Ceramah Master Cheng Yen: Mengubah Pola Pikir dan Mewariskan Dharma

“Saya adalah seorang ibu yang sangat buruk. Dahulu, karena gemar berjudi, saya sering berjudi siang dan malam,” ucap Yang Bi-yun membuka cerita.

“Saat anak saya masih kecil, karena mengantuk, saya menyeduh bedak bayi untuk anak saya karena mengira itu susu bubuk. Suatu kali, adik saya mengajak saya untuk berwisata. Ternyata, dia membohongi saya untuk naik kereta Tzu Chi. Dalam perjalanan pulang, saya bertemu Kakak Huang Xiu-lan. Saat itu, dia berkata pada saya, ‘Baguslah kalau Anda punya mobil. Bisakah Anda mengantarkan kami untuk melakukan survei kasus?’ Saya berkata, ‘Tentu saja bisa.’,” lanjutnya.

“Saat itu, kami mengunjungi Bapak Qiu Shi-hong. Saya sangat terkejut melihat kondisinya yang begitu memprihatinkan. Saat saya yang memiliki tubuh yang sehat melihat kondisi Bapak Qiu Shi-hong, saya sadar bahwa saya harus bersungguh-sungguh menjalani hidup ini. Suatu kali, dalam rapat tim, Kakak Ai juga hadir. Dia berkata, ‘Apakah kamu ingin ikut melakukan daur ulang?’ Jadi, Kakak Ai mengajak saya untuk melakukan daur ulang. Saat itu, saya juga membohongi anak ayam saya, Kakak Huang Zhao-jin. Saya berkata padanya, ‘Ikutlah dalam pelatihan. Itu benar-benar bagus. Untuk itu, Anda harus menaati sepuluh sila.’ Dia berkata, ‘Aduh, saya tidak bisa berhenti dari minuman keras, saya harus bagaimana?’ Saya berkata padanya, ‘Master mengatakan bahwa dengan berpura-pura, lama-kelamaan akan menjadi sungguhan.’ Ini jugalah yang dia alami. Ada pula anak ayam lain yang kecanduan narkoba. Berhubung khawatir dia kembali mengonsumsi narkoba, saya pun segera mengajaknya,” cerita Yang Bi-yun.

“Kakak Bi-yun sangat bersungguh hati dan memperhatikan saya. Dia menjaga saya dengan ketat. Sekejap saja tidak melihat saya, dia akan mencari saya. Dia sangat bersungguh hati dan memperhatikan saya. Jadi, saya pun tidak mengecewakannya,” timpal Lin Yu-zheng.

“Saya sendiri gemar berjudi dahulu. Jadi, kami bertiga yang masing-masing punya kebiasaan buruk ini telah didaur ulang oleh Master. Kini kami akan bersungguh-sungguh menjalani kehidupan kami dan melakukan hal yang bermanfaat bagi semua makhluk,” kata Yang Bi-yun.


Tadi, kita mendengar tentang pecandu narkoba, pejudi, dan pemabuk. Namun, kini mereka telah menjadi Bodhisatwa dunia. Jadi, dengan mengubah pola pikir saja, seseorang bisa menjadi Bodhisatwa. Semua orang hendaknya bisa mengubah pola pikir.

Manusia menciptakan banyak karma buruk lewat makanan yang dikonsumsi. Banyak racun yang masuk melalui mulut.

Bodhisatwa sekalian, apakah kalian tahu apa pelajaran terbesar di dunia ini? Makanan. Kita hendaknya mengonsumsi makanan yang bermanfaat bagi kesehatan kita dan cukup untuk kebutuhan gizi kita. Karena itulah, saya berkata bahwa kita harus beranjali untuk bertobat kepada langit dan bersyukur kepada bumi. Mengapa kita harus bertobat kepada langit? Lihatlah, setiap hari, mulut manusia mengonsumsi lebih dari 220 juta ekor hewan. Benar, lebih dari 200 juta ekor hewan. Kalian semua mengetahui angka ini. Kalian harus mengingat atau mencatatnya untuk berbagi dengan orang-orang. Dengan membunuh begitu banyak hewan setiap hari, manusia telah menciptakan karma buruk.

Manusia menelan nyawa hewan-hewan itu. Ini disebut karma buruk kolektif semua makhluk. Arwah hewan-hewan itu tengah menanti kesempatan untuk menuntut balas. Inilah karma buruk kolektif semua makhluk yang bisa mendatangkan bencana.


Saat ini, ada banyak masalah yang terjadi. Pandemi Covid-19 belum mereda. Pandemi ini menyelimuti seluruh dunia. Manusia tidak bisa menghentikannya. Satu-satunya cara ialah bervegetaris. Selama puluhan tahun, tepatnya lebih dari setengah abad sejak saya mendirikan Tzu Chi, saya ingin mengulas tentang vegetarisme, tetapi tidak memiliki kesempatan, juga merasa bahwa hanya akan dianggap angin lalu. Kini saya berkata bahwa bervegetaris itu harus. Jadi, Bodhisatwa sekalian, berusahalah untuk bervegetaris.

Saya tidak berani meminta kalian untuk sepenuhnya bervegetaris. Jika setiap orang dapat bervegetaris, maka dunia akan damai dan masyarakat akan terbebas dari bencana. Saya berharap semua orang bisa melakukannya, tetapi ini tidaklah mudah. Meski demikian, insan Tzu Chi hendaklah mengerahkan segenap hati dan tenaga. Apakah kalian mengerti? (Mengerti)

Sesungguhnya, bervegetaris sangatlah mudah dan bukan hal yang mustahil. Setiap orang cukup menunaikan kewajiban masing-masing. Asalkan kalian dapat mendengar ceramah saya yang saya berikan dengan mengerahkan segenap energi saya, saya berharap kalian dapat menggenggam jalinan jodoh ini.


Pada abad ini, saya sangat beruntung bisa hidup di ruang dan waktu ini dengan begitu banyak orang yang memiliki jalinan jodoh baik untuk mendengar ceramah saya. Kehidupan saya tidak sia-sia. Para relawan kita selalu berkata, “Demikian yang Master katakan, demikian pulalah yang kami lakukan.” Saya sungguh merasa bahwa tiada penyesalan dalam kehidupan saya ini. Kehidupan saya tidak sia-sia. Jadi, demikianlah saya akan senantiasa berada di dunia ini.

Jika ajaran saya terus diwariskan, jiwa kebijaksanaan saya selamanya tak akan hilang. Tubuh yang berwujud ini tidaklah kekal. Saya sudah sangat bekerja keras. Kalian juga harus menghargai jalinan jodoh dan berpegang pada ajaran saya. Saya mengerahkan banyak tenaga untuk berbicara. Saya menguras energi saya untuk memberikan ceramah pada kalian. Karena itu, kalian harus menghargai jalinan jodoh.

Waktu terus berlalu. Waktu dapat mendukung segala pencapaian. Jika kita sungguh-sungguh menggenggam waktu, hari ini akan penuh makna dan menjadi sejarah. Jadi, kita harus menggenggam waktu dan menghargai jalinan jodoh. Jika tidak, seiring berlalunya sehari, usia kehidupan kita juga berkurang sehari.


“Master pernah berkata bahwa kehidupan yang paling bernilai ialah dapat bersumbangsih bagi dunia. Meski saya menderita penyakit, tetapi bisa bersumbangsih sehari, berarti saya untung sehari. Saya ingin terus menjadi orang yang bisa bekerja sama dengan orang lain dan mengembangkan potensi terbesar dari kehidupan saya,” tutur Fang Qiu-ling.

“Berhubung pernah mengalami penderitaan, saya semakin menghargai Jalan Tzu Chi. Master pernah berkata bahwa saat satu kaki melangkah, kaki lain harus ikut melangkah. Kita juga harus mengubah pola pikir. Kini saya tidak bersedih dan menderita lagi. Berhubung menderita penyakit, saat bangun setiap pagi, hal pertama yang saya lakukan ialah meminum obat. Namun, ini tidak menggoyahkan tekad saya. Sebaliknya, tekad saya semakin teguh. Usia kehidupan manusia terbatas. Saya akan menggenggam waktu untuk bersumbangsih dan bersungguh-sungguh menapaki Jalan Bodhisatwa,” lanjutnya.

Saudara sekalian, setiap hari, detik demi detik terus berlalu. Kita harus memanfaatkan setiap detik yang ada. Janganlah menyia-nyiakan waktu. Belajarlah dari saya. Saya jarang bercanda, tetapi saat saya melakukannya, itu pun bukan kata-kata kosong. Meski sedang bercanda untuk membuat orang-orang lebih rileks, saya tetap ingin mengatakan sesuatu yang nyata.

Jadi, Bodhisatwa sekalian, kita harus menggenggam waktu. Terima kasih, Bodhisatwa sekalian. Kalian harus tekun dan bersemangat melatih diri. Jangan lengah dan teruslah menapaki Jalan Bodhisatwa untuk membina berkah dan kebijaksanaan sekaligus.  

Mengubah pola pikir untuk mencapai kebuddhaan
Membawa manfaat bagi semua makhluk dengan pelajaran besar tentang makanan
Tiada penyesalan dalam kehidupan ini jika dapat meneruskan jiwa kebijaksanaan
Menggenggam setiap detik yang ada dan tidak mengucapkan kata-kata kosong

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 27 Maret 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 29 Maret 2021
Memberikan sumbangsih tanpa mengenal lelah adalah "welas asih".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -