Ceramah Master Cheng Yen: Menjalankan Ikrar Bodhisatwa dan Menyatu dengan Hati Buddha
“Kebaikan sekolah terhadap kami sangatlah mendalam. Kami bertanggung jawab untuk membalas kebaikan ini. Sejak kami duduk di kelas 3, 4, atau 5 SD, sekolah mengajari kami untuk membina kemurahan hati dan membalas budi. Setelah lulus kuliah, saya berharap dapat sepenuh hati mendedikasikan diri untuk mendukung yayasan atau murid-murid di sekolah. Niat ini akan selamanya terukir di dalam hati saya,” kata Muhammed Shahood, Alumnus Sekolah Internasional El Menahil.
“Usul saya untuk bersumbangsih sebagai relawan mendapat respons hangat dan persetujuan dari teman-teman. Saya ingin berkontribusi semampu saya bagi Sekolah Internasional El Menahil. Baik kontribusi besar maupun kecil, itu sangat bermakna bagi kami. Upaya kecil kami kali ini merupakan wujud rasa terima kasih kami terhadap sekolah,” Omran Daoud, Alumnus Sekolah Internasional El Menahil.


Saya sungguh bersyukur dan merasa bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia. Kehidupan memang demikian. Hanya demikian. Namun, kisah kehidupan setiap orang tidak habis untuk diceritakan seumur hidup. Inilah nilai kehidupan setiap orang. Awalnya, Tzu Chi hanyalah sebuah organisasi kecil. Tiba-tiba, kondisi masyarakat berubah. Perubahan iklim di seluruh dunia merupakan perkara besar. Ketika kita terlibat di dalamnya, setiap hal merupakan perkara besar dan penuh tantangan. Jika tidak terlibat, ini tidak berkaitan dengan kita. Namun, begitu terlibat, setiap langkah penuh kesulitan. Namun, begitu terlibat, setiap langkah penuh kesulitan.
“Saya sangat tertarik terhadap sejarah Tzu Chi. Untuk pementasan tahun ini, kita terlebih harus menampilkan setiap peristiwa dengan jelas. Kita harus menunjukkan setiap peristiwa dengan jelas dan tepat. Kita berharap bukan hanya insan Tzu Chi yang tahu jelas, melainkan semua orang yang hadir. Karena itulah, seluruh anggota tim terus berjuang hingga malam hari. Sejak bulan Maret, kami menerima tugas untuk menampilkan kisah bencana Topan Haiyan di Filipina. menampilkan kisah bencana Topan Haiyan di Filipina. Dalam proses mengumpulkan data, kami mendapati bahwa Master sungguh sangat bijaksana. Beliau mengusulkan program bantuan lewat pemberian upah untuk memulihkan sendi kehidupan setempat. Terakhir, saya ingin berkata kepada Master bahwa saya sangat setuju dengan ajaran Master, yakni asalkan sesuatu itu benar, maka lakukan saja,” Huang Li-ting, Relawan Tzu Chi.
Bencana Topan Haiyan di Filipina menimbulkan dampak yang sangat serius di Tacloban. Pemerintah setempat hampir meninggalkan kota tersebut. Saat mendengar kabar ini, saya sangat khawatir dan berkata bahwa kota itu tidak boleh ditinggalkan. Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kita harus mengerahkan segenap hati dan tenaga. Jadi, kita memutuskan untuk memberikan bantuan di Filipina. Berkat dukungan Francis, Henry, dan beberapa pengusaha setempat lainnya, barulah penyaluran bantuan bisa berjalan lancar. Yang maju ke garis depan ialah Alfredo, Manuel, Michael, dan beberapa relawan lainnya. Intinya, mengenang masa lalu dan melakukan inventarisasi, saya merasa bahwa ini sungguh terasa mustahil. Sungguh tidak terbayangkan.

Ajaran Buddha sering menyebut "tidak terbayangkan". Namun, tidak ada yang tidak terbayangkan. Untuk menyalurkan bantuan di sana, kita menggerakkan banyak orang. Area yang sangat luas itu berisiko menjadi kota yang ditinggalkan. Saat itu, saya berani berkata, "Jangan, kita harus menolong mereka." Atas dasar apa saya berkata demikian? Kini, saat memikirkannya kembali, saya juga merasa sungguh tidak terbayangkan. Saya juga sangat bersyukur kepada Michael yang saat itu masih sangat muda. Saat itu, dia benar-benar sepenuh hati mendedikasikan diri di sana.Dia bersumbangsih di sana siang dan malam. Saat itu, anggota Tzu Cheng di Taiwan juga sangat bekerja keras. Mereka bergerak untuk membuat dan membeli material rumah rakitan sementara. Ada banyak orang yang berhimpun di Sanxia.
Di Sanxia, bahkan satu sekrup pun harus dihitung dengan jelas. Kami harus menghitung semuanya dengan jelas, baru mengirimkannya ke Filipina agar mudah untuk dipilah dan dipasang. Jika membahas tentang kesungguhan hati, inilah kesungguhan hati. Jika membahas tentang pengerahan upaya, inilah pengerahan upaya terbesar. Jika membahas tentang ketulusan, dalam jangka panjang, para relawan kita selalu dengan sabar membuat dan menghitung semua suku cadang. Pengiriman dari Taiwan ke Filipina juga membutuhkan upaya besar. Kini, jika dipikirkan kembali, itu sungguh terasa mustahil. Namun, pada kondisi darurat, tidak ada yang membuat kita gentar. Saya merasa bahwa kita harus melakukannya. Yang saya pikirkan hanyalah itu harus dilakukan dan harus berhasil. Jadi, semuanya bermula dari sebersit tekad.
Sesungguhnya, saya juga menyadari bahwa saat saya membangkitkan sebersit tekad dan menyerukannya, semua orang akan mendukung saya. Karena itulah, saya sangat bersyukur kepada Taiwan. Setiap orang memiliki cinta kasih dan kekuatan terpendam yang tidak terbayangkan. Setiap orang adalah Bodhisatwa. Dengan hati Bodhisatwa, barulah kita bisa mengerahkan kekuatan Bodhisatwa. Ini sungguh tidak mudah.
Menyusun Kitab Sejarah Tzu Chi
Mengenai kisah-kisah di masa lalu, saya berharap para relawan kita dapat menyusunnya kembali. Apa pun yang telah kita lakukan, meski sangat kecil, kita tetap harus mencatat dan menyusunnya. Hendaklah kita mencatatnya dengan jelas. Dengan demikian, dokumentasi dalam bentuk teks ini juga akan menjadi kitab sejarah Tzu Chi kelak. Kitab sejarah Tzu Chi pun bisa diwariskan hingga selamanya dari generasi ke generasi. Tzu Chi bukan hanya menjaga warga Taiwan, tetapi juga menyalurkan bantuan ke berbagai negara, seperti Filipina.

Ada banyak negara yang telah kita jangkau. Mari kita bersungguh-sungguh melakukan inventarisasi dan menyusunnya menjadi kitab sejarah Tzu Chi. Apakah kalian bertekad untuk melakukannya? (Ya.)
Memiliki tekad jauh lebih penting. Dengan adanya tekad, barulah kita akan berusaha semaksimal mungkin. Kitab sejarah ini dibutuhkan oleh seluruh umat manusia. Di masa mendatang, kita harus membina orang-orang yang memiliki semangat kemanusiaan. Di antara segala sesuatu di dunia ini, manusialah yang paling bernilai.
Untuk menjadi Bodhisatwa, kita harus memulai langkah dari mkahluk awam. Untuk mencapai kebuddhaan, kita harus memiliki hati Bodhisatwa dan mempraktikkan Dharma. Di sinilah letak nilai kehidupan manusia. Tanpa manusia dan alam manusia, tidak akan ada hati Bodhisatwa. Hendaklah kita menunjukkan hakikat sejati kita, yakni hakikat kebuddhaan yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap orang. Setiap orang bisa mencapai kebuddhaan.
Bersyukur dan membalas budi hingga menciptakan siklus kebajikan
Mengatasi berbagai kesulitan dengan welas asih dan kebijaksanaan
Seruan Master selalu mendapat respons hangat dari semua orang
Menjalankan ikrar Bodhisatwa dan menyatu dengan hati Buddha
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 17 Maret 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 19 Maret 2026







Sitemap