Ceramah Master Cheng Yen: Menolong Semua Makhluk secara Luas dan Menjalin Jodoh Baik
“Angpau berkah dan kebijaksanaan ini menekankan sila, samadhi, dan kebijaksanaan. Hal ini mengajarkan kita untuk memperlakukan orang dan setiap urusan dengan hati yang penuh rasa syukur. Jika dilakukan terus-menerus, kita pasti bisa menjalani hari-hari dengan penuh sukacita,” kata He Zong-rong, Wakil Kepala RS Tzu Chi Hualien.
“Selama ini, saya selalu menerima angpau ini langsung dari tangan Master dan para bhiksuni. Ini adalah pertama kalinya saya membuatnya sendiri. Sesungguhnya, hati saya benar-benar dipenuhi rasa syukur. Menerima angpau berkah dan kebijaksanaan tentu merupakan sebuah berkah dan jalinan jodoh yang istimewa,” kata Zhang Yu-xun, Wakil Kepala RS Tzu Chi Hualien.
“Setiap kali menerima angpau ini, saya tidak pernah menyangka ternyata di baliknya ada begitu banyak proses yang harus dilakukan. Hari ini adalah pertama kalinya saya ikut membuat angpau ini dan barulah saya tahu bahwa setiap bagiannya dikerjakan dengan sangat teliti,” kata Wu Ting-yi, relawan Tzu Chi.
“Ini adalah siklus 60 tahun Tzu Chi yang menandakan bagaimana setiap orang bergandengan tangan dan menyatukan hati. Saya berharap para Bodhisatwa di komunitas akan merasa senang ketika menerima angpau ini,” kata Zhou Mei-ying, relawan Tzu Chi.
Mengapa ada angpau berkah dan kebijaksanaan? Karena saya menerbitkan buku Kata Renungan Jing Si. Awalnya, Chiu Ko Publishing yang mencetak buku Kata Renungan Jing Si. Tidak disangka, saya mendapatkan royalti. Dari situlah saya mulai membagikan angpau ini kepada semua orang. Sejak tahun itu, tradisi ini terus dilanjutkan sampai sekarang.
Kini, royalti saya tidak lagi mencukupi sehingga para bhiksuni Griya Jing Si turut membantu saya. Dengan angpau ini, saya menjalin jodoh dengan kalian semua. Jadi, angpau berkah dan kebijaksanaan yang kalian terima di tahun baru ini hendaknya kalian hargai. Begitulah kehidupan. Dalam kehidupan duniawi, setiap kali ada hari raya, kita saling mendoakan dengan hati yang penuh sukacita.

Saya ingin mengatakan kepada semuanya bahwa semangat tahun baru itu seharusnya ada setiap hari. Setiap kali bertemu orang lain, hendaknya kita menyapa dan mendoakan mereka. Jika kita membiasakan diri untuk berbuat demikian, doa yang baik itu akan kembali pada diri kita sendiri. Ketika kita menjalin jodoh baik dengan orang lain, berkahnya pun akan kembali kepada kita sehingga kedua belah pihak sama-sama bahagia.
Seperti 60 tahun yang lalu, saya memberi tahu para ibu rumah tangga, "Ketika membeli sayur, sisihkanlah 50 sen." Mereka berkata, "Master, saya akan donasikan 15 dolar NT per bulan." Saya menjawab, "Saya tidak mau 15 dolar NT per bulan, saya hanya ingin 50 sen setiap hari." Mereka berkata, "Master, 50 sen dikali 30 hari juga 15 dolar NT." Saya menjawab, "Saya tahu dan bisa menghitungnya, tetapi yang saya inginkan ialah kalian menumbuhkan niat baik setiap hari. Setiap hari, kalian harus ingat bahwa kalian ingin berbuat baik dan menolong orang lain serta benar-benar menjalankannya. Dengan begitu, kalian akan memperoleh berkah." Jadi, saya ingin mengajak semuanya untuk berbuat bajik setiap hari.
Saat ini, kalian pasti juga menyisihkan uang ke dalam celengan bambu setiap hari. Baik 50 sen maupun 10 sen, itu tidak masalah. Dahulu, kita hanya membahas kemiskinan di Hualien, tetapi sekarang Tzu Chi sudah melangkah ke dunia internasional.
Kita telah menyalurkan bantuan kemanusiaan di 139 negara dan wilayah. Kita juga mengadakan baksos kesehatan di berbagai negara. Jadi, insan Tzu Chi menjalankan misi amal dan misi kesehatan sekaligus. Jika ada jalinan jodoh baik, kita juga akan mendirikan klinik gratis. Namun, jika jalinan jodoh belum matang, kita lebih dahulu membantu mereka yang kurang mampu.
Seiring makin matangnya jalinan jodoh, kita akan mengadakan baksos kesehatan, membangun sekolah, dan membangun klinik. Kita telah melakukan baksos kesehatan dan merawat pasien dalam jangka waktu yang panjang. Sekolah yang telah kita bangun pun mencakup sekolah khusus putri, sekolah menengah, dan sekolah dasar. Ini telah kita lakukan di berbagai negara.

Selain misi amal, misi pendidikan, dan misi kesehatan, yang paling membahagiakan belakangan ini ialah misi budaya humanis yang sudah mulai dijalankan di beberapa negara. Di Nepal, para relawan membuka kelas menjahit agar para perempuan dapat belajar menjahit dan bisa membuat baju yang bagus untuk dijual.
“Semua ini dibuat dari kain sari para gadis. Mereka mengeluarkan pakaian mereka sendiri, bukan untuk dibuang, melainkan untuk dimanfaatkan kembali. Mereka membuat selimut-selimut ini untuk dijual di pameran ini. Setiap karya memiliki kisahnya masing-masing. Kami mencatat setiap kisah dalam laporan dan membagikannya kepada para pembeli,” kata Guo Li-juan, relawan Tzu Chi.
“Sesungguhnya, kami mengajari mereka agar mampu mengelola kehidupan rumah tangga. Hal ini sangatlah penting. Mereka adalah generasi kedua. Jika kami membekali mereka melalui kelas menjahit atau program penghasilan tambahan, mereka bisa memperoleh pendapatan yang stabil. Dengan begitu, mereka pun mampu menabung dan fokus pada pendidikan anak-anak mereka yang masih kecil,” kata Wang Qi-zhen, relawan Tzu Chi Malaysia.
Di Nepal, kita sudah membimbing para perempuan agar bisa hidup mandiri. Mesin jahit di sana makin banyak, orang yang bisa membuat baju pun makin banyak. Inilah yang kita harapkan, yaitu dari bantuan darurat berkembang menjadi kemandirian, bahkan bisa membuka usaha sendiri. Sampaikanlah kepada semua orang bahwa praktik donasi 50 sen adalah metode yang baik untuk menolong orang lain. Inilah yang disebut dengan Dharma yang merupakan sumber kebajikan di dunia. Begitulah awal mula Tzu Chi berdiri.

Saya berharap setiap orang selalu mengingat cinta kasih di dalam hati. Hendaknya kita menumbuhkan niat baik setiap hari untuk berbagi praktik celengan bambu dengan orang lain hingga berulang kali. Bagaimanapun, semua perkataan yang kita ucapkan itu baik. Setelah hari ini saya menyampaikan kepada kalian, anggaplah ini sebagai awal baru setelah 60 tahun Tzu Chi. Ketika bertemu orang lain, sampaikanlah tentang Tzu Chi. Kita mengakumulasi tetes demi tetes donasi untuk berbuat bajik. Inilah tujuan saya terus mengingatkan tentang celengan bambu di tahun ini.
Terima kasih, Bodhisatwa sekalian. Sejak awal saya mendirikan Tzu Chi, kalian terus mendukung saya. Jumlah relawan kita pun makin banyak dan jangkauan bantuan kita makin luas. Awalnya, kita hanya memberikan bantuan sebulan sekali. Kini, kita bisa membantu mereka memperbaiki kondisi kehidupan secara perlahan. Dalam hubungan antarmanusia, kita saling berinteraksi dari kehidupan ke kehidupan.
Di kehidupan ini, mungkin kita semula tidak saling mengenal, tetapi kita memiliki jalinan jodoh. Saya membangkitkan tekad untuk mendirikan Tzu Chi sehingga kalian memiliki jalinan jodoh untuk bergabung dengan Tzu Chi serta bersedia mengeluarkan dana dan tenaga untuk menjalankan misi Tzu Chi. Inilah jalinan jodoh di antara kita. Kita tidak tahu sudah berapa banyak kehidupan jalinan jodoh ini terakumulasi. Kini, jalinan jodoh kita sangat matang. Kita telah melangkah bersama-sama di dalam Tzu Chi untuk menjalankan misi amal.
Hendaknya kita menjalankan Tzu Chi dari kehidupan ke kehidupan. Meski kita tidak bisa pergi ke setiap tempat, tetes demi tetes sumbangsih yang kita berikan akan mengalir ke dalam sungai dan lautan yang luas. Orang-orang berkata bahwa pahala yang tak terhingga seluas samudra.
Menyambut Tahun Baru Imlek dengan hati yang penuh sukacita
Menjaga niat bajik dan saling mendoakan
Menghimpun cinta kasih dengan menabung dana kecil setiap hari
Menolong semua makhluk secara luas dan menjalin jodoh baik
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 29 Januari 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 31 Januari 2026







Sitemap