Ceramah Master Cheng Yen: Mengukir Kitab Sejarah Tzu Chi di Tengah Masyarakat


“Banyak pasien yang pernah berkata bahwa mereka sangat bosan di sini. Awalnya, kami mungkin agak canggung. Namun, setelah memahami mereka, kami pun tahu dari sisi mana kami harus mengobrol dengan mereka,”
kata Su Mei-ying, relawan Tzu Chi.

“Kami menyapa pasien dan mengobrol dengan mereka,” kata Zhu Yue-e, relawan Tzu Chi.

“Orang-orang mungkin mengira semua aktivitas seperti ini sangat mudah, benar tidak? Namun, ia dapat membawa perubahan besar. Suasana hati pasien menjadi lebih baik dan gembira. Suasana hati yang baik dan gembira dapat mendukung proses pemulihan mereka. Sesungguhnya, relawan membawa banyak kehangatan,” kata Teng Min-zi, Manajer sukarelawan RS Khoo Teck Puat.

“Kami memainkan peran sebagai pendengar dan pendamping,” kata Du Jin-qiang, relawan Tzu Chi.

“Tadi, saya mengobrol dengan seorang pasien lansia. Dia bercerita pada saya sambil menangis hingga wajahnya penuh dengan air mata. Setelah mengobrol dengan saya, dia dapat mengeluarkan semua emosinya,” kata Liao Xiu-tian, relawan Tzu Chi.

Dapat turut merasakan kepiluan dan penderitaan orang lain, ini disebut berempati. Ini membutuhkan ketulusan. Saya sering berkata bahwa ketulusan sangatlah berharga. Sebuah aksi kecil dapat membantu orang membuka pintu hati dan mengeluarkan kepiluan mereka. Mereka merasa lega, kita juga menciptakan pahala. Aksi ini lebih berharga daripada memberi mereka angpau. Jadi, sikap kita sangatlah penting, terlebih dalam menghadapi semua orang dan hal. Dalam menghadapi semua hal dan orang, kita harus tulus. Jika setiap orang di tengah masyarakat bisa demikian, masyarakat akan harmonis, negara pun akan sejahtera dan damai.


Saudara sekalian, saat berdoa kepada Buddha, kita hendaknya tak hanya mendoakan ketenteraman diri, melainkan mendoakan kedamaian dunia. Jika dunia tidak damai, bagaimana bisa kita aman dan tenteram? Jika dunia damai, kita tentu bisa hidup aman dan tenteram. Jadi, hendaklah kita berjuang untuk ketenteraman orang banyak dan mengajak orang-orang untuk berbuat baik bersama. Prinsip ini terdengar sangat sederhana, juga tidak sulit untuk dijalankan. Bagaimana cara kita menjalankannya? Sering-seringlah menonton Da Ai TV.

Setiap hari, selain beberapa kali ceramah saya, Da Ai TV juga menyiarkan kisah-kisah tentang orang baik yang berbuat baik. Da Ai TV menyiarkan apa yang Tzu Chi lakukan di seluruh dunia. Apa yang Tzu Chi lakukan setiap hari di seluruh dunia, kita bersungguh hati melihat dan menyiarkannya. Kita bisa melihat orang baik yang berbuat baik dan perkembangan dunia. Ini dapat meningkatkan pengetahuan kita. Jadi, menyaksikan Da Ai TV membuat hati kita menjadi tenang.

Dengan mendengar lebih banyak Dharma dan menyimpannya di dalam ingatan kita, saat bertemu dengan orang yang diliputi kerisauan, kita dapat segera mencari ajaran di dalam ingatan kita untuk melenyapkan penderitaan mereka. Dharma yang kita dengar dan lihat hendaknya senantiasa kita ingat dan kita jadikan sebagai perumpamaan untuk membimbing orang dan melenyapkan penderitaan. Inilah yang disebut kebijaksanaan. Inilah yang disebut menyebarkan Dharma. Jadi, semudah itu untuk memperoleh kebijaksanaan di tengah masyarakat.

Lalu, bagaimana menciptakan dan memperoleh berkah? Itu tetap harus dilakukan di tengah masyarakat. Ajaran kebajikan yang kita peroleh di tengah masyarakat hendaknya kita teruskan kepada orang yang membutuhkan. Kita memiliki Dharma yang berlimpah. Asalkan bersedia melakukan praktik nyata, kita akan mengenal banyak orang dan tahu bahwa terdapat banyak penderitaan di dunia ini. Semua itu bagaikan Sutra.


Saya beri tahu, Sutra ada di tengah masyarakat. Sutra ada di dalam hati dan pikiran kita. Dengan bersungguh hati melihat orang-orang, mendengarkan mereka, dan bersikap penuh pengertian, berarti kita telah menyerap ajaran Sutra ke dalam hati dan menyimpannya di dalam ingatan kita. Saat melihat penderitaan di dunia, kita dapat langsung menggunakan ajaran yang kita pelajari. Demikianlah kita mewariskan ajaran Sutra.

Nilai saya ialah mewariskan ajaran Sutra kepada orang-orang. Karena itulah, saya berkata bahwa kini saya sangat berharap setiap orang dapat menulis kisah kehidupan masing-masing. Saya menantikan kitab sejarah Tzu Chi. Kita hidup di era yang teknologinya sangat maju. Kalian telah mengikuti langkah saya puluhan tahun. Untuk tempat-tempat yang tidak bisa saya jangkau, kalian telah menggantikan saya untuk menjangkaunya. Untuk hal-hal yang tidak bisa saya lakukan, kalian pun telah menggantikan saya untuk melakukannya. Jadi, hal yang kalian lakukan lebih banyak dari saya.

Terkadang, saya juga mendengarkan kisah orang lain. Saya mendengar ajaran Sutra dari mereka. Setiap keluarga memiliki Sutra dan setiap orang memiliki kebijaksanaan. Saat diliputi kerisauan dan penderitaan, mereka pun bercerita pada saya. Karena itulah, saya mengetahui dan memahami banyak hal. Saya telah melihat banyak Sutra di dunia sehingga ada banyak ajaran yang bisa saya bagikan.


Saya ingin memberi tahu kalian bahwa kita meneladan Buddha agar dapat membuka pintu hati dan merasakan penderitaan orang-orang. Dari sudut pandang ajaran Buddha, semua penderitaan hidup merupakan prinsip kebenaran di dunia. Buddha datang ke dunia dan membabarkan kebenaran tentang penderitaan. Beliau juga mengajarkan tentang ketidakkekalan.

Bagaimanapun kita mengasihi seseorang, itu hanya bertahan puluhan tahun. Jarang ada orang yang bisa mengasihi seseorang hingga 100 tahun lebih. Karena itu, kita hendaknya menghargai cinta kasih antarmanusia. Cinta kasih terhadap sesama sangatlah penting. Bodhisatwa juga disebut makhluk dengan cinta kasih berkesadaran. Makhluk dengan cinta kasih berkesadaran telah menyerap ajaran Buddha ke dalam hati.

Kita telah mendengar banyak prinsip kebenaran, juga telah menyerapnya ke dalam hati. Terkadang, saat mendengar orang mengatakan sesuatu atau melihat sesuatu, kita dapat mengalihkan topik pembicaraan ke ajaran Buddha. Setelah memahami kebenaran, kita dapat menggunakannya untuk membimbing orang lain. Inilah kebijaksanaan. Dengan mengubah penderitaan menjadi kebijaksanaan, berarti kita mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan. Kebijaksanaan membuat kita bahagia. Inilah prinsip kebenaran.

Memberikan pendampingan dengan ketulusan dan rasa empati
Membentangkan jalan dengan cinta kasih agung dan mendoakan keharmonisan
Mendengar Dharma untuk mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan
Mengukir kitab sejarah Tzu Chi di tengah masyarakat

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 04 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 06 Maret 2026
Kesuksesan terbesar dalam kehidupan manusia adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -