalankan Tzu Chi dengan sepenuh hati
Menginventarisasi kehidupan dengan tekad yang tak tergoyahkan
Menulis sejarah dan mewariskan kebajikan dalam keluarga
Mempertahankan niat baik dan meneruskan jalinan jodoh Dharma
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 08 Agustus 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 10 Agustus 2026







Sitemap